Menjadi Bodoh Itu Menyakitkan!

S Lainin Nafis
Karya S Lainin Nafis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Menjadi Bodoh Itu Menyakitkan!

Kalimat pendek itu masih sering terlintas di benakku. Sampai saat ini. Bertahun-tahun sudah sejak aku mendengarnya pertama kali. Aku bahkan tidak ingat lagi kapan dan mengapa kakak sulungku mengatakannya padaku. Yang bisa kuingat hanya waktu itu aku masih berseragam putih abu-abu.

?

?Menjadi bodoh itu menyakitkan!? katanya mantap.

?

?Contoh sederhananya begini fis,? dia mencoba menjelaskan ?kamu berada di antara empat temanmu yang sedang asyik membicarakan sepak bola dan tim kesayangan mereka. Nama-nama pemain yang dijagokan, strategi pelatih, gol yang kontroversial, sampai nomor punggung mereka perdebatkan. Nah! Kamu tidak suka nonton bola kan? Apalagi sampai tahu seluk-beluk yang sedang dibicarakan temanmu. Dalam hal sepak bola kamu bodoh fis, kamu tidak tahu apa-apa! Bayangkan bagaimana perasaanmu saat itu??

?

Tidak perlu waktu lama untuk membayangkan seperti apa kondisinya, aku langsung bisa merasakan sakit itu. Namun rasa sakit itu berbeda dari biasanya, bukan mengaduh sakit, bukan marah, bukan benci, bukan dendam. Rasa sakit yang menyiksa itu adalah kecemburuan, iri dan terutama penyesalan mengapa aku tidak bisa menikmati perbincangan seru tersebut.

?

Rasa sakit yang sama juga terjadi ketika aku mendengar orang Sunda, Madura ataupun Makassar di sekitarku berbicara menggunakan bahasa daerahnya. Yang tentu saja tak ku mengerti sama sekali. Maklum, sebagai seorang pelancong amatiran, aku hanya mampu berbahasa Jawa, bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris. Namun aku menyadari betul bahwa tidaklah tepat menyalahkan mereka. Sebab semua ini disebabkan ketidaktahuanku, kebodohanku.

?

Dulu, ketika aku masih belum bisa mencerna kalimat pendek tersebut, apalagi menjadikannya sebagai cambuk bagi diriku sendiri, jangan coba-coba menggangguku dengan bertanya masalah hukum atau politik. Bukan hanya tidak tahu apa-apa, aku bahkan tidak mau tahu dinamika politik dan masalah hukum. Sering merasa risih mendengar orang-orang membicarakannya, malah.

?

Sebut saja dunia antropologi, permasalahan ekonomi terkini, perseteruan antar budaya, perkembangan pemikiran dunia; Islam dan terutama filsafat, dan banyak lagi hal-hal yang aku acuhkan.

?

Namun seiring dengan sikap acuhku terhadap mereka dan semakin meluasnya ranah kehidupan yang aku jalani, mereka telah benar-benar menyiksaku dalam kebutaan. tentu saja aku tidak harus mengetahui semua hal tersebut, apalagi memaksa diri sendiri untuk menguasainya. Tetapi paling tidak rasa sakit yang ditimbulkannya mampu memaksaku untuk berubah. Aku menjadi lebih peduli terhadap banyak hal. Belajar banyak ilmu, kapan dan dimana saja.

?

Membaca! Ya?. ternyata kebiasaan membaca mampu melepaskanku dari belenggu itu. Sedikit demi sedikit tapi pasti. A Time to Kill ? novel karya John Grisham ? membuatku berkenalan dengan dunia hukum. Pahlawan Pahlawan Belia ? karya Saya Sahaki Siraishi ? membuatku jatuh hati pada dunia antropologi. Buku-buku karya Hermawan Kartajaya melenakanku dengan konsep-konsep ekonominya. Dunia Shopie nya Jostein Gaarder membuat dunia filsafat menjadi lebih menarik. Arok Dedes ? Pramoedya Ananta Toer ? merubah ketertarikanku pada sejarah kerajaan di Indonesia. Dan keyakinanku adalah jika aku tidak menghentikan kebiasaan membaca, maka akan banyak hal baru yang menarik buatku. Dan membuatku terlepas dari rasa sakit itu.

Menjadi bodoh itu menyakitkan!

  • view 109