Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 5 September 2016   14:16 WIB
Diorama untuk Raka

Far away
Far away from where we were
Each of us were hiding
for so long

Far away
Far away under the stars
When I close my eyes
I see your smile

........

Suara khas Simon Adams mengalunkan lagu "Far Away",  lagu yang kuhadiahkan saat ulang tahunmu, sebelas bulan lalu.   Bukan tanpa sebab aku mengirimkan  lagu ini padamu...ya ini salah satu lagu favorite ku. Entah mengapa lagu yang sekarang sedang kuputar seakan turut membulatkan niatku untuk mengungkapkan semua yang selama ini kusimpan.

Ini tentangmu...Raka...

Aku tak tahu harus mulai menulis dari mana, tapi untuk mengungkapkannya, sepertinya hanya ini cara yang ku bisa.
Selama ini aku menyimpannya untuk diriku sendiri, dan Tuhan tentu saja.
Mungkin akan sulit bagimu untuk mempercayainya, tapi tak mengapa Raka, aku mulai saja.
Kau adalah sosok yang kukenali sejak lama, tiga belas tahun lebih... jangan bingung dulu, aku tahu hanya aku yang mengingatmu, sementara kau tak sedikitpun tertarik untuk menyimpanku dalam ingatanmu. Moment terakhir kali aku bertemu sosokmu ada di sebelas tahun silam, lalu perjalanan hidup seolah tak memberiku kesempatan untuk "sempat" memikirkan atau sekedar mengingat caramu berbicara, tarikan senyummu atau gaya rambutmu saat itu.
Hingga dua tahun yang lalu, entah apa yang terjadi padaku...
Aku memimpikanmu, dengan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi kupu-kupu, kau berdiri tepat di samping kananku, dengan tangan kirimu yang menggenggam tangan kananku, tanpa ragu.
Aku bukan penyuka mimpi, tapi kali ini mimpi itu sering kali terputar ulang di benakku.
Mungkin mimpi ini juga yang menggerakkan hatiku hingga nekad mencari kontakmu melalui media sosial dua tahun yang lalu, dengan hanya berbekal nama panggilanmu, karena hanya itu yang kutahu.
Apa kau tahu? Bukan mencari kontakmu yang kusebut perjuangan, tapi menekan ego ku sebagai wanita untuk menghubungimu lebih dulu.
Berkali-kali aku bertanya pada diri sendiri, "apa aku sudah mulai gila?!"
Aku lebih seperti pemuja rahasia mungkin, walaupun dalam cerita-ku, tentangmu selalu lebih dari itu...

Bulan-bulan pertama "perkenalan", semua terasa baik-baik saja, kau dan aku memang belum pernah bertemu lagi, hanya berbincang via messenger, tapi percayalah, aku mensyukuri-mu, mensyukuri bahwa Tuhan menitipkan dan menujukan rasa ini padamu, aku mensyukuri segalanya, dan aku bahagia, ini hal pertama yang ingin kusampaikan padamu.


Aku mulai tahu beberapa hal tentangmu dan semakin ingin tahu lebih banyak hal tentangmu.
Tapi di waktu yang sama aku juga bisa merasakan, kau seperti membatasi dirimu, kau membuat jarak di antara kita lebih jauh dari ribuan kilometer yang menjauhkan kota tempatmu ada dan kota tempatku tinggal.
Maafkan aku jika yang kulakukan selanjutnya adalah mencari cerita masa lalumu...

Bukan, aku bukan takut atau khawatir seperti apa masa lalumu, aku pun juga punya masa lalu yang redup, aku hanya ingin mengerti, apa yang membuatmu membeku, layaknya salju.
Kuharap kau tidak marah dengan pengakuanku, aku mulai mencari cerita masa lalumu dari teman baikmu, seorang sahabat wanita yang pernah kau berikan nomor ponselnya padaku, apa kau ingat?
Kepadanya aku menceritakan sedikit tentangku, dan darinya aku banyak mendapat cerita tentangmu dan masa lalumu.
Darinya juga aku tahu kabar terbaru tentangmu, saat egoku sebagai wanita tak mengijinkanku untuk menghubungimu lebih dulu, seperti biasanya.
Apa kau tahu? Ada saat-saat dimana aku begitu ingin menghubungimu, tetapi terlalu pengecut untuk kecewa jika ternyata kau tak pernah menungguku untuk menghubungimu.
Kau boleh menyebutku apa saja, seseorang yang asing, aneh, atau apapun lainnya.

