KApan KEjogja

agung purnama
Karya agung purnama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2016
KApan KEjogja

Senja dikota seribu angkot telah kehilangan pesonanya. Asap kenalpot, bunyi telakson, dan teriakan kondektur saling berlomba seperti berkonspirasi untuk membunuh secara perlahan keindahan senja dikota ini.

Tapi semuanya adalah pundi-pundi rantai kehidupan ekonomi kecil. Terkadang pembunuh pesona senja itu adalah sebuah keromantisan untuk sepasang kekasih yang tidak ingin punya cerita seragam dengan yang lainnya pada zaman sekarang. Dan juga tidak ingin menambah kemalangan kelamnya senja.

Aku hanya sebagian kecil dari yang tidak ingin menambah kemalangan kelamnya senja, maka setiap aktivitasku, aku mengandalkan kendaraan umum ini.

Tempat duduk pavoritku adalah dibagian depan, dekat dengan sopir. Bagiku duduk dekat sopir itu seperti sedang belajar kepada seorang guru. Aku bisa bertanya-tanya banyak hal tentang kehidupan yang dilaluinya, mulai dari fajar sampai senja tiba, selalu ada hikmah yang aku dapatkan dari cerita mereka. Bahkan aku bisa mengendarai mobil, hanya dari melihat sehari-harinya gerak-gerik dari sopir saat mengemudi.

~~~~

Angkot sebenarnya sudah cukup penuh, hanya tinggal untuk tiga orang penumpang lagi. Tapi sang sopir lebih memilih untuk menunggu sampai benar-benar penuh. Hal ini sebenarnya yang membuat kebanyakan orang malas untuk naik angkot. Belum ada solusi yang kongkrit untuk menyatukan kepentingan setoran sopir angkot dan seorang penumpang yang sering diburu oleh waktu.

Tapi aku menikmatinya, aku lebih memilih untuk memahami sopir angkot dan setorannya, dibandingkan dengan waktu yang terus memburuku.

