Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 26 Mei 2018   09:30 WIB
Yang Tak Sempurna

Kantorku, 2010
 
"kamu lahir tahun berapa?", pertanyaan itu seperti sebuah mantra yang mampu membekukanku beberapa saat, setidaknya itulah yang bisa menggambarkan betapa mengejutkannya pertanyaan itu. Bukan karena aku tidak suka ditanya soal usia seperti perempuan pada umumnya, hanya saja aku tak pernah menyangka akan ada pertanyaan semacam itu dari atasanku. Ya...beliau adalah wanita setengah baya dengan jabatan Sekretaris Dinas di tempatku bekerja, dengan pembawaan yang menurutku terlihat begitu tegas, tatapan mata yang tajam dan aura yang jujur sempat membuat nyaliku menyusut drastis, bahkan untuk sekedar mengobrol basi-basi seperti yang biasa dilakukan makhluk bernama wanita.  Tetapi siang itu, beliau mengajakku berbincang santai dan secara langsung menanyakan tahun kelahiranku. Rasanya tak sopan jika membiarkan beliau melihatku sedikit bengong karena terkejut, maka aku pun menjawab dengan lugas tahun kelahiranku. Belum habis kekagetanku, beliau melanjutkan "ooh, seumuran sama anakku, kamu mau Ibu kenalkan sama dia?". Sebenarnya aku mulai merasa nyaman mengobrol dengan beliau, tapi mengapa pertanyaan keduanya membuat debar jantungku berloncatan dan ganjil. Seperti menghadapi soal ujian yang aku tidak belajar sebelumnya. Aah bagaimana aku harus menjawabnya jika yang muncul di benakku selanjutnya justru pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gamang tak karuan. Kenapa pertanyaan itu ditujukan padaku? bukankah aku hanya pegawai kontrak di kantor ini? maksudku, apakah aku cukup pantas untuk berkenalan dengan putra seorang pejabat? apakah aku cukup pantas? bukankah aku hanya perempuan biasa dari keluarga yang juga biasa? kebanyakan orang pasti akan menilai ini tak seimbang, sama sekali tidak. Memang tidak semua akan menilai negatif, tapi kebanyakan orang, hal itulah yang tak mau pergi dari benakku. Sesungguhnya aku tak pernah benar-benar mengerti pada cara berpikir seperti itu. Aku sendiri tak pernah membedakan orang berdasarkan parameter-parameter yang dibuat oleh manusia, tentang status dan kedudukan dalam masyarakat, atau tentang ukuran materi yang dimiliki. Bagiku semua itu  hanya atribut, yang bisa berubah bahkan hilang kapan saja. Menurutku ada yang jauh lebih penting dari itu semua, aku biasa menyebutnya karakter, akhlak dan kualitas pribadi. Bukankah Tuhan juga hanya membedakan manusia berdasarkan tingkat keimanan dan kepatuhan kepada-Nya? dan bukan berdasarkan atribut duniawi. Tapi sekali lagi pada kenyataannya sebagian orang entah sadar atau tidak, dalam hal berpasangan akan lebih mementingkan kesetaraan kedudukan sosial atau tingkat kepemilikan materi. Dan aku, tak juga menemukan jawaban atas pertanyaan atasanku. Lalu yang akhirnya keluar sebagai jawaban hanyalah senyum serba salah yang terasa menggantung. Aku merasa begitu kecil. 
Sesudah siang itu, tak ada lagi obrolan santai dengan beliau, karena tak lama setelah itu beliau memutuskan untuk purna tugas lebih awal. Dan sejak beliau purna tugas aku tak pernah tahu kabar beliau, yang kutahu hanya nama lengkap putra beliau dan juga sedikit tambahan informasi bahwa putra beliau juga bekerja di Pemda yang sama denganku. Hanya itu saja. Tanpa ada kesempatan untuk benar-benar tahu "seperti apa dia?".

