Runtuhnya marwah perempuan modern

Yudhi Winarno
Karya Yudhi Winarno Kategori Filsafat
dipublikasikan 18 Februari 2017
Runtuhnya marwah perempuan modern

Mendefinisikan perempuan pada era sekarang ini bisa jadi lebih rumit daripada menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci. Tapi, setidaknya hal tersebut bisa dianalogikan dengan cara memadatkan berbagai premis dalam fenomena sosial untuk meraba bagaimana—bukan apa—perempuan di era (post) modern ini. Sekedar berbagi sekilas pandang dari perspektif pemuda kampung wabil ndeso. Sebaiknya tidak usah dibaca dan lewati saja, Karena ini akan sangat panjang, gak asyik, dan hanya melelahkan mata.


Sebut saja nama mereka Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati. Mereka berempat adalah perempuan muda yang telah sukses menjalani karir di kota besar. Dulu, mereka berempat merupakan sahabat karib yang dipertemuan ketika duduk di bangku kuliah. Profesi mereka sekarang bervariasi. Ngatini sebagai staff PR di sebuah instansi plat merah; Ngatinem duduk manis sebagai staff administrasi di sebuah show room mobil kenamaan; Waginah sibuk mengurus usaha fashion yang telah dirintisnya sejak lama; Sumiati, Karena ia memegang gelar Master, sekarang nyaman mengajar di sebuah PTS besar. Status mereka semuanya masih lajang di usia yang sudah lebih dari 26 tahun—mungkin bisa dikatakan high quality jomblo. Mereka berempat berasal dari berbagai pelosok desa di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang setelah lulus kuliah beruntung dapat merintis karir di kota. Latar belakang keluarga mereka juga beragam. Ada yang orang tuanya petani, pedagang di pasar tradisional, produsen keripik home industry, dan Guru Sekolah Dasar. Saat ini mereka berempat tengah berkumpul di sebuah kafe elit nan mahal. Meja di hadapan mereka terisi Espresso, Iced Taro Latte, Cappuccino, dan Tropical Mojito. Beberapa kudapan semi berat seperti French fries potatoes, Chicken fingers, dan Makaroni Scotel, juga turut melengkapi ajang kumpul kumpul rutin akhir pekan tersebut. Penampilan mereka semua menggambarkan figur yang up to date dengan perkembangan mode. Mereka semuanya berjilbab dengan standar fashion kekinian. Wajah mereka dipoles bedak cukup tebal, dengan make up dan lipstick menyaput wajah dan bibir. Aroma wangi Romance-Ralph Lauren, Revlon Charlie White, dan Bulgarian Rose, menyeruak dari tubuh mereka. Obrolan mereka nampak seru diselingi tawa lebar dan saling jawil. Apapun mereka bahas, mulai dari politik, harga cabai, cowok metroseksual, rencana kuliner minggu depan, sampai dengan curhat kesepian masing masing. Seperti itulah, setiap akhir pekan mereka nongkrong berjam jam untuk sekedar mengobrol dan menikmati wifi gratis dengan minuman serta kudapan pelengkap—tentunya di tempat tempat baru yang selalu berbeda setiap waktunya. Sekilas pandang, orang akan mengira mereka adalah grup sosialita papan atas, seperti halnya grup sosialita “Ustadzah Muda Kece Hore anti Kere” atau grup sosialita “Perawan Syari’e Pendamba Lelaki Suci aih mari mari mari…”


