Risiko

S Lainin Nafis
Karya S Lainin Nafis Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Februari 2016
Risiko

Sore tadi, ketika kelas tengah berlangsung, seorang peserta pelatihan tiba-tiba bertanya di luar materi yang sedang dibahas.

?

"Gimana sih caranya agar kita tidak diketawain ketika salah dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris?" keluhnya, "kan malu kalo kita diketawain mulu?"

?

Yah, pertanyaan yang kesekian puluh kali diajukan di kelas, meski kelas yang aku ampu tidak mengajarkan keahlian berbicara. Bahkan spesifikasi kelasku bisa dikatakan jauh dari permasalahan kemampuan berbicara.

?

Alih-alih menjawab pertanyaan semacam itu, aku biasanya mengajukan dulu sebuah pertanyaan kepada si penanya.

"Jika kamu menemukan temanmu salah dalam berbicara bahasa Inggris, apa yang kamu lakukan? membenarkannya atau malah mentertawakan?"

?

Dan hampir semua menjawab mentertawakan! Hebat ya bangsa ini, mau menertawakan tapi tidak siap menjadi yang sebaliknya. Siap menilai tapi tidak siap untuk dinilai. Siap memprotes tapi tidak siap diprotes. Siap mengusulkan tapi tidak siap melakukan. dan lain-lain.

?

Sehingga kesimpulannya (paling tidak kesimpulan saya), kita terlalu sering merasa mengenal orang lain lebih baik ketimbang mengenal diri kita sendiri.

?

Setelah mendudukkan persoalan dasar tersebut. Menunjukkan bahwa belajar adalah masalah SIKAP, barulah saya menjelaskan kepada penanya bahwa belajar berbicara menggunakan bahasa Inggris selalu menghadapi risiko SALAH dan DITERTAWAKAN. Namun, persoalan apa di dunia ini yang tidak mengandung risiko? Semua hal ada risikonya. Terkadang, semakin besar risiko yang dihadapi, semakin besar pula hasil yang akan dicapai.

?

Keberanian kita menghadapi risiko sangat bergantung pada motivasi yang kita miliki. Semakin besar motivasi kita terhadap sebuah capaian, semakin besar pula keberanian kita menghadapi risikonya.

?

Hal ini kembali mengingatkan saya pada sebuah tulisan menarik di buku The Power of Learning Styles-nya Barbara Prashnig.

?

?

?

RISIKO

  • Tertawa berarti menghadapi risiko tampak bodoh.
  • Menangis berarti menghadapi risiko tampak cengeng.
  • Mengulurkan tangan kepada orang lain berarti menghadapi risiko terlibat dengannya.
  • Mengungkapkan perasaan berarti menghadapi risiko menunjukkan diri Anda yang sebenarnya.
  • Mengemukakan gagasan-gagasan dan mimpi-mimpi Anda di depan orang banyak berarti menghadapi risiko kehilangan gagasan dan impian itu.
  • Mencintai berarti menghadapi risiko dibalas dengan penolakan.
  • Hidup berarti menghadapi risiko mati.
  • Berharap berarti menghadapi risiko kecewa.
  • Berusaha berarti menghadapi risiko gagal.

?

Namun, risiko harus diambil sebab bahaya terbesar dalam hidup adalah tidak menghadapi risiko apapun.

?

Orang yang tidak menghadapi risiko apapun, tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan apa-apa.

?

Dia mungkin bisa menghindari penderitaan dan kesedihan, tetapi dia sama sekali tidak bisa belajar, merasakan, berubah, berkembang, mencintai, dan ... hidup.

Terbelenggu oleh keyakinannya sendiri, dia justru menjadi budak: dia telah kehilangan kebebasannya.

?

Hanya orang yang mau menghadapi risikolah yang bebas.

?

[Anonim]

?

?

Maka, beranilah menghadapi risiko hidup Anda!

  • view 74