--------
 
 
Lapangan Upacara, 24 Juli 2017
 
Aku sedang berjalan bersama seorang teman kantor ketika tiba-tiba dia memintaku ikut berhenti sejenak karena dia ingin menyapa dan mengobrol sebentar dengan temannya dari kantor lain sebelum Apel rutin setiap hari senin dimulai, "tunggu sebentar ya?", aku hanya membalas dengan anggukan sambil bergumam "hmm". Mereka, temanku dan temannya lalu asyik mengobrol, sementara aku hanya berdiri menghadap ke selatan, di hadapanku ada barisan salah satu kantor yang mulai ramai diisi, tepat beberapa meter di hadapanku ada seorang laki-laki berdiri menghadap ke tiang bendera di sebelah timur. Lalu entah mengapa tiba-tiba laki-laki itu membalikkan badannya sembilan puluh derajat ke arah kiri, jadilah sekarang dia menghadap tepat ke arahku. Karena postur laki-laki itu begitu tinggi, maka arah pandangan mataku hanya sampai di dadanya, dan betapa terkejutnya aku saat tak sengaja membaca nama di dada sebelah kanannya... nama itu... nama yang selama 7 tahun ini ada dalam ingatanku, tanpa pernah sekalipun bertemu... ya, untuk pertama kalinya aku melihatnya. 
 
--------


Lapangan Upacara, 31 Juli 2017
 
Senin pagi menurutku selalu terasa tergesa-gesa, mungkin karena ada acara ceremonial rutin yang wajib diikuti. Usai memindai mata pada mesin Face Scan, aku segera keluar gedung menuju lapangan tempat upacara. Ini seperti deja vu, gumamku dalam hati. Aku kembali melihat lelaki yang kulihat seminggu yang lalu, di tempat dan barisan yang sama. Dia melihat ke arahku, tapi aku tak tahu apa dia mengingatku, atau hanya asal melihat saja. Yang pasti pandangan kami sempat bertemu beberapa detik, sebelum aku berlalu di belakang barisannya. 
 
--------


Kantor-nya, 31 Juli 2017

Siang itu aku meminta ijin pada atasanku untuk dibolehkan pulang lebih cepat karena harus mengantar kakak perempuanku ke sebuah instansi pemerintah untuk suatu keperluan. Sekitar jam 2 siang aku dan kakakku tiba di kantor yang dimaksud. Seorang wanita berhijab menyambut kami di pendopo depan kantor, yang ternyata tak asing bagiku, walaupun kami tak saling kenal, tapi aku bisa mengingat bahwa wanita yang kusebut adalah seniorku saat masih SMA dan sewaktu kuliah kami juga belajar di kampus yang sama. Kami sempat berbasa basi sebentar tentang masa kuliah dulu sebelum diantarkan ke sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan Kepala Kantor. "Monggo ditunggu sebentar di sini ya Bu, beliau masih ada tamu di ruang sebelah", kakak seniorku mempersilakan kakakku untuk menunggu Kepala Kantor di ruang kerjanya. Entah mengapa aku merasa tak asing dengan ruangan itu, seperti pernah melihat sebelumnya. Lalu entah mengapa detak jantungku kembali terasa ganjil, berdebar lebih cepat. Beberapa kali aku mencoba mengambil nafas panjang, berharap detak jantungku kembali normal.
Beberapa menit kemudian Sang "pemilik" ruangan datang... dan jantungku seperti berlompatan tak karuan... 
Dia, pemilik ruang kerja itu adalah laki-laki yang kutemui di dua kali senin pagi secara berturut-turut. Ya...dia lah pemilik nama yang tersimpan dalam ingatanku selama 7 tahun... dia adalah putra atasanku yang menjadi topik obrolan 7 tahun yang lalu. 