Jauh di sebuah desa pinggir kota yang masih cukup asri, seorang perempuan muda juga sibuk menjalani rutinitasnya. Sebut saja namanya Clara, seorang perempuan berusia 26 tahun dan masih lajang. Clara tinggal bersama kedua orang tua dan dua orang adiknya di desa. Sudah lebih setahun ini, Clara bekerja sebagai staff pengajar sebuah PTN besar di kota yang berjarak 25 km dari desanya. Clara merupakan figur perempuan yang sederhana, flamboyan, luwes di pergaulan, dan taat kepada orang tua. Ia merupakan perempuan cerdas dan berprestasi semasa sekolah dan kuliah dulu. Sebab itulah akhirnya Clara beruntung dapat melanjutkan studi ke Australia dengan program beasiswa. Ia pulang ke Indonesia setelah 2.5 tahun penuh pengorbanan menuntut ilmu di seberang benua. Sekarang ia sudah menyandang gelar akademik yang mentereng di belakang namanya; M. Appl. Ling (TESOL). Disamping pencapaian akademik dan karirnya yang cemerlang, Clara juga seorang hafidzah 30 juz Al Quran. Dulu, ia sempat 4 tahun menjadi santriwati Pondok Pesantren besar di Jawa Timur. Selama 4 tahun itu, ia dikenal taat dan serius belajar ilmu agama. Bahkan, ia juga pernah menjadi juara lomba membaca kitab kuning tingkat nasional. Meskipun hidup di desa, orang tua Clara termasuk terpandang dan tergolong orang berada secara materi. Ayahnya merupakan pemilik puluhan hektar sawah yang produktif. Sementara ibunya merupakan pedagang grosir baju bekas yang sukses. Rumah mereka megah dengan 2 lantai. Sebuah mobil merk ternama dan 4 buah sepeda motor menghuni garasi di samping rumah. Penampilan Clara sangatlah sederhana, ia seringnya mengenakan jilbab yang menutup sampai dada dan disesuaikan dengan busana kerjanya. Wajahnya yang putih dan cantik alami tak pernah tersentuh berbagai kosmetik, kecuali hanya bedak tipis saja saat akan berangkat kerja. Keseharian Clara di rumah juga selayaknya perempuan kampung pada umumnya. Ia pandai memasak dan tidak pernah risih untuk sekedar bergelut di dapur dengan bau terasi dan brambang goreng. Ia juga sering membantu memberi makan serta mengandangkan ayam-ayam peliharaan ayahnya di belakang rumah. Rutinitas Clara dimulai saat ia bangun pagi 30 menit sebelum adzan Subuh. Qiyamul lail dan sholat taubat adalah rutinitas yang dilakukan secara istiqomah setelah ia bangun. Setelah Subuh, Clara lebih sering membantu ibunya di dapur menyiapkan sarapan keluarga bila memang tidak ada pekerjaan kantor yang harus dirampungkannya. Pukul enam lebih tiga puluh menit, ia selalu sudah siap untuk berangkat ke kantornya di kota dengan mengendarai sepeda motor. Pukul lima sore biasanya Clara sudah sampai di rumah. Tradisi di keluarganya adalah mereka selalu menunaikan sholat Maghrib-Isya’-Subuh secara berjamaah di Surau tak jauh dari rumah. Malam hari, bila tidak ada jadwal rutin Majlis Sholawatan di kampungnya, Clara akan masuk kamar setelah berkumpul sebentar dengan keluarganya. Biasanya ia akan membaca buku, mengoreksi tugas mahasiswa, menulis untuk dikirim ke media massa cetak, menyiapkan materi perkuliahan esok hari, menyunting Prosiding Fakultas, atau sekedar berselancar di dunia maya. Begitulah rutinitas Clara setiap harinya. Secara sederhana, Clara bisa dikatakan seorang ‘high quality jomblo’ dalam arti yang sebenarnya, alias mantu-able.


Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati, merupakan representasi perempuan urban masa kini. Kultur mereka saat ini merupakan struktur kokoh dari realitas semu yang ditopang oleh liberalisme pasar. Mereka merupakan subjek sekaligus objek dalam ruang publik—masyarakat urban—yang sengaja diciptakan untuk mendukung skenario keberlanjutan kapitalisme. Sedangkan secara personal, mereka sedang mengalami seperti apa yang dikatakan oleh R.J Bernstein sebagai “Pervasive Amorphous Mood”, yaitu kondisi hati tak menentu yang meledak dan siap digiring menuju sebuah tujuan tanpa arah, liar, dan profan. Mereka diibaratkan telah memasuki sebuah labirin simulakra, dan menikmati momen berputar putar tanpa berusaha mencari tahu arah pintu keluar.


Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati, bisa juga dikatakan sedang melakukan sebuah insubordinasi terhadap sebuah struktur hegemoni—dalam hal ini yang terbaca adalah hegemoni maskulinitas dari lelaki yang menjadikan perempuan sebagai objek penindasan. Mereka menunjukkan diri sebagai kekuatan individu sekaligus komunal yang disangga oleh finansial, status sosial, dan intelektualitas. Tapi, sebaliknya terbaca juga subordinasi terhadap mereka sebagai perempuan. Dengan segala daya tawar yang dimiliki—secara khusus modal materi—justru mereka dengan mudahnya digiring menuju perangkap “mass culture” yang telah didesain sedemikian rupa oleh mekanisme pasar. Mereka menjadi budak life style, fashion, selera lawan jenis, dan pola hidup tanpa batas. Kondisi tersebut akhirnya menjadikan mereka seperti frasa-frasa kosong dalam ruang semantik. Nirmakna? Jauh lebih dari itu, Karena pondasi makna yang belum terbentuk justru sudah “diruntuhkan” terlebih dahulu. Mereka telah ter-alienasi dari ruang sosial yang sebenarnya, Karena rute pemikiran mereka tanpa sadar diarahkan sedemikian rupa oleh berbagai “common sense” yang artifisial—situasi inilah yang oleh Karl Marx disebut sebagai “False Consciousness” (kesadaran palsu).


