Menyimpan Mutiara CINTA

agung purnama
Karya agung purnama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Agustus 2016
Menyimpan Mutiara CINTA

Apa kalian pernah merasakan jatuh cinta dan memilihnya untuk menyimpannya rapat-rapat tanpa satu orang pun yang tahu? Jika pernah, kita adalah perempuan yang sama. Banyak yang bilang emansipasi membuat seorang perempuan berhak dan tidak masalah untuk mengatakan cinta kepada seorang lelaki, pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Mengatakan cinta memang hak semua individu tanpa harus memandang jenis kelaminnya. Kenapa aku lebih memilih untuk menyimpannya? Apakah aku takut cintaku tidak terbalas? Jelas bukan itu.

~ ~~

Bagi kebanyakan perempuan mungkin ketika ia mencintai seseorang dan memilih untuk tidak mengungkapkannya, minimal sahabat terdekatnya tahu. Tapi hal itu pun tidak aku lakukan, bukan berarti hal itu tanpa sebuah resiko yang besar, bahkan kadang kamu yang memilih untuk menyimpan rasa cinta itu, harus menerima sebuah kenyataan pahit bahwa sahabat terdekat kamu juga mencintai lelaki yang sama. Tapi kamu tetap berbesar hati untuk mendengarkan ceritanya. Sudah payah kamu menyimpan rasa cinta mu,kini kamu harus mendengarkan cerita sahabatmu tentang pujaan hatimu. Pernah hal itu terjadi dalam hidupmu? Aku pernah.

~~~

Mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang yang kamu cintai perlu kekuatan besar (untuk sebagian orang), tapi percayalah kepadaku! Kamu butuh kekuatan yang lebih besar bahkan 10 kali lipat besarnya dari kekuatan untuk mengungkapkan cinta, ketika kamu memutuskan memilih untuk tidak mengungkapkannya dan menyimpannya rapat-rapat. Bahkan aku berani bertaruh, hal itu hanya bisa dilakukan oleh kita kaum perempuan. Itulah alasanku, karena aku seorang perempuan dan diberi kemampuan untuk menyimpan rasa cinta maka aku memilih untuk menyimpannya.

~~~

Pernah suatu saat aku ditunjuk sebagai panitia dalam suatu acara disekolahku, ketika itu ia (lelaki pujaanku) ditunjuk sebagai ketua panitianya. Dan sedihnya lagi sahabatku yang sama-sama mencintainya menjadi sekertaris dalam kepanitiaan. Moment kepanitiaan itu hanya menjadi ajang untuk mendengarkan kegembiraan sahabatku karena sering berinteraksi dengannya. Aku dan sahabatku memilih keputusan yang sama, yaitu untuk menyimpan perasaan cinta kami. Bedanya ia tidak menyimpannya untuk sahabatnnya. Ia memilih untuk bercerita. Kalian jangan berpikir  aku sedang dalam posisi berpura-pura, tidak sama sekali. Aku hanya menyimpannya. Apalagi kalau berpikir aku musuh dalam selimut yang siap menikung untuk sekedar jago-jagoan menjadi pemenang. Tidak, tidak sama sekali. Aku hanya menyimpannya, untuk diriku sendiri.

~~~

Dalam menyimpan sebuah perasaan cinta, terkadang kita juga harus merelakan sebuah keindahan tentang dicintai, aku adalah perempuan biasa yang terkadang merasa rindu untuk dicintai. Ketika seorang lelaki mengatakan cinta, bagiku itu sebuah penghormatan yang agung. Tapi hati ini telah bertuan, tidak mungkin ada dua raja dalam satu singgasanah.

~~~

Lalu apa kabar dengan cinta yang aku simpan? Setelah kelulusanku di sekolah menengah atas aku tidak pernah melihatnya lagi. Tapi aku mendengar kabar ia lanjut study di daerah semarang. Sementara aku melanjutkan study ku di bandung. Cinta itu tetap sama. Selalu tersimpan rapih ditempatnya. Dan sahabatku yang juga jatuh cinta kepadanya ia akan menikah, tapi bukan dengan pujaan hatiku. Ia telah menemukan lelaki lain. Sekarang aku membantu acara pernikahannya, karena aku bekerja sebagai wedding planner.tidak sulit untuk menentukan konsep acara untuk sahabatku ini. Karena aku paham betul keinginannya.

~~~

“ kapan kamu berencana menyusul sahabat mu?” tanya seorang lelaki yang sedang mengemudi disampingku.

“ aku belum tahu.” Jawabku

“ kalau kamu sendiri?” tanya ku kepada lelaki disampingku yang sedang mengemudi.

“ hmmm... senjata makan tuan deh pertanyaan ku.” Jawab lelaki yang duduk disampingku.

“ hehehe... suruh siapa tanya duluan.” Kata ku.

“ kita ini lucu ya?”

“ lucu kenapa?” tanya ku.

“ ya lucu ajah, sering ngurusin pernikahan orang lain, sampe lupa untuk menikah.”

“ hahaha... itu sih kamu, aku mah enggak ikutan.” Jawabku.

“ hahaha... enak ajah.”

“ oia...acara pernikahannya kan 1 jam lagi, semua kru udah standbay, gimana kalau kita nge-Teh dulu.” Ajak ku.

“ boleh, dimana?”

“ tenang, aku tahu Teh yang nikmat di kota ini.” Kata ku meyakinkannya.

“ hahaha... kamu ini, bukannya semua Teh itu sama yah?”

“ iiihhh... yang ini beda kok, Teh ini punya nama keren.” Kata ku.

“ emang nama Teh nya apa?”

“ nama Teh nya ~TEH KEBERANIAN~” jawab ku penuh dengan semangat.

“ Hah? Kok Namanya aneh.”                                                                     

“ eits...jangan protes dulu, itu ada asal muasalnya kenapa nama teh itu adalah teh keberanian, setelah minum teh itu konon katanya, kita pasti punya keberanian, berani untuk jujur,berani untuk mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi walaupun itu sudah tersimpan bertahun-tahun.”

Lelaki yang duduk disampingku yang sedang mengemudi hanya mangguk-mangguk saja sambil tersenyum menahan tawa atas penjelasanku. Oia, lelaki itu adalah lelaki yang aku cintai dari dulu. Ia bergabung bekerja di perusahaan tempatku bekerja tiga bulan yang lalu. Kini  kami berdua adalah tim wedding planner.

  • view 235