Jangan bully perawan tua | semi humor

Yudhi Winarno
Karya Yudhi Winarno Kategori Psikologi
dipublikasikan 28 Januari 2017
Jangan bully perawan tua | semi humor

Mungkin bisa jadi sedikit bekal mandi sore bagi kita semua, khususnya saya dan para kaum lelaki.

Tadi malam ada kawan lama menelpon saya setelah hampir 2 tahun tanpa kontak. Ia seorang figur mamah muda trendi masa kini dengan satu putra berusia 2 tahun. Setelah berbasa basi saling menanya kabar, ia berkata ada sesuatu hal penting yang ingin ditanyakan kepada saya. Samar samar dibelakangnya terdengar suara televisi dan tawa si anak yang tengah bermain dengan ayahnya. Ia mulai bercerita kalau kakak perempuannya sedang mengalami masalah besar sampai membuat keluarga besar kelimpungan. Sebelumnya ia menceritakan kalau kakaknya adalah seorang wanita karir yang telah memiliki posisi bagus di kantornya. Kakaknya juga diceritakan sebagai figur yang soliter, introvert, berwajah jutek, dan tidak memiliki sense of humor yang yahud. Beberapa hari terakhir, kakaknya selalu menangis dan marah marah berteriak lantang ingin segera resign dari tempat kerjanya. Setelah didesak keluarga, akhirnya si kakak itu mengaku tidak kuat menghadapi bully dan tekanan rekan rekan kerjanya--mengenai tindak bully tersebut off the record, tapi dapat disimpulkan nanti di akhir cerita. Ia menceritakan kalau hampir 100% pelakunya adalah rekan kerja laki-laki. Akhir cerita, kawan saya ini meminta sudut pandang saya sebagai seorang laki-laki sekaligus berdasar pengalaman interaksi sosial.

Skip saja. Setelah percakapan kami usai, saya memikirkan kronologi kasus itu hingga ketemu benang merahnya. Sampai pada satu titik, ada beberapa hal yang saya simpulkan dan sekaligus juga akan diterapkan mulai dari diri ini sendiri.

1. Salah satu cara mudah bagi seorang lelaki menghargai kaum perempuan adalah dengan tidak nyinyir menanyakan "kapan menikah?" kepada perempuan single yang usianya sudah lebih dari 25 tahun.

2. Level selanjutnya adalah menahan diri untuk tidak nyinyir menanyakan "kapan mau punya anak?" atau "gak kepengin punya momongan po?" kepada mereka yang sudah 2 tahun lebih menikah namun belum juga hamil.

Nampaknya ini perihal sepele yang bisa dianggap guyon guyon ringan. Tapi, ada yang tidak kita ketahui di balik senyum dan tawa mereka ketika menjawabnya. Siapalah juga yang tahu gemuruh dan perih di dada mereka saat kalimat tanya itu tepat berhenti pada tanda tanya. Tak tahu pula kan saat mereka sendiri lalu teringat pertanyaan itu? barangkali bisa saja seketika mewek dan koprol koprol tanpa kendali di atas kasur.

Saya tidak tahu apakah itu hanya reaksi berlebihan dari kakak kawan saya yang tidak bisa memanajemen tekanan dari luar, atau memang murni kesalahan dari para pembully. Tapi, ketika mengingat hampir 100% pembully adalah rekan kerja laki-laki, bisa jadi tindakan itu sudah tersistematis dan bukan sekedar guyon (mungkin saja).
Kalau benar begitu, mereka mungkin hanya sekumpulan pria--iya, hanya pria bukan lelaki--yang setiap pagi selalu gagal melipat selimutnya dengan rapi.

Sekarang saya yakin, Jean Paul Sartre, filsuf eksitensialis yang gak ganteng ganteng amat itu benar benar dalam keadaan waras saat menyerukan, "Hell is other People."

**Selamat merayakan mitos bernama Malam Minggu.

  • view 111