SURAT UNTUK DHIRA

agung purnama
Karya agung purnama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 September 2016
SURAT UNTUK DHIRA

Hujan semalam menyisakan pagi yang indah. Tapi sayang, sisa airnya hanya terlihat di daun dan batang pohon. Tanah yang sudah berlapis aspal tidak pandai merayu air hujan untuk hinggah sejenak. Padahal hujan adalah ibu dari segala tumbuhan yang ada di semesta. Sungguh anugerah yang telah di sia-siakan.

~~~~

“ pos...pos...” teriak kurir pos.

“ iya pak sebentar..” teriak ku membalas teriakan kurir pos.

Aku langsung bergegas keluar, tidak mau membuat pak pos menunggu lama.

“ betul dengan mbak dhira?”

“ iya pak saya sendiri.”

“ ini ada surat buat mbak, minta tanda tangannya juga disini mbak.” Kata pak pos sambil menyodorkan secarik kertas tanda terima untuk aku tanda tangani. Aku pun langsung tanda tangan.

“ makasih ya pak.”

“ iya mbak sama-sama.”

Pak pos langsung kembali menjalankan tugasnya untuk mengantar surat lainnya, ditemani sepeda kumbangnya yang ia kayuh dengan perlahan mulai hilang ditelan pengkolan jalan.

