Lima Yang Lampau

Marini Rama
Karya Marini Rama Kategori Puisi
dipublikasikan 28 Februari 2016
Lima Yang Lampau

?

Lima yang telah berlalu....


Satu
Percaya yang diabaikan
Percaya pada yang tak bisa dipercaya


Dua
Masa lalu kelam yang mencoba untuk kembali
Mengetuk pintu membawa hadiah

Menawarkanku untuk menjadi yang kedua, ya...dia telah memiliki yang pertama...

Jika kuturuti, bukankah aku seperti membatasi kemampuan-Nya untuk menyatukanku dengan dia yang memilih menjadikanku yang pertama dan satu-satunya?


Masa lalu mencari beribu cara untuk datang dan kembali
Masa lalu yang sarat akan kesalahan?
Hingga sosokku tenggelam dalam kolam berlumpur dalam
Pekat dan menyesakkan
Tapi kini saat dia kembali, aku tak mau lagi terseret dalam kubangan yang sama
Dan bagiku dia hanya masa lalu, tanpa rasa yang tersisa
Hambar juga datar


Tiga
Sosok yang pernah menyapa
Tapi tak urung membuatku jengah
Bukan tak pantas, hanya caranya melihat dunia bagiku terlalu dangkal
Lantas bagaimana akan memaknai kehidupan mendatang?
Aku menarik diri, bukan karena ingin melukai, tapi aku tak suka dijadikan perbandingan
Bahkan saudara kembar pun tak persis sama bukan?


Empat
Milik-Nya hanya titipan
Tak seharusnya aku meletakkan dunia di dalam hati
Mestinya di telapak tanganlah tempatnya
Tak kurang, tak lebih


Lima
Bagian lain dari yang lampau pun hadir
Mencari tempat untuk singgah atau sekedar menghalau bosan??
Entahlah...yang ku tahu, dia telah mengikatkan diri dengan pilihannya, ? tidakkah dia masih ingat dengan akad yang terucap..??
Lalu yang terjadi padaku? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?Gambaran putih tentangnya menjelma abu-abu gelap
Dan bagi pencari cahaya sepertiku, kegelapan membuatku nanar, se-inci pun wajahku tak bergeming untuk berpaling padanya

Kini aku melihat semua yang lima seperti menatap derasnya hujan dari balik kaca

Hanya bisa menunggu sampai selesai dengan sendirinya, meluruh tak bersisa

Dengan keyakinan akan kedatangan rahmat-Nya

Ujian yang lima...
Sudah purna kah..?
Aku tak tahu....
Yang aku tahu, kemudian kurayakan dengan segala pujian bagi-Nya...

Karena Dia....
Dia seperti sedang menyiramkan air untuk membersihkan lumpur di tubuhku

Dia seperti sedang mengirimkan energi hingga aku tak goyah untuk berserah

Dia menggenapkan kesadaranku, dengan cahaya-Nya yang tak pernah pudar

Dia memelukku dalam penyesalan yang sungguh

Hingga gamblang bagiku terang dari pekat

Hingga yang mereka anggap telah patah, aku sebut telah terbuka

Dan untuk menunggu janji-Nya terejawantah, aku hanya perlu sabar dan shalat....

?

?

  • view 86