Raka, mungkin tak pernah terpikirkan olehmu, saat kau menjawab "insya Allah" untuk pertanyaanku tentang kapan kau akan datang ke kotaku, aku menunggumu, menunggu kedatanganmu, menunggu Tuhan mengijinkanmu datang padaku. Apa kau ingat? Dua kali kau mengatakannya padaku. Inilah hal kedua yang aku ingin kau tahu.
Jika ada yang bertanya, mengapa tak kukatakan langsung saja padamu, maka akan kujawab, aku ingin, ingin sekali mengatakannya, tapi kau tak pernah memberiku kesempatan, kau memilih menutup rapat pintumu. Mungkin di dalam sana, kau sudah sangat terbiasa mengurung diri tanpa berniat untuk berbagi.
Raka...andai saja kau mau percaya, aku mengetuk pintu bukan untuk melukaimu, sungguh...
Pernahkah sekali saja terlintas dalam benakmu, mungkin kau dan aku (kita -dalam ceritaku) punya satu, beberapa atau bahkan banyak hal spesial untuk saling kita bagi?


Saat membaca ini, mungkin kau akan bertanya-tanya, mengapa aku memutuskan menuliskan ini untukmu.
Biar kujelaskan, aku telah menyimpan banyak hal tentangmu bertahun-tahun yang lalu, mungkin kau tak akan percaya, lalu bertanya "bagaimana bisa?", jika itu yang kau tanyakan, aku tak pernah tahu jawaban pastinya.
Yang aku tahu, sejak aku melihatmu pertama kali, ada yang terasa tak asing, seperti sosokmu telah lama ada di sekelebat ingatanku, deja-vu ataukah yang lebih rumit dari itu, aku tak mengerti.
Hanya saja, jika boleh kusimpulkan sendiri, ada kesan tersendiri darimu yang terendap sempurna di dalam aku. Lantas melihatmu seperti melihat pantulan dimensi diriku di dalam cermin, ya aku melihatku padamu. Ketika menemukanmu, aku menemukanku. Ini menjadi hal ketiga yang ingin kusampaikan padamu.
Apa lagi-lagi kau merasa aku ini aneh? Kau akan mengerti suatu saat nanti, saat kau melihat dirimu di dalam diri seseorang, dan aku selalu berdo'a, semoga Tuhan menjadikan seseorang itu aku. Aamiin.
Raka, aku bukan sedang merayumu, bukan...karena memang bukan padamu aku harus merayu.
Tapi melihatmu, aku melihat sebentuk tanda keagungan Sang Maha indah, serupa warna-warna cahaya yang membuatku tergerak untuk berbenah, memperbaiki, membangun dan memantaskan diri, berharap bila saat milikku itu tiba, semoga aku sudah cukup pantas menerima hadiah spesial dari Nya.

Raka,
Mungkin saja kehadiranku mengusikmu, aku yang sering kali menanyakan kabarmu, aku yang bertanya keseharianmu, aku yang peduli, meski aku tahu, kau tetap bersembunyi. Aku yang masih bertahan, meski kau berusaha mematikan perasaanku. Kau seperti tak pernah mengijinkan pintumu terbuka.
Mungkin, kau butuh ruang dan waktu untuk merasakan, merasakan apa yang selama ini berusaha kusampaikan padamu.
Kau pasti juga berpikir, mengapa aku berharap kita akan bertemu. Itu karena aku sedang mengupayakan kesempatan, untuk menunjukkan ketulusan dan kesungguhan hatiku, yang bisa kau lihat di lekat mataku. Semoga Tuhan mengijinkan.


Raka, sekali saja, beri aku kesempatan untuk membuatkan secangkir cokelat hangat untukmu di ruang hatimu yang dingin.
Mungkin saja kan, hatimu akan larut dan turut menghangat?

Kita tak akan pernah tahu, mungkin itu yang kau gumamkan dalam hati, akupun begitu. Tetapi, ketidakpastian juga berarti bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi, bukan?
Ini hal keempat yang ingin kusampaikan, kuharap kau sudi menyempatkan diri untuk merenungkannya di sisa waktu istirahatmu selepas sibuk berkerja seharian.


Raka, sepertinya sudah terlalu banyak yang kutuliskan untukmu.
Sudah sampai pada bagian kelima, hal yang paling kuinginkan untuk kau baca dengan hatimu...


Raka, aku punya sebentuk ketulusan dan kesungguhan untukmu. Padamu, aku menemukan rasa yang menguatkan niatku untuk menjadi bentuk terbaik dari diriku, memangkas sebagian besar dari egoku, dan menjadikanku bersedia lebih bersabar untuk memahami tentangmu.
Raka, maukah kau berjalan beriringan denganku sampai akhir? Tentunya di jalan setia yang dituntunkan-Nya, jalan yang akan mengantarkan kita kepada Dia, pada cinta dan surga-Nya.
Aku menunggu jawaban-mu Raka, sebuah jawaban dari bening suara hati kecilmu.

Pulang...

Datanglah...

Pulang ke hatiku

Datang ke diorama kita

.............

If I told what I could not say
If I showed all and let you in
If I opened up my heart
And spoke my love for you
Would you walk with me 'til the end
When we'll end up being more than friends
We'll go hand in hand
'Til you understand
Here I am

Far away...
Far away from where we were
Will we try and make it right this time?

-Far Away-
By. Simon Adams

--------

Please stay with me, so we can see the light...

 

 

 

Karya : Marini Ramayanti