~~~~

Kini yang tersisa hanya aku dan surat yang tidak bernama, tapi disana tertera alamat surat pengirim. Aku taruh surat itu dimeja jati dengan ukiran klasiknya. Aku ingin segera membaca surat itu. Tapi aku butuh seorang teman. Aku pergi kedapur untuk membuat secangkir teh. Setelah teh tersaji, aku duduk di kursi, ku taruh teh di meja jati, aku ambil surat di meja, aku buka, dan mulai aku baca.

~~~~

 Teruntuk Dhira Sayang.....

Dhira sayang, maaf aku baru menulis surat ini untuk mu, setelah sekian lama aku dan kamu tidak bertemu aku merasakan rindu yang begitu menyiksaku, semoga surat ini bisa sebagai penawar rindu itu. Dhira sayang, aku ingin mengenang kembali diskusi tentang sebuah masa depan yang pernah di bicarakan, masa depan yang aku dan kamu impikan untuk melewatinya bersama-sama.

Masih ingat kah sebuah diskusi tentang rumah? Aku sempat bilang kepadamu kalau kelak nanti aku dan kamu menjadi suami istri, aku tidak ingin memiliki sebuah rumah. Waktu itu kamu merasa heran, mungkin keinginanku diluar ke laziman setiap pasangan suami istri lainnya. Setiap rumah tangga selalu berharap sebuah rumah, tempat untuk pulang, tempat untuk berteduh dari panas dan hujan, tempat untuk melindungi aib saat pertengkaran terjadi, tempat pelindung malu saat asmara menanggalkan bajunya. Itu adalah pendapatmu tentang rumah, mencoba untuk memintaku agar aku memikirkan kembali secara bijak tentang sebuah rumah.

Dhira sayang, jelas aku setuju dengan pendapat mu itu, tapi aku tidak membutuhkan sebuah rumah untuk pulang, alasan ku untuk pulang bukan rumah, tapi kamu. Aku dan kamu tidak perlu memilikinya jika sekedar untuk berteduh dari panas dan hujan. Percaya padaku dhira sayang, aib rumah tangga tentang pertengkaran yang terjadi tidak akan pernah terdengar oleh tetangga, walaupun tanpa sebuah dinding penghalang yang kokoh. Teriakan amarah ku akan senyap oleh kelembutanmu. Kalaupun asmara mulai nakal dan berani menanggalkan bajunya, sunyi nya malam akan mampu menjadi tirai penutup malu. Kamu masih ingat dhira? Saat kamu mendengar penjelasan ku ini, kamu hanya tersenyum. Dan menuduhku sedang mabuk.

Dhira sayang, rumah bagiku hanya menjadi penjara batiniah, sebab dari jiwa yang lemah, penuntut yang kejam saat kita berkelana. Aku dan kamu adalah sepasang sayap yang siap terbang untuk menjadi pengembara yang ulung, dimanapun kita singgah itu akan menjadi rumah kita walaupun kita tidak memilikinya. Saat mendengar uraianku yang kedua ini kamu mulai setuju, dan berkata dengan lilrih “ aku percayakan hidupku kepadamu”. Apa kamu masih ingat itu dhira sayang?

Kamu mulai bertanya kepadaku, apakah kamu dan aku mampu terus terbang sampai waktu maghrib tiba? Saat senja memberi pertanda kalau kamu dan aku sudah menua. Aku hanya ingin terus terbang sampai waktunya tiba, tak mampu lagi untuk terbang. Sesuatu yang sudah pasti datang, tidak pantas untuk di tunggu sayang. Biarkan ia datang.

Selain rumah aku dan kamu berdiskusi tentang anak. Aku dan kamu tidak berbeda soal jumlah, karena percaya anak adalah amanah yang di anugerahkan sebagai penyempurna rumah tangga. Aku pernah sesumbar ingin mengajarkan mereka secara langsung bagaimana membaca, menulis dan berhitung. Aku tidak pernah sepenuhnya percaya tentang institusi belajar yang bernama sekolah. Karena kadang aku menduganya mereka mirip dengan perseroan terbatas. Orientasi tentang angka, jika ingin mendapatkan yang terbaik. Jika pun tidak membayar mereka menginginkan sebuah pengabdian, ya, pengabdian sebagai alat untuk tujuan mereka. Harusnya belajar memberi sebuah kemerdekaan, bukan sebuah perbudakan.

Dhira sayang, waktu itu wajahmu langsung memasang muka tidak setuju, jujur aku senang dengan wajah itu, karena hal itu telah memberitahuku kalau kamu perempuan yang punya visi untuk anak-anaknya. Ruh keibuan mu muncul. Kamu bilang kepadaku agar mempercayakan anak-anak kepadamu. Termasuk dalam hal pendidikan. Kamu menginginkan sebuah pendidikan yang mengajarkan tentang pengetahuan dan agama, semua diajarkan seimbang. Kamu bilang ingin menjadikan anak-anak sebagai generasi qur’ani, entah nanti ia bergelar budayawan, sosiolog, ahli tekhnologi ataupun lainnya. Tapi kamu bilang, jika memang kamu boleh memaksakan kehendakmu tentang masa depan untuk anak-anak mu, kamu menginginkan anak-anak mu cenderung seperti pak habibie, karena kamu berpendapat negeri ini butuh lebih banyak generasi yang pandai dalam mengembangkan tekhnologi.

Dhira sayang, andai semua ibu anak dari generasi negeri ini punya visi dan misi sepertimu mungkin tidak perlu waktu lama negeri ini menjadi negeri yang maju.

Aku dan kamu juga berdiskusi tentang sebuah pekerjaan. Apa yang sebaiknya aku dan kamu kerjakan untuk sekedar bertahan hidup. Kamu bilang, tidak mau apa yang kita perjuangkan menjadi sebuah tumpuan untuk mencari uang, bukan lah perjuangan jika apa yang kita perjuangkan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, tapi kita sedang mencari hidup.

Mendengar penjelasan mu itu jujur aku terpukau, aku makin yakin tidak pernah salah telah melibatkan dirimu dalam kehidupan batiniahku, terlebih aku dan kamu punya tujuan mulia untuk bersama-sama melewati suka duka nya panggung dunia.

Dhira sayang, aku rindu masa-masa itu, apakah kamu juga merindukan hal yang sama?

 

Salam sayang

 

Kekasih mu