Runtuhnya penanda dan petanda secara bersamaan dalam diri Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati. Menurut Ferdinand de Saussure, penanda (signifier) dan petanda (signified) merupakan elemen terpisah yang pada akhirnya membentuk sebuah kesatuan tanda. Dalam kasus ini, terdapat kontradiksi antara yang berwujud materi dan spiritual dalam diri Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati. Seperti yang telah diilustrasikan di atas, mereka berempat adalah muslimah dengan busana yang secara simbolik merepresentasikan identitas agama (baca: berhijab). Suatu ketika mereka berempat pulang kampung Karena sudah menjelang hari raya Idul Fitri. Orang tua mereka menyambut dengan debar bangga melihat anaknya yang telah sukses berkarir pulang dari perantauan. Sebagai orang tua, tentunya merupakan hal wajar bertanya ini itu tentang kehidupan anaknya di perantauan. Tapi, bagi mereka berempat, pertanyaan para orang tua tersebut bisa menjadi semacam belati yang dilemparkan telak mengenai ulu hati. Ngatini tidak mampu menjawab pertanyaan ibunya yang menanyakan berapa dari gajinya yang sudah disisihkan untuk sedekah dan infaq. Ngatinem merasa sangat tertampar saat ayahnya bertanya tentang info dari tetangga mengenai teman teman prianya yang sering mengantar pulang ke kost sampai larut malam. Waginah tidak mampu menghindar ketika ibunya bertanya alasan ia menolak Suwandi, tetangga desanya, seorang guru SD honorer yang ia tolak saat bermaksud melamarnya. Sedangkan Sumiati yang berijazah master pun hampir menangis saat ibunya menanyakan, apakah ia tidak pernah kesiangan saat Subuhan dan selalu memperbanyak Sholat Sunnah seperti yang sering diwanti wanti ibunya melalui berbagai pesan singkat. Seketika, marwah mereka berempat sebagai perempuan sekaligus muslimah, rontok hanya oleh pertanyaan sederhana dari orang tua masing masing. Pakaian yang sekaligus simbol identitas agama mereka selama ini ternyata baru disadari hanya sekedar sampah fashion. Substansi dari simbol simbol tersebut telah mereka runtuhkan dengan berbagai kesilapan (yang disengaja). Benturan budaya urban telah meruntuhkan substansi pokok dari keberadaan simbol dan ruh dari simbol itu sendiri. Apakah telah terjadi negasi spiritual dalam diri mereka berempat? Silahkan bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri yang terhormat.


Clara, sosok yang diilustrasikan mendekati perempuan sempurna. Clara sendiri merupakan representasi dari sebuah perlawanan terhadap kemapanan struktur budaya massa. Seorang perempuan cerdas, cantik (antik anet), berpendidikan tinggi, kesohor sebagai penulis, bekerja di kota, dan dipuja banyak pria. Namun, Clara tidak lantas lupa diri dengan segala potensi yan dimilikinya. Ia tidak lantas menghamburkan rupiah dalam rekeningnya untuk menuntaskan syahwat kuliner, fashion, dan life style modern lainnya. Tidak ada istilah aji mumpung dalam kamus hidup Clara; mumpung masih single; mumpung belum sibuk melayani suami; dan mumpung belum repot mengurus anak. Ia masih tetap menikmati 50 km per hari perjalanan berangkat-pulang dari desa ke kota dan sebaliknya. Sebenarnya, mudah saja bagi Clara untuk sekedar menyewa kamar kost elit di kota dengan harga sewa per bulan mencapai satu juta. Mudah pula ketika ia hendak memutuskan untuk mencoba berbagai kuliner mahal. Sepele juga baginya setiap bulan membeli beberapa potong baju model terkini. Tapi, Clara nampaknya lebih menyukai uangnya digunakan untuk membeli buku, nyanguni adik-adiknya, menyumbang yayasan difabel, dan membantu pendanaan beasiswa anak-anak yatim piatu. Toh baginya yang sangat ngelotok ilmu agama, tidak akan dirinya kekurangan dan menderita hanya Karena menggunakan sebagian uangnya untuk membantu dan menyenangkan orang lain. Clara secara sadar telah menjatuhkan pilihan untuk lebih dekat kepada keluarganya demi marwah sebagai perempuan, muslimah, kakak, sekaligus akademisi. Kesadaran pilihan Clara tersebut merupakan subtansi alam bawah sadar yang terkontrol sempurna darinya sebagai “dependent variable”—meminjam istilah Karl Marx.


