Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 20 Maret 2016   02:19 WIB
Ustadz Televisi

Eksistensi dan membanjirnya ustad TV (baca: televisi) menabah warna tayangan TV. Tiap statsiun TV memiliki program tausiyah yg diampu oleh masing-masing ustad, dengan kemasan program TV yg menonjolkan kekhasan ciri identik dari sosok ustadz masing-masing dalam mengemas program semenarik mungkin. Ini sah saja, namun tidak cukup.
"Cak Nun itu gak bakal laku di TV, yg laku di TV itu ya para ustadz ulama hala-haram kae. Karena sesah ngomong hakikat-ma'rifat di TV. Contohnya Cak Nun sering bilang, bahwa wudhu itu yg disucikan bkn fisiknya, melainkan batinnya. Kalau ga percaya, kalau sampean kentu, kenapa yg dibasuh tangan dan kakimu, bukan silitmu? Berartikan batin yg disucikan? Tapi kan sudah di TV hal semacam ini ditangkap" -Sujiwo Tedjo-
Kritik Sujiwo Tedjo diatas setidaknya menggambarkan pada dua hal. Pertama, pada kualitas -sebagian- ustadz yg tidak mumpuni dalam menjawab ekspektasi mad'u (audiance) -dlm hal ini Sujiwo tedjo melihat- yg dalam pemahaman keagamaannya terkukung pada kotak halal-haram saja. Kedua, statsiun TV yg "membatasi diri" pada kemasan materi-materi populer yg digemari demi menjaga retting dan pengiklan, bukan berorientasi pada ilmu demi pencerahan umat dengan penyajian materi sesungguhnya yg lbh transenden-transformatif (hakikat-ma'rifat islam).
Saya teringat beberapa tahun lalu ketika dalam FGD kelas Managemen Dakwah di FAI UMY, diampu ibu Siti Bahiroh, ttg kewajiban dakwah. Apakah kewajiban dakwah itu fardu a'in atau fardu kifayah? dan Kapasitas apa yg harus dimiliki unt menjadi ustadz/ulama/da'i?
Dalam pengertian bahasa, kamus Arab-Arab Al-Mu'jamul Wasith kata ustadz memiliki beberapa makna sebagai berikut:
1. pengajar
2. orang yang ahli dalam suatu bidang industri dan mengajarkan pada yang lain.
3. Julukan akademis level tinggi di universitas.
Dalam pengertian istilah, kata ustadz adalah orang yang sangat ahli dalam suatu bidang. Menurut pengertian ini, seseorang layak disebut Ustadz apabila dia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu atau bidang studi. Dalam sastra Arab seperti ilmu nahwu, shorof, bayan, badi', ma'ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fiqih, tafsir dan hadits. Maka jika seseorang ahli dalam bidang tafsir ia dapat disebut dengan al-ustadz fii tafsir.
Sangat berat bukan kualifikasi seseorang dengan gelar ustadz? Meski begitu dalam industri pertelevisian, seseorang bisa dengan mudah mendapat gelar ustadz. TV seperti memiliki kekuatan klaim dalam melahirkan ustadz-ustadz mereka demi kepentingaprogram mereka dan keberlangsungan pengiklan, tentu juga retting. Maka lahirlah ustadz-ustadz TV yg -maaf- dengan keilmuan seadanya, "didandani" dg wah dan serba serasi, ditambah dengan dipoles kemampuan retorika maka sah sudah menjadi ustadz. Inilah yg dikeluhkan Sujiwo Tedjo tadi, dakam bahasanya ustadz halal-haram.
Apa hanya oleh Sujiwo Tedjo? Saya kira tidak, termasuk saya sendiri sangat memilih program-program tausiyah. Tentu saya mengapresiasi keberadaan program tausiyah di TV dan ustadz-ustadznya, ini cukup membantu. Adapun yg harus dilakukan adalah peningkatan kualitas program termasuk didalamnya materi dan kualitas ustadz.
Setidaknya contohlah ustadz Budi Ashari .LC, program Khilafah, dengan pemahamaman ilmu sejarah islamnya mumpuni, penyampaian yg lugas, penampilan sederhana dan bersahaja, sebagai mad'u saya betah berlama-lama menyaksikan beliau bercerita, menagkap pengetahuan baru dan ilmu hikmah dibalik tiap kejadian sejarah. Dengan kata lain ilmu yg "dijual" bukan sensasi kemasan program dan ustadz yg ditonjolkan.
Berikutnya,tentang kewajiban dakwah, menukil dari nash-nash seperti "fashtabiqul khoirot" bahwa setiap muslim baiknya berlomba dalam kebaikan dan anjuran mencegah kemungkaran dengan 3 cara, yakni dg tangan (kekuatan, kekuasaan), dengan lisan (diplomasi, kecakapan) dan dengan hati (mendoakan, berpasrah kpd Allah). Saya berpendapat setiap muslim berkewajiban dalam meyampaikan dan mengajak pada kebaikan dan jalan tauhid juga mencegah kemungkaran (pengertian dakwah secara sederhana). Saya menyebutnya "wajib proporsional". Artinya setiap muslim memiliki kewajiban dakwah sesuai dg tingkat keilmuan dan kapasitas pemahaman keislamannya.
Dengan demikian semakin tinggi keilmuan seseorang maka akan semakin diapresiasi oleh kian banyak kalangan, masyarakatpun akan menerima ilmu dengan baik dri sumber yg tepat. Akan lahir para ustadz yg ramai di TV nasional dengan kapasitasnya yg mumpuni. Dengan kedalaman ilmu, ahlaqul karimah, mampu manjadi suri tauladan, jauh dri sensasi dan "kosmetik" drama dan yg paling penting, mampu membasuh hati yg kering dengan selarasnya ucapan dengan perbuatannya, itulah ustadz sesungguhnya.
Wa'allahu 'alam.

Ma'ruf Hassan

Karya : Ma'ruf Hassan