~~~~

Bagaimana dengan tindakan kriminal yang sering terjadi di angkot? Bagiku itu hanya oknum, dan jumlahnya sangat kecil sekali. Terkadang kita dapat dengan mudah mempercayai istilah “oknum” ketika itu disematkan kepada aparat kepolisian, TNI, DPR, Hakim, Jaksa dll. Akan tetapi jika istilah “oknum” itu disematkan kepada sopir angkot, kita selalu menganggap semua angkot itu sama, semuanya berbahaya.

~~~~

Saat aku menunggu sopir angkot untuk menjalankan angkotnya, telephone genggamku bergetar. Ada sms masuk.

Kapan kejogja?

Dari: +6285228xxxxxx

Tidak ada nama pengirim, hanya deretan angka. Karena nomernya belum terdaftar dikontak telephone genggamku. Aku tidak membalasnya.

Jogja? Sudah lama sekali aku tidak kesana semenjak kelulusan kuliahku. Suasana yang begitu kontras dengan kota seribu angkot ini. Jogja ketika aku tinggal disana tidak ada angkot, yang ada hanya angkutan kota mini bus. Dan itu pun jarang sekali. Disana  sepeda masih menjadi primadona untuk dijadikan alat transportasi pribadi. Jalannya masih lenggang, belum dipadati oleh kendaraan bermotor. Apa kabar jogja sekarang? Banyak kah hal yang berubah? Aku rindu. Telephone genggamku kembali bergetar.

Sombong!

Dari: +6285228xxxxxx

Kali ini aku membalasnya.

Ini siapa? maaf

Nomer tidak ada dikontak.

Ke: +6285228xxxxxx

~©~

Ini ayu, DAHAYU RATU PURBASARI.

Dari: +6285228xxxxxx

~©~

Oalah ini kamu toh yu,

Nomer mu baru?

Ke: +6285228xxxxxx

~©~

Iyo, aku ganti nomer.

Dari: +6285228xxxxxx

~©~

Oke, aku simpen nomer mu.

Ke:+6285228xxxxxx

Aku langsung menyimpan kontak ayu, aku beri nama Dahayu. Namanya memang Dahayu, aku dan teman-temanku ketika kuliah memanggilnya ayu. Ia sahabatku.

Kapan ke jogja?

Dari: Dahayu

~©~

Iya aku kangen jogja.

Ke: Dahayu

~©~

Lalu kapan ke jogja?

Dari: Dahayu

~©~

Aku masih sibuk cari kerja.

Ke: Dahayu

~©~

Kerja di jogja ajah!

Dari: Dahayu

~©~

:-)

Ke: Dahayu

~©~

Tiga hari yang lalu dewi ke jogja,

Bersama calon suaminya, dia ngasih undangan.

Dari: Dahayu

Membaca sms ini dari ayu membuatku sedih, dewi adalah pacarku, tepatnya adalah mantan pacarku. Penyebab kami berpisah adalah kesalahan sekaligus kebodohan ku. aku hanya melamun, dan tidak membalas sms dari ayu.

Aku pikir calon suaminya kamu,

Kenapa enggak cerita?

Dari: Dahayu

~©~

Dewi enggak cerita?

Ke: Dahayu

~©~

Aku mau cerita dari kamu!

Dari: Dahayu

~©~

Sama aja.

Ke: Dahayu

~©~

Beda.

Dari: Dahayu

~©~

:-)

Ke: Dahayu

~©~

Terus kapan ke jogja?

Dari: Dahayu

~©~

Aku takut nangis.

Ke: Dahayu

~©~

Kenapa?

Dari: Dahayu

~©~

Banyak kenangan.

Ke: Dahayu

~©~

Enggak apa-apa,

Nangis aja!

Dari: Dahayu

~©~

Aku enggak punya tempat bersandar.

Buat nangis

Ke: Dahayu

~©~

Lelaki butuh tempat bersandar juga

Buat nangis?

Dari: Dahayu

~©~

Hehe... kami pandai berpura-pura

Untuk tegar.

Ke: Dahayu

~©~

Aku mau jadi tempat

Bersandar kamu.

Dari: Dahayu

~©~

:-)

Ke: Dahayu

~©~

Senyum itu bisa diartikan boleh?

Dari: Dahayu

~©~

Harusnya aku jadi tempat bersandar kamu.

Ke: Dahayu

~©~

Begitu lebih baik.

Dari: Dahayu

~©~

Kenapa aku? Aku belum bekerja, usia kita

Sudah tidak ABG lagi, aku belum bisa

Merencanakan sebuah pernikahan.

Ke: Dahayu

~©~

Aku tidak butuh maskara atau bulu mata

Untuk tampil cantik.

Dari: Dahayu

~©~

Lalu?

Ke: Dahayu

~©~

Aku yakin kamu mampu menuntunku

Untuk menjadi pribadi yang cantik. materi bukan ukuran buatku.

Dari: Dahayu

~©~

Kamu yakin?

Ke: Dahayu

~©~

Aku mengenalmu sejak kuliah.

Dari: Dahayu

~©~

Terimakasih.

Ke: Dahayu

~©~

Untuk apa?

Dari: Dahayu

~©~

Untuk keyakinanmu.

Ke: Dahayu

~©~

:-)

Dari: Dahayu

~©~

Terimakasih.

Ke: Dahayu

~©~

Untuk apa lagi?

Dari: Dahayu

~©~

Senyum manisnya.

Ke: Dahayu

~©~

Ah kamu, lagi nganggur juga pandai gombal, jadi gimana?

Dari: Dahayu

~©~

hehe... sifat alamiah lelaki, Gimana apanya?

Ke: Dahayu

~©~

Mau ke jogja kapan?

Dari: Dahayu

~©~

Aku mau diajak kemana?

Ke: Dahayu

~©~

Kita ke alun-alun kidul, alun-alun utara, keraton, tugu,

Malioboro, taman sari, kali code dan tempat istimewa lainnya.

Dari: Dahayu

~©~

Aku sudah pernah, sering malah.

Ke: Dahayu 

~©~

Iya aku tau.

Dari: Dahayu

~©~

Kenapa ngajak kesana lagi?

Ke: Dahayu

~©~

Untuk membuat cerita baru.

Dari: Dahayu

~©~

:-)

Ke: Dahayu

~©~

Makasih

Dari: Dahyu

~©~

Untuk apa?

Ke: Dahayu

~©~

Senyumnya.

Dari: Dahayu

~©~

Ih, melanggar hak cipta hehe...

Ke: Dahayu

~©~

Biarin :-p

Dari: Dahayu

~©~

:-)

Ke: Dahayu

~©~

Kamu ke jogja yah!!

Dari: Dahayu

~©~

Iya aku ke jogja.

Ke: Dahayu

~©~

Kapan?

Dari: Dahayu

~©~

Malam ini.

Ke: Dahayu

~©~

Aku tunggu!

Dari; Dahayu

~©~

Oke, aku sayang kamu.

Ke: Dahayu

~©~

Aku juga sayang kamu, dari dulu malah :)

Dari: Dahayu

Aku langsung turun dari angkot yang tak kunjung berangkat, aku kasih beberapa ribu ke sopir untuk menukar rasa kecewanya karena berkurang satu penumpang. Aku berjalan, menuju sebuah loket pembelian tiket bus malam jurusan Yogyakarta.

  • view 145