~~~~

Aku minum teh yang sudah mulai dingin, aku hanya diam setelah membaca surat itu. Aku lihat berulang-ulang alamat si pengirim. Mencoba mengingat, apa aku tahu dengan alamat itu. Tapi aku yakin aku tidak pernah tahu alamat itu. Apalagi aku baru menginjakan kaki di kota ini dua bulan yang lalu. Apakah pengirimnya pacar ku? Dan  Sengaja ingin iseng, Ah tidak mungkin, ini zaman dimana surat cinta sudah punah. Lagi pula isi surat itu bukan apa yang telah aku alami. Dan isinya cukup serius. Bukan sebuah candaan.

~~~~

 Ke esokan harinya surat itu datang lagi. Dengan isi yang sama, hal itu terjadi berulang-ulang selama seminggu. Sebenarnya sejak awal menerima surat itu aku sudah penasaran, daripada aku terus bertanya-tanya siapa pemilik surat itu dan tidak menemukan jawaban, maka aku putuskan untuk mendatangi alamat tersebut. Aku sengaja tidak memberitahukan pacarku, aku hanya takut ia merasa tersinggung ada orang lain yang mengirim surat cinta kepada pacarnya.

~~~~

Hari ini kantorku libur, aku putuskan untuk menghampiri alamat sang pengirim surat. Aku keluarkan ponsel genggamku yang ada di tas, aku tekan tombol untuk memesan taxi. Sebelum taxi datang aku bersiap-siap mengganti pakaian. Celana jeans biru dongker dengan sebuah sobekan dibagian lutut yang aku kombinasikan dengan kaos dengan warna sengaja aku pas kan dengan celana jeans. Walaupun simple keserasian buat seorang perempuan itu suatu keseharusan.

~~~~

Tidak lama setelah aku mengganti baju, taxi pun datang. Aku langsung masuk dan menunjukan sebuah alamat kepada sopir taxi. Sopir taxi pun langsung menjalankan taxinya setelah tahu alamat mana yang harus di tuju. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap surat yang bagi ku sangat misterius ini. Benar, surat itu untuk dhira, dan namaku adalah dhira. Tapi kisah yang ia ceritakan jauh sekali dengan kehidupanku. aku hanya punya satu mantan dan tidak pernah bercerita tentang rumah, anak, dan lainnya yang tertulis di surat itu.  Pacar ku yang sekarang? Ah apalagi, kami tidak pernah berbicara tentang masa depan, bukan kami berdua tidak serius dalam sebuah hubungan, kami hanya terlalu takut mimpi dan harapan kami hanya akan menjadi bom waktu untuk membuat kami berdua makin terpuruk saat pertemuan menemui ajalnya.

~~~~

“  berapa lama lagi pak kita sampai?” tanyaku kepada sopir taxi.

“ kalau di depan tidak macet sekitar 20 menit lagi mbak.” Jawab supir taxi.

“ tapi hari libur biasanya tidak terlalu macet, soalnya arah yang kita tuju kan bukan jalur untuk liburan.” Tambah supir taxi.

“ owh iya, syukurlah kalau gitu.” Kata ku dengan so tahu kalau memang jalur yang kami lewati bukan jalur ke tempat liburan.

“ mau jenguk saudaranya ya mbak? Mau mampir dulu buat beli buah-buahan?” kata supir taxi seolah-olah ia sudah tahu tempat yang aku tuju itu tempat apa.

