Kampus, Mahasiwa dan Sarjana (Sebuah Refleksi)

Mas Aam
Karya Mas Aam Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 April 2016
Kampus, Mahasiwa dan Sarjana (Sebuah Refleksi)

Dalam sejarah pendidikan muncul beberapa tujuan tentang pendidikan. Menurut plato, tugas pendidikan adalah melepas dan membebaskan dari ketidaktahuan dan ketidakbenaran, sedangkan tujuan pendidikan nasional Repulik Indonesia dituangkan dalam Undang-undang No. 20, tahun 2003 pasal 3 menyebutkan, ?Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta mandiri.?

Seperti yang telah kita ketahui, perguruan tinggi adalah salah satu tempat pendidikan yang ada di Indonesia. Pada umumnya, yang kita ketahui tentang perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan yang dijalani peserta didik setelah jenjang SMA dan setingkatnya. Namun jika kita amati, perguruan tinggi adalah lembaga yang lebih dari sekedar lembaga pendidikan yang ada, seperti kutipan Soekarno :

?Universitas adalah tempat untuk memahirkan diri kita, bukan saja dilapangan technical and mamagerial how know, tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di lapangan ideology, di lapangan pikiran. Jangan sekali-kali universitas dijadikan tempat perpecahan.? (Soekarno, kuliah umum di universitas pajajaran, Bandung 1985)

Hal ini selaras dengan apa yang telah kita pelajari dalam antropologi kampus, tentang bagaimana pengertian kampus sebagai miniatur negara. Didalamnya ada kegiatan politik dan pertemuan budaya yang bermacam-macam, karena didalamnya terdapat mahasiswa dari berbagai macam daerah. Kampus tidak bisa dipahami hanya sebagai tempat akademis saja seperti lembaga pendidikan lainya, dan pada kenyataanya memang demikian, karena didalamnya terdapat lembaga-lembaga intra kampus semisal Rektorat, BEM, HMJ dan lain sebagainya menurut kebututuhan kampus yang mengatur jalanya segala kegiatan, baik intra ataupun eksta yang mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam mengembangkan dan mengamalkan apa yang ia dapat didalam kelas juga organisasi yang ada.

Berangkat dari sinilah kita akan menyadari bahwa perguruan tinggi sebagai salah satu alat untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional sangat penting keberadaanya, bukan hanya sebagai pencetak sarjana-sarjana muda, namun pemberian nilai-nilai kepada peserta didik sebagai Agen of Change, pengembangan pola pikir dan tindakan melalui tri dharma mahasiswa. Tidak sebatas pendidikan dan pengajaran didalam kelas, penelitian dan pengembangan lewat skripsi atau pengabdian masyarakat lewat KKN. Namun lebih dari itu.

??????????? Maka, akan sangat tidak menarik apabila kampus hanya dijadikan sebagai tempat perkuliahan saja. Kalau sudah begitu apa bedanya kampus dengan SD, SMP atau SMA?, hanya kegiatan belajar mengajar lalu tugas PR dan hafalan untuk mendapatkan nilai akademis. Dan apabila hal ini sudah terjadi maka mahasiswa akan semakin jauh dari hal yang bersifat sosial, kondisi nyata yang dihadapi selepas masa kuliah. Mahasiswa akan mengalami semacam kejut sosial karena sewaktu dikampus tak tak ubahnya seperti siswa SMA hanya dicekoki oleh ilmu yang belum tentu bisa diterapkan didalam sosial kemasyarakatan, mahasiswa akan sulit dalam menganalisa kondisi sosial yang ada karena tidak adanya interaksi ideologi,pikiran juga budaya sewaktu masa pengembangan diri di dalam perkuliahan. Dan yang sangat dikhawatirkan adalah ketika agen of change tidak bisa menjadi pelita harapan bagi masa depan bangsa dan agama,tidak menyadari tanggung jawabnya karena telah dikebiri oleh sikap konservatif pihak yang terkait dimasa pendewasaanya. Agen of change hanyalah nama yang semakin usang bersama matinya sikap tutwuri handayani. dan tujuan pendidikan hanya akan menjadi bunga tidur karena lembaga pendidikan tertinggi tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai puncak transisi peserta didik.[]

  • view 219