Bule tak tau diri VS Polisi pengecut

Yudhi Winarno
Karya Yudhi Winarno Kategori Budaya
dipublikasikan 29 Januari 2017
Bule tak tau diri VS Polisi pengecut

3 tahun lalu di suatu siang yang sangat terik dan menjengkelkan rakyat nir duit. Saat itu macet panjang di jalan Solo dari pertigaan UIN sampai perempatan Demangan. Saya yang sejak dari UIN sedang menuju arah kost di Condongcatur terjebak panas dan macet yang luar biadab sekali. Setelah motor merambat pelan dari Demangan, akhirnya sampailah juga di lampu merah pertigaan Kolombo. Nampak di pos lalin sebelah timur jalan, seorang Polantas bertubuh tambun khusyuk sambil sesekali celingak celinguk memantau pergerakan arus kendaraan. Kami yang sedang menunggu lampu hijau menyala tiba tiba dikejutkan peristiwa yang sebenarnya biasa saja sih. Di depan saya, seorang 'Bule' bertubuh besar tak ber-helm yang memboncengkan cewek seksi dengan motor maticnya, tanpa basa basi memotong jalan berbalik ke jalur arah selatan. Semua tahu, ini pelanggaran lalu lintas yang membahayakan pengguna jalan lain. Pertama, kak Bule tersebut tidak memakai helm. Kedua, langsung memotong jalan berbalik arah tanpa memberi tanda ke pengguna jalan lain. Ketiga, ia memboncengkan cewek seksi bergenre pribumi yang tentulah membuat ngenes para kaum jomblo (ini merupakan jenis pelanggaran berat). Keempat, saya menyaksikan sendiri kalau kak Bule tersebut benar benar cengengesan seolah ini jalan adalah miliknya.

Tapi, yang membuat para jamaah lalu lintas meradang adalah pak Polantas gendut yang sedang berdiri itu sama sekali tidak bertindak. Ia hanya memandang kak Bule melesat dengan sejahtera sampai hilang di antara kendaraan lain. Saking kesalnya, seorang Ibu bergincu merah menyala di samping saya sampai mengucap keras, "Pulisine ora wani..!!"

Lampu menyala hijau, kami semua segera mengegas motor meninggalkan lampu merah dan pak Polantas yang baru saja dipencundangi sebuah 'Bule' dan motor maticnya. Sepanjang perjalanan saya cuma membatin kalau mental inferior bangsa kita sudah sangat parah. Semua tahu, para Pulisi di perempatan Kolombo itu begitu garang kalau mengejar pelanggar lalu lintas. Dan hari itu, mereka muntir dan KO sebelum bertanding hanya oleh sebuah 'Bule' kopyok.

Sepanjang sisa perjalanan menuju kost, saya hanya berandai andai. Ya, andai saya yang berdiri di posisi Polantas itu, saya akan mengajak semua rekan di pos untuk mengejar kak Bule yang budiman tersebut. Setelah tertangkap, saya tidak akan menilangnya. Saya hanya akan menyuruhnya menepikan motor, mematikan mesin, menyuruhnya turun, dan kemudiaan akan saya bisikkan dengan mesra,

"Bul, kowe arep milih dijotosi secara prasmanan po pindah Agomo??"

  • view 79