Bapak.. hati-hati menolak lamaran pria yang putrimu cintai

Yudhi Winarno
Karya Yudhi Winarno Kategori Psikologi
dipublikasikan 29 Januari 2017
Bapak.. hati-hati menolak lamaran pria yang putrimu cintai

"Putriku sudah kusekolahkan tinggi sampai S2. Sampai sekarang putriku ini sudah sukses berkarir di kota dengan pekerjaan bagus; sukses pula sebagai sosialita yang kesohor. Istilahnya sekarang, meski umur hampir kadaluwarsa, tapi putriku itu tetap seorang high quality jomblo. Aku tentu berharap putriku mendapat jodoh yang sepadan. Minimal berpendidikan tinggi, punya pekerjaan tetap yang bagus, tabungan masa depan, tentulah juga sudah punya rumah dan kendaraan pribadi. Lalu kamu datang, mas, mengatakan saling suka dengan putriku, hendak meminangnya pula. Dengan modal apa kamu hendak meminangnya?"

Pemuda itu diam sejenak sambil di dalam hatinya tak henti menderas Sholawat Jibril. Setelah beberapa detik beradaptasi dengan degup jantung yang kian mengencang, ia menjawab pertanyaan lelaki paruh baya di hadapannya tersebut.

"Saya memang belum mapan secara ekonomi, Pak. Tapi, saya benar benar Lillahita'ala ingin menghalalkan putri njenengan karena usia kami sudah lebih dari layak untuk berkeluarga. Kami tidak ingin ada fitnah di masyarakat. Kami tidak ingin sampai kebablasan melakukan dosa (nikmat) jika terlalu lama seperti ini. Saya sudah membulatkan niat untuk menjadi Imam yang baik buat putri njenengan. Demikian pula putri njenengan juga sudah berniat untuk bermakmum dengan khusyuk kepada saya sampai seterusnya."

Setelah menyeruput teh tubruk di gelas gentongnya, lelaki paruh baya itu kembali menyahut,

"Mboten cukup, mas. Sekarang masa depan seseorang tidak cukup hanya digenggam dengan komitmen dan tanggung jawab. Aku cuma petani desa yang berjuang terus untuk masa depan anak anakku. Aku ingin melihat putriku hidup berkecukupan dengan status sosial tinggi bersama suaminya. Dengan keadaan terutama pekerjaanmu sekarang, aku ragu kelak putriku bisa hidup bahagia. Lagipula, mas, adik adiknya masih sekolah semua. Nanti kalau umurku tidak panjang, siapa yang akan mengurus dan membiayai mereka kalau bukan kakaknya. Kamu berpendidikan, cerdas, sopan, beriman, dan sangat berkarakter. Tapi, kalau belum mapan tetap saja kurang, mas."

Pemuda itu kembali diam. Ludahnya terasa begitu pahit ketika tidak sengaja tertelan. Setelah berbasa basi, ia memutuskan pamit dan tidak akan kembali lagi ke rumah dengan halaman luas itu. Sepanjang perjalanan di atas sepeda motor, ia merasa angin begitu tajam menusuk setiap pori kulitnya. Udara petang terasa sangat dingin di tengah polusi jalan raya.

"Maaf, nok, Mas sudah mengupayakan semua di hadapan Bapakmu. Ternyata tidak cukup dengan niat saja, ada ongkos yang harus dibayar untuk menebus sebuah cinta. Mudah mudahan keputusan Bapakmu memang yang terbaik untuk masa depanmu dan keluarga, bukan malah membunuhmu."

Sementara itu, air mata terus meleleh dari pelupuk mata seorang perempuan muda berkerudung biru yang sedari tadi menguping percakapan di ruang tamu dari balik gorden pintu kamarnya. Ia merasa pena Tuhan telah salah menuliskan takdir hidupnya. Seminggu pertama sejak kejadian itu, ia kembali ke kost nya di kota dan selalu nampak murung sepanjang hari. Minggu ke-2, ia bekerja dan beraktifitas seperti mayat hidup. Minggu ke-3, ia tiba tiba menjadi ramah kepada siapapun; menjadi sangat murah senyum tanpa kendali. Tepat di hari ke-25 setelah percakapan di ruang tamu itu, ia pulang dari kantor menuju kost nya dengan sangat tergesa. Dibukanya pintu kamar, lalu dengan cekatan ia melepas Jilbab parisnya, dan naik ke atas kasur yang dilapisi seprei Angry Bird. Perlahan ia menggoyang pantat dan bahunya sambil mengangkat tangan yang masih memegang Jilbab parisnya. Ia terus bergoyang sambil tangannya memutar mutar jilbab yang dipegangnya seperti kitiran helikopter. Tiba tiba, dengan nada dan progresi yang kacau, ia berteriak,

"Eee,. Aku rapopo.. Aku rapopo.. Eee.. Aku kok kenthir.. Eee,. Jebul Bapakku luwih kenthir.... Eeee.. Maaaaasss !!"

**Diadaptasi dengan bumbu seperlunya dari kisah nyata sepasang kekasih yang menjadi perantau di kota yang sama. (mengandung MSG)

  • view 88