“ mmmm... tidak usah pak, iya mau jenguk saudara.” Aku terpaksa berbohong, padahal aku sendiri belum tahu itu alamat apa dan siapa, dan mustahil kalau aku harus cerita tentang surat itu. Tapi aku penasaran, pak sopir taxi ketika bertanya tentang mau menjenguk dan mau beli buah-buahan seolah-olah tempat yang aku tuju itu adalah sebuah rumah sakit, atau lebih parah lagi, tempat itu adalah penjara. Ah tempat apa itu sebenarnya. Dan siapa orang yang menulis surat ini.

~~~~

Dua puluh menit pun sudah berlalu, tapi taxi ini belum juga berhenti. Dan itu pertanda aku memang belum sampai. Padahal supir taxi tadi bilang sekitar dua puluh menit lagi jika lancar. Sepanjang perjalanan tadi lancar, tidak ada hambatan, kecuali kami berhenti jika memang lampu lalu lintas menunjukan lampu berwarna merah. Tapi tidak lama kemudian taxi yang aku tumpangi masuk ke sebuah tempat yang mirip dengan sebuah rumah sakit, aku tidak protes, karena salahku tadi yang sudah pura-pura bahwa aku tahu tempat apa tujuanku. Aku mencocokan alamatnya, ternyata benar, ada sebuah plang, di plang tersebut tertulis alamat yang sama di amplop surat.

“ kita sudah sampai mbak.” Kata pak supir taxi.

Aku kaget, tidak percaya kalau surat ini berasal dari tempat ini.

“ mbak...” kata pak supir taxi lagi.

“ oia pak maaf, malah melamun.” Jawab ku.

Aku bayar taxi, aku langsung turun. Walaupun dengan hati yang penuh keraguan, apakah misi untuk mengetahui pengirim surat ini terus dilanjutkan atau berhenti disini. Aku lebih memilih untuk melanjutkan misi ku ini. Aku langsung menuju ruang informasi.

“ assalamu’alaikum....” kata ku kepada penjaga bagian informasi.

“ wa’alaikumussalam.... ada yang bisa kami bantu mbak?” tanya seorang perempuan yang sedang bertugas. Senyumnya penuh dengan keramahan.

“ iya mbak bilqis, saya mau menanyakan perihal pengirim surat ini.” Kataku.

Ku serahkan surat itu kepada penjaga yang bernama bilqis. Aku tahu namanya dari name tag yang menempel di seragam  yang ia kenakan. Walaupun ia berkerudung, aku tetap bisa melihat name tag-nya karena kerudungnya sengaja di masukan kebagian dalam kerah bajunya.

“ oia mbak, maaf mbak dengan....?”

“ oh... saya dhira mbak.”

“ oia mbak dhira, mbak tunggu sebentar, biar nanti saya coba tanyakan dulu.”

“ iya mbak enggak apa-apa, makasih sebelumnya.’

“ iya mbak, sama-sama.” Jawab bilqis penjaga bagian informasi.

Aku duduk di sebuah kursi yang tidak bisa dikatakan bagus, tapi cukup terawat. Aku melihat bilqis seperti menelepon seseorang dengan telepon genggamnya, kenapa ia tidak menggunakan telepon rumah sakit yang tersedia di mejanya? Ah aku mulai usil dengan urusan orang lain, mungkin dia sedang ada keperluan pribadi, jadi tidak menggunakan fasilitas kantornya.

~~~~

Aku mengalihkan keusilanku dari bilqis ke hal disekeliling. Tidak jauh dari tempat ku duduk ada sebuah taman kecil, ditaman itu ada seorang perawat yang sedang mengarahkan pasien untuk bersih-bersih, ada pasien yang hanya duduk saja, sambil menggerutu, ada pasien yang sibuk menengadahkan kepalanya ke atas langit seperti sedang menantang matahari. Seberapa besar kah beban hidup mereka? Sehingga jiwanya terguncang, dan mengantarkan mereka berada di tempat ini.

~~~~

“ mbak dhira.... mbak dhira.”

Seseorang memanggilku, dan memecahkan renunganku.

“ iiiaa mbak.” Jawabku.

Ternyata bilqis yang memanggilku. Ada seorang lelaki yang berdiri disampingnya. Aku menghampiri bilqis.

“ mbak dhira, perkenalkan ini pacarku Aryo.”

“ dhira.”

“aryo.”

Kami saling berjabat tangan mengenalkan diri satu sama lain. Bilqis mulai menangkap kebingungan ku, yang seolah-olah meminta penjelasannya, kenapa ia memperkenalkan pacarnya kepadaku.

“ aryo ini, sahabat dari yang menulis surat untuk mbak.”

Kebingungan ku mulai terjawab.

“ maaf mbak sebelumnya, saya benar-benar minta maaf atas surat yang mengganggu mbak.”

Kata aryo, dengan wajah yang menunjukan rasa bersalah dan penuh dengan penyesalan.

“ enggak apa-apa mas, saya kesini hanya penasaran saja, siapa penulis surat ini.” Kataku kepada aryo.

Aku berusaha untuk menetralisir rasa bersalahnya. Toh aku memang tidak pernah merasa terganggu dengan surat ini. Aku hanya penasaran kenapa ia bisa mengirim ke alamat rumah ku. Dan persis atas nama ku. Hanya saja isi dari surat itu tidak pernah aku alami sama sekali.

