Accept

S Lainin Nafis
Karya S Lainin Nafis Kategori Psikologi
dipublikasikan 16 Februari 2016
Accept

Wanita itu menutup telponnya dengan sumpah serapah. Hampir saja handphone di tangannya ia lemparkan. Seandainya saja ia tidak ingat bahwa handphone mewah itu baru berumur delapan hari di tangannya. Sejurus kemudian ia tertunduk dan mulai terisak.

Seminggu sudah perempuan itu tenggelam dalam kekalutan. Warna pias selalu tampak di wajahnya. Tidak seperti biasa, dia tidak berani bertatap mata saat berbicara. Serambi di samping kantor yang sepi menjadi tempat favorit barunya. Kami bekerja di kantor yang sama. Divisi yang sama. Bahkan ruangan yang sama. Namun aku tidak cukup mengenalnya. Perbincangan kami sebelumnya hanya seputar urusan kantor. Itulah mengapa aku tidak bisa mencari tahu lebih jauh lagi mengenai masalah yang dia hadapi. Aku hanya bisa melihat mendung itu dari meja kerjaku.

?Perempuan itu sedang menghadapi masalah dengan suaminya!? begitu yang aku dengar dari bisik-bisik rekan kantorku.

Senin pagi ini, wajah sayunya berganti merah menyala. Dia tidak pernah berhasil menyembunyikan amarah di matanya. Aku masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya tak peduli, tapi mendekatinya dan bertanya berarti mengusik singa yang terluka. Yang bisa aku dan rekan kantor lainnya lakukan hanyalah bekerja tanpa sedikitpun mengganggu privasinya.

Seorang wanita ketika menghadapi sebuah masalah besar selalu menyimpan teka-teki yang unik bagiku. Bukan berarti aku senang melihat seseorang dalam masalah besar. Mereka memiliki semacam unpredictable attitude.

Aku jadi teringat seorang psikolog ? di salah satu acara televisi swasta ? mengemukakan bahwa proses self-healing pada diri seorang perempuan bermuara pada penerimaan (accept). Meskipun begitu, ada tiga fase lain yang biasanya muncul sebelum fase terakhir (penerimaan) tercapai.

1. Fase Deny
Ketika sebuah permasalahan mulai timbul, seorang perempuan cenderung mengabaikan (deny). Tidak mengakui bahwa ada masalah di hadapannya. Menolak beranggapan bahwa dirinyalah yang bermasalah.
Pada fase ini, perempuan berusaha membangun opini ? terutama untuk diri sendiri ? bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa orang lainlah yang bermasalah. Ia berusaha menegaskan bahwa lingkunganlah yang tidak beres. Bukan dirinya!

2. Fase Anger
Pada suatu titik ketika segala opini yang mencoba dibangunnya sekuat tenaga mulai runtuh. Ketika mau tidak mau dia harus mengakui bahwa dirinya mengalami MASALAH. Ketika pengakuan itu mutlak terjadi. Timbul rasa marah di dirinya. Alih-alih marah dengan sebab yang jelas dan terarah, dia melemparkan kemarahan membabi-buta. Terkadang marah pada orang lain, orang tua, saudara, teman, anak dan diri sendiri. terkadang marah pada kondisi yang membelenggunya. Dan parahnya lagi, pada beberapa kasus kemarahan secara tegas ditujukan kepada tuhannya.
Kemarahan itu sebagai bentuk pelampiasan atas masalah yang sedang dihadapinya.

3. Fase Under Pressure
Segala bentuk kemarahan cepat atau lambat akan berujung pada sebuah titik balik. Anti klimaks. Pada fase ini perempuan akan merasa jatuh. Tertekan. Dia lebih sering merenungi nasib. Bersedih. Merasa sebagai manusia yang paling malang.

Setelah mengalami tiga fase tersebut, biasanya mereka belajar dari banyak hal atau tidak sama sekali! Bagi mereka yang belajar dari kesalahan, muncul sebuah kesadaran untuk membenahi diri, lingkungan dan cara pandangnya. Inilah pintu menuju sebuah penerimaan.

Sedang bagi mereka yang tidak sadar. Bahkan menyimpan dendam. Maka mereka tidak belajar apapun. Bahkan semakin mengecilkan diri mereka.

Seberapa cepat penerimaan (ikhlas) itu tercapai tergantung seberapa lama mereka berada pada tiap fase. Semakin cepat seseorang mencapai penerimaan. Semakin cepat pula pemulihan diri ditambah dengan pelajaran yang baru saja dia pahami. Kearifan baru yang dimiliki.

Lalu, seberapa cepatkah anda belajar untuk menerima?