Aku tak pernah percaya pada kebetulan, sebaliknya aku selalu percaya bahwa serangkaian "kebetulan" yang semesta ciptakan pun sejatinya adalah bagian dari skenario-Nya. Tentang pertemuan yang tak terduga itu, betapa aku begitu mensyukurinya. Setidaknya dengan perkenalan sekilas, Tuhan telah memberitahukan kepadanya bahwa aku ada. Tidak hanya itu saja, saat dia berinteraksi dengan kakakku, aku bisa melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain, berempati pada masalah orang lain, bagaimana dia bersikap pada bawahannya, juga bagaimana dia bercanda. Saat dia mengatakan pada kakakku bahwa dia belum menikah, entah mengapa seketika hatiku menghangat, seolah bersorak karena kali ini intuisiku benar. Dia seolah tak asing bagiku dan perasaan tak asing itu begitu nyata. Lalu entah apa yang membuatku diam-diam membatin do'a, berharap bisa mengenalnya lebih baik nantinya. Tapi di waktu yang sama aku juga merasa aku sudah lancang berharap lebih. Bukankah dia adalah "seseorang yang bersinar", sedangkan aku bukan "siapa-siapa"..? aah lagi-lagi pendapat publik tak urung terlintas di kepalaku. Seperti dilema yang semestinya tak perlu ada. 

--------
 
10 bulan berlalu...dan aku hanya mampu menuliskan tentangnya di sini.
 
Untuk lelaki matahari, 
mengapa aku menyebutmu matahari? 
karena nama depanmu punya arti yang tak jauh dari matahari, 
karena seringkali bertemu denganmu saat di bawah matahari pagi,
dan karena aku melihatmu serupa matahari, membawa cahaya...
 
Untuk lelaki matahari, 
apa kau masih ingat saat dulu kau sengaja mengabaikan pesanku?
lalu menitip pesan "menyedihkan" melalui orang yang lebih kau percayai daripada aku?
saat itu aku ingin bertanya padamu, sebenci itukah kau padaku?
 
Untuk lelaki matahari, 
tahu kah kau... lagi-lagi aku begitu bersyukur, setengah tak percaya, setelah hari lahirmu 2 bulan lalu, kau begitu baik padaku, pada pesan-pesan yang kukirim padamu...
berterima kasih sekaligus bahagia saat kau mengijinkanku memanggilmu "mas", bukan lagi "pak", juga membolehkanku tahu kabarmu, mungkin bagimu sesederhana itu, tapi bagiku itu lebih dari cukup untuk merasa bahagia.
untukmu yang sering meminta maaf ketika waktu kadang membuat bimbang dan tak tahu harus bagaimana, maafkan aku bila kau terganggu, sungguh aku tak ingin membebanimu dengan apapun, tapi tak bisakah kau memberitahuku apa yang mengganggu pikiranmu?
bukankah tak ada gunanya terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi?
 
Sebenarnya kau dan aku sama, bisa begitu kekanakan saat tak sengaja bertemu, tapi tahu kah kau, bukan maksudku bersikap begitu, hanya saja bibirku kelu untuk menyapamu, bahkan untuk sekedar tersenyum padamu...
bukankah sudah kau terima pesan permintaan maafku?
mengapa kau hanya diam?
 
sekali lagi gamang menjadi sekat, 
antara ketakutan bahwa aku tak cukup pantas untukmu dan harapan untuk melihatmu tersenyum untukku
 
Lalu,
 
melihat matamu
ada haru yang membiru
luka, harap juga rindu
seolah aku berkaca tanpa ragu
 
membaca kata-katamu
seperti menemukan jawaban dari tulisanku,
untuk siapa?
bolehkah aku tahu yang sebenarnya?
 
tak ada dari kita yang sempurna
karena itulah kata "kita" tercipta
karena kau ada, maka aku pun ada
dan aku percaya
 
gelap terang
terik hujan
tangis tawa
sedih bahagia
 
tidakkah sedikit saja kau percaya?
kita bisa berbagi cerita
kita bisa berbagi setia
kita selalu bisa berbagi do'a
karena Tuhan kita sama
 
jika kau datang
aku percaya akan ada terang
jika kau datang
tak akan sedikitpun aku bimbang
jika kau datang
aku yakin aku tenang
 
karena untuk semua tentangmu, aku bersyukur, Tuan...
 
 
Batu,  Mei 2018
 
dariku,
yang ingin menjadi pagi yang kau cari setelah bermimpi,
yang ingin menjadi rumah yang kau tuju setelah letih berlari
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Karya : Marini Ramayanti