~~~~

“ terimakasih mbak atas kebesaran hati mbak.” Kata aryo.

“ iya mas, santai ajah, lalu teman mas yang menulis surat ini dimana?” tanyaku.

“ maaf mbak sebelumnya, mbak tinggal di alamat mbak saat ini sudah brapa lama?” tanya aryo.

“ saya baru dua bulan tinggal di kota ini, dan baru dua bulan juga tinggal dirumah itu, kenapa mas?”

“enggak mbak, dulu alamat rumah mbak yang saat ini mbak tempati adalah alamat rumah pacar teman saya, namanya dhira juga.”

“ oh...pantes, kok bisa kebetulan yah.” Kataku sambil tersenyum, seperti menemukan sebuah titik terang dari rasa penasaranku.

“ emangnya teman mas enggak tahu kalau pacarnya sudah tidak tinggal disana lagi?” tanyaku lagi.

Aryo tersenyum dengan pertanyaanku itu. Entah senyum itu menggambarkan suasana hati seperti apa, hanya aryo yang tahu.

“ mbak tahu berita pesawat yang jatuh ke samudera dan hilang tidak ditemukan?” tanya aryo.

“ itu sekitar setengah tahun yang lalu kan?” tanyaku berusaha untuk mengingatnya.

“ iya mbak, dhira ada di dalamnya, ia bekerja sebagai pramugari di maskapai pesawat yang jatuh tersebut.”

“ hmmm.... maaf, saya ikut berduka.”

“ iya mbak, enggak apa-apa.”

“ oia, teman mas kenapa memakai alamat rumah sakit ini?dia bekerja disini?”

“ oh.. itu saya yang tulis alamat sini mbak.” Kata bilqis.

“ iya mbak, saya yang nyuruh bilqis untuk menulis alamat rumah sakit ini ajah, tanpa pemberitahuan kalo alamat ini adalah alamat rumah sakit.” Kata aryo.

“ kenapa?”

“ dimas suka ngamuk-ngamuk mbak kalau suratnya belum dikirim.” Kata bilqis.

“ dimas? Ngamuk-ngamuk?” tanyaku, penuh dengan kebingunan.

Bilqis menatap pacar nya,memberikan isyarat agar aryo yang menjelaskan.

“ gini mbak, dimas itu adalah pacar alm.dhira, ia suka mengamuk kalau surat itu kalau tidak dikirim, entah dia tahu dari mana, pas kami berbohong suratnya sudah dikirim ia ngamuk-ngamuk dan bilang kami telah berbohong.” Kata aryo berusaha menjelaskan kepadaku.

“ jadi...?” aku ragu untuk menyimpulkan dari penjelasan aryo itu. Tapi untungnya aryo bisa menebak apa yang aku pikirkan.

“ iya mbak, dimas bukan kerja disini, tapi ia pasien dirumah sakit ini.”

Aku menghela nafas, ternyata surat yang aku terima selama ini penulisnya orang yang sedang terguncang jiwanya.

“ boleh saya melihat dimas.” Kata-kata itu keluar sendiri dari mulutku.

Misiku hanya ingin tahu siapa penulis surat yang selama ini dikirimkan kepadaku. Dan penjelasan dari bilqis dan aryo sebenarnya sudah mejawab semuanya. Tapi entah kenapa, saat ini aku tidak hanya ingin tahu si penulis surat, aku ingin mengenalnya.