Membaca Ngatini, Ngatinem, Waginah, Sumiati, dan Clara, tidak semerta merta membenturkan mereka sebagai individu yang otonom. Membaca mereka semua berarti membaca perempuan secara keseluruhan. Julia Kristeva pernah berkata bahwa dunia ini adalah teks tanpa batas. Perempuan dalam hal ini juga merupakan teks dengan konteks yang tanpa batas. Kita ibaratkan seorang perempuan sebagai sebuah kitab puisi yang di dalamnya terdapat ribuan puisi indah. Lalu kita membaca salah satu puisi dalam kitab tersebut. Ketika nalar dan pengetahuan kita mentok saat membaca salah satu puisi tersebut—katakanlah mendapati semantik dan sintaksisnya cacat menyeluruh—maka, yang perlu dilakukan adalah sebuah pembacaan ulang secara diakronik. Tidak ada yang salah dalam studi kasus mereka berlima. Setiap dari mereka telah menjatuhkan pilihan dalam ruang realitas sosial—yang meskipun itu semu. Bisa jadi mereka memang terbaca sebagai pseudo-persona dari produk budaya massa. Tapi, sebagai perempuan, mereka juga sebenarnya korban dari berbagai ledakkan dialektika sosial dalam diri masing masing. Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati, pada akhirnya juga akan mencapai anti klimaks. Bahkan malah lebih lanjut dapat mencapai “fase liminal”. Kapan itu terjadi? Barangkali saja ketika ada seorang lelaki yang dengan gagah berani berbisik lembut,


“Dek, sudah puas main mainnya? kapan Mas bisa ketemu Bapak? Hendak kupinang Adek dengan seperangkat alat Sholat dan satu set ‘Das Kapital’, dibayar tunai.”


Sementara, bagi perempuan seperti Clara, ia sudah menganggap setiap langkahnya adalah takdir dirinya saat itu. Tidak ada hukum kausalitas yang dapat membelenggu Clara. Baginya semua akan berhenti ketika telah mencapai titik “Prima Causa”. Dunia baginya juga hanya merupakan kesenangan yang memperdayakan semata—Wamal hayaatud dunya illaa mataa’ul ghurur.


Mendefinisikan perempuan adalah khilaf terbesar dari kaum lelaki. Perempuan tetap tidak dapat didefinisikan, meskipun itu dengan menggunakan berbagai elemen definitif—per se. Mereka hanya dapat “diraba” dan diterka dari balik kepul uap panas kopi hitam.


“Do what you will, this world’s a fiction and is made up of contradiction” –William Blake
15 Februari 2007, Saat semua sedang melakukan perbuatan tusuk menusuk di bilik TPS terdekat.


Postscript:


* Ngatini, Ngatinem, Waginah, dan Sumiati, mereka adalah karakter semi imajiner. Secara kesatuan, mereka tidak pernah benar benar ada. Tapi, secara personal mereka ada dan hampir seperti yang diilustrasikan di atas. Dengan berbagai penyesuaian, akhirnya karakter karakter tersebut disatukan demi membangun sebuah alur cerita. Penggambaran berbagai karakter tersebut tidak ditujukan untuk menyentil siapapun.


**Clara, ia merupakan karakter nyata yang benar benar nyata ada. Karakter ini telah disesuaikan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan gesekan privasi. Penggambaran karakter Clara pada ilustrasi di atas adalah 80% mendekati akurat. Clara kini telah menikah dan memiliki seorang putra. Suami Clara merupakan anak dari kawan ayahnya. Ia seorang pengusaha muda sukses —yang meneruskan usaha ayahnya—di desa yang tak jauh dari rumahnya. Benar, Clara adalah karakter yang sebelumnya pernah diceritakan memiliki seorang kekasih dan ditolak oleh ayahnya. Penolakan cerdas untuk ambisi perjodohan dengan dalih belum mapan Karena tidak memiliki rumah dan mobil. Sejak saat itu, Clara memilih mengakhiri sewa kost nya di kota dan melaju kerjanya dari rumah. Clara sajak saat itu pula berkembang menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting setelah dihempaskan begitu kencang oleh kejamnya dunia. Clara seketika itu juga menjadi “Eccedentesiast”, yaitu sosok yang dapat bersembunyi di balik senyum manis atas segala kepedihan, derita, dan kesedihanya. Ia beruntung, iman yang tebal dalam dirinya telah mencegah sebuah proses disosiasi yang berulang kali hendak menerkamnya. Clara sejujurnya merupakan korban paling nyata dari budaya patriarki—suara Ayah adalah suara tuhan, dengan huruf ‘t’ kecil. Clara yang tidak berdaya melawan dogma kepatuhan hanya dapat pasrah. Entah dosa apa yang pernah Clara lakukan sebelumnya, sehingga harus menanggung kepedihan abadi semacam itu (regressus ad infinitum?). Sekarang, ia telah menganggap semua yang dilakukan saat ini tak lebih dari sebuah katarsis. Penebusan dan perlawanan yang meletup secara sporadis dalam dirinya tak seorang pun mengetahui.

  • view 149