Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 12 Februari 2016   17:01 WIB
Kebaikan

Suatu kali yang belum lama, aku mengantarkan keponakanku yang masih kelas dua sekolah dasar berangkat ke sekolah. Ceritanya sekalian bernostalgia dengan lingkungan sekolahku masa kecil dulu. SD Negeri Satu Pecangaan.

?

Tentu saja aku berpapasan dengan banyak orang tua lain yang juga mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Namun yang paling mengusik benakku pagi itu adalah seorang bapak bertubuh kekar yang mengantarkan anaknya yang usianya kira-kira sama dengan keponakanku. Badannya terbungkus pakaian berbahan jeans warna biru dan tanpa lengan. Celana yang ia kenakan pendek saja. Hanya sebatas lutut dengan kantong besar di kedua sisinya.

?

Rambutnya pendek agak keriting. Kulitnya hitam karena seringnya terbakar matahari. Tampaknya dia belum sempat merapikan dirinya ketika hendak berangkat mengantarkan sang anak. matanya yang pucat dan lipatan pada pipinya menunjukkan lelah kerja semalaman yang belum sepenuhnya terbayarkan.

?

Aku tidak mengenalnya secara pribadi. Hanya sering melihatnya di sekitar terminal dan pasar di kampungku. menjadi kuli angkut, preman, calo atau apapun yang bisa dikerjakannya setiap hari. Orang-orang cenderung menghindari berurusan dengannya. Karena kehidupannya yang keras, tentu membawa pengaruh pada gaya komunikasinya yang kasar. Tampaknya orang-orang yang menghindarinya menganggap tak ada kebaikan yang bisa didapatkan dari sosok kekar tersebut.

?

Yang membuatku merasa simpati pagi itu adalah kesediaannya memutus dan menunda waktu istirahatnya demi mengantarkan sang anak ke sekolah. Meski keras dan pekatnya kehidupan yang dia hadapi, dia masih memiliki harapan terang buat sang anak. Tampaknya sang anak sedang dipersiapkan untuk membawa kebaikan atau paling tidak perbaikan nasib di masa datang.

?

Disini aku merasa bahwa setiap orang di dunia, tidak peduli apa dan bagaimana kehidupannya, pasti masih memiliki sisi baik dalam hatinya. Senantiasa berusaha menjadi baik di masa datang, jika bukan dirinya, pasti untuk keluarganya. Bedanya hanya soal besar kecilnya usaha menjadi lebih baik dan atau ada tidaknya kesempatan yang diberikan oleh lingkungannya untuk membuktikan perbaikan dirinya.

?

Peristiwa beberapa waktu yang lalu tersebut tiba-tiba kembali menyeruak ke dalam benakku sore tadi. Tidak dalam rasa simpatik yang sama, tetapi bahkan lebih besar.

?

Ceritanya, waktu aku hendak berangkat ke kampus yang berjarak setengah jam dari rumah. Aku mengendarai sepeda motorku dengan pelan menyusuri jalan kampungku. Ketika lewat depan madrasah dinniyah di kampungku, aku melihat bapak bertubuh kekar tersebut sedang mengantarkan anaknya ke sekolah dinniyah. Masih dengan gaya berpakaian yang sama, namun kali ini wajahnya nampak lebih segar. Sang anak turun dari motor, mencium tangan sang bapak kemudian berlari menuju teman-temannya setelah sang bapak membetulkan posisi kopiyahnya yang sedikit kebesaran.

?

Sungguh, situasi yang baru saja kutemui tersebut bermain-main di benakku sepanjang perjalanan. Bahkan ketika aku memasuki kelas dan sudah berinteraksi dengan peserta tentang materi yang sedang kami bahas, pikiran itu masih sesekali timbul.

?

Aku makin meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki kebaikan dalam dirinya. Meski terkadang kebaikan tersebut muncul pada sisi-sisi yang tidak dilihat oleh orang lain. Tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan dirinya menjadi lebih baik.

?

Terkadang yang mencegah terjadinya kebaikan bukanlah karena tidak adanya keinginan melainkan karena tidak tahu caranya melakukan kebaikan.

?

Maka, penting sekali untuk menunjukkan bahwa berbuat baik itu wajar. Tidak perlu bertanya mengapa!

Karya : S Lainin Nafis