“ tentu boleh mbak.” Kata aryo.

“ sayang coba minta izin ke bagian penjaga piket, sama minta kuncinya” Kata aryo kepada bilqis.

“ oke beb..” jawab bilqis.

Aku hanya tersenyum, tepatnya menahan tawa.

Bilqis tidak ikut mengantar, karena ia sedang piket menjaga pos informasi. Aku hanya ditemani aryo dan suster perawat.

~~~~

Kami menelusuri lorong rumah sakit, kamar demi kamar kami lewati. Kami terhenti dikamar 17AP. Suster membuka kunci kamar. Ketika pintu terbuka, aku melihat sesosok pemuda yang sedang duduk diatas ranjangnya. Kertas berserakan dimana-mana, suster dan aryo mengumpulkan kertas-kertas itu, aku ikut membantu, pemuda itu seperti tidak terganggu dengan kehadiran kami. Ia hanya berkata “dhira sedang menyelam, dia tidak hilang, dia tidak meninggal”.

Sambil mengumpulkan kertas itu aku sengaja membaca sekilas, ada beberapa dari kertas itu yang bertuliskan seperti surat yang aku dapatkan. Ada juga yang berbeda, ah mungkin suatu saat surat-surat lainnya akan sampai juga ke rumahku. Pikirku dalam hati.

“ sudah mbak, biar kami saja yang membereskan.” Kata suster.

“ iya mbak dhira, biar kami saja.” Aryo menegaskan.

“enggak apa-apa kok, saya senang melakukannya.” Kataku sambil terus mengumpulkan kertas-kertas itu.

~~~~

Setelah semuanya beres. Aryo duduk disamping dimas, aku perkirakan usianya sekitar 27 tahun, 2 tahun lebih tua dariku. Tatapan dimas kosong, seperti tidak meyadari kehadiran kami.

“ hey... apa kabar ? aku kesini bawa teman baru, namanya dhira, namanya sama dengan dhira mu.”

“ hey dimas.” Kataku sambil ku usapkan tanganku ke tangannya. Aku anggap itu sebagai seubuah berjabat tangan.

Dimas masih terdiam, suaranya yang berkata “dhira sedang menyelam, dia tidak hilang, dia tidak meninggal” semakin tidak terdengar. Aku tidak mau mengganggu, aku ajak aryo dan suster untuk keluar, aku, aryo, dan suster pamit kepada dimas. Ketika aku hendak melangkah pergi Tiba-tiba saja dimas berkata “ dhira”. Aku, aryo dan suster berhenti, dan kembali menghampiri dimas. Dimas menatapku. Tatapannya kali ini tidak kosong. Tatapannya seolah memberitahuku, bahwa ia tidak gila, ia hanya terluka atas musibah yang menimpa kekasihnya.

~~~~

Dimas pria yang malang, ia tidak lemah, jangan memvonisnya lelaki lemah hanya karena cinta iya menjadi gila, dia tidak gila, jangan, jangan menyebutnya gila, dia hanya terluka.

Aku pamit kepada aryo dan bilqis. Aku berterimakasih kepada mereka karena telah bersedia menuruti keinginan dimas untuk mengirmkan surat-suratnya ke rumahku. Walaupun surat itu sebenarnya bukan untuk ku. Tapi setidaknya aku bisa mengenal dimas, dimas pemuda malang, yang cintanya begitu besar.

“ mbak dhira..” bilqis memanggilku ketika aku hendak masuk taxi.

“ iya?”

“ apa kami masih boleh mengirimkan surat-surat dimas?” tanya bilqis kepadaku.

Aku tersenyum.

“ tentu saja boleh, asal dengan satu syarat.”

“ syaratnya apa mbak?”

“ saya juga boleh membalas suratnya dimas.”

Bilqis tersenyum, ia mengangkat ibu jarinya pertanda setuju.

  • view 207