Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

maria fianiyanti sumur
Karya maria fianiyanti sumur Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Januari 2018
Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

                                               

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

REMAJA

 Oleh

Maria Fianiyanti Sumur

 

 

Abstrak

            Pertumbuhan dan perkembangan remaja mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam proses perkembangannya lebih cendrung mengalami perubahan karakteristik. Pertumbuhan dan perkembangan memiliki kaitan yang sangat erat. Remaja adalah proses pencarian jati diri serta rasa ingin tahu akan suatu hal dan lebih fokus terhadap lingkungannya. Peranan orang tua sangat diperlukan pada remaja, keteladanan yang orang tua tunjukkan memberikan contoh kepada remaja dapat memahaminya, serta memberikan tingkah laku yang baik. 

 

Kata Kunci : perkembangan, pertumbuhan, remaja

 

 

Pendahuluan

            Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri. Masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa orang dewasa. Pada umumnya remaja sering mengalami kebingungan karena terjadinya perbedaan pendapat antara dirinya dengan orangtua.  Perbedaan pendapat terjadi karena adanya keinginan yang tidak terpenuhi dalam diri remaja untuk memperoleh adanya rasa aman. Remaja mempunyai banyak keinginan. Namun, mereka belum memiliki kemampuan untuk mewujudkan keinginan itu sendiri. Angan-angannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dengan kemampuan yang dimilikinya.

            Pada dasarnya pada masa ini, remaja sering mengalami emosi yang kemungkinan cepat meletus karena adanya pergolakan pikiran dan perasaan yang kecendrungan dapat bertindak dengan cepat. Perkembangan emosi remaja tampak jelas terlihat pada tingkah lakunya. Tingkah laku itu tergantung pada emosi remaja tersebut. Perubahan tingkah laku terjadi karena kurangnya perhatian dari orang tua, dapat berpengaruh terhadapnya psikologi remaja. Akibatnya terjadinya pemberontakan remaja terhadap orang tua yang ingin melepaskan diri dari pengawasan.

Bagian Inti

  1. Pengertian pertumbuhan dan perkembangan remaja

Pertumbuhan yang terjadi sebagai perubahan individu lebih mengacu dan menekankan pada aspek perubahan fisik ke arah lebih maju. Dengan kata lain, istilah pertumbuhan dapat didefenisikan sebagai proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung pada periode tertentu. Oleh karena itu, sebagai hasil dari pertumbuhan dalah bertambahnya berat, panjang atau tinggi badan, tulang dan otot-otot menjadi kuat, lingkar tubuh menjadi lebih besar, dan organ tubuh menjadi lebih sempurna. Pada akhirnya pertumbuhan ini mencapai titik akhir, yang berarti bahwa pertumbuhan telah selesai. Bahkan pada usia tertentu, misalnya usia lanjut, justru ada bagian-bagian fisik tertentu yang mengalami penurunan dan pengurangan (Berk, 1989).

Sedangkan perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru. Perubahan seperti itu tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis. Perubahan kemampuan dan karakteristik sebagai hasil dari perubahan dan kesiapan struktur biologis sering dikenal dengan istilah “kematangan” (Berk, 1989).

Perkembangan mempunyai kaitan yang erat dengan pertumbuhan. Keduanya merupakan perubahan yang berasal dari dalam diri anak. Dengan adanya pertumbuhan pada diri seorang anak maka akan tercapainya suatu perkembangan pada anak diri anak tersebut.

Berdasarkan hukum rekapitulasi, perkembangan individu dapat digolongkan dapat digolongkan kedalam beberapa fase. Adapun fase-fase perkembangan itu adalah sebagai berikut :

  1. Masa berburu dan meyamun (sampai dengan 8 tahun)

Ciri-ciri yang menonjol pada masa ini adalah bahwa anak-anak dalam permainannya menunjukkan kesenangan menangkap binatang, bermain dengan panah-panahan, membuat rumah-rumahan, saling mengintai, saling mematai, saling menyelinap untuk menangkap musuh, dan sebagainya.

  1. Masa beternak (8-10 tahun)

Masa ini disebut juga masa menggembala. Cara yang menonjol pada masa ini adalah anak senang sekali memelihara binatang. Misalnya : memelihara ayam, merpati, kucing, dan sebagainya.

  1. Masa bertani atau bercocok tanam (10-12 tahun)

Ciri yang menonjol pada masa ini adalah anak gemar memelihara tanaman. Misalnya : tanaman bunga,tanaman halaman rumah. Biasanya anak ingin mempunyai kebun sendiri meskipun dalam ukuran mini.

  1. Masa berdagang (12-14 tahun)

Ciri yang menonjol pada masa ini adalah perhatian anak terutama tertuju kepada hal-hal yang mirip dengan perdagangan. Misalnya : bermain jual beli dengan uang dari kertas atau daun, pengumpulan bungkus rokok,karcis kertas, dan sebagainya.

  1. Masa industri (15 tahun ke atas)

Ciri yang menonjol pada masa ini adalah anak gemar membuat permainannya sendiri dengan bahan-bahan yang ada disekelilingnya. Misalnya : membuat laying-layang katapel, dan sebagainya.

 

  1. Karakteristik umum perkembangan remaja

Berbagai macam keinginan para remaja tidak dapat terpenuhi karena bermacam-macam kendala, dan yang sering terjadi adalah tidak tersedianya biaya. Adanya bermacam-macam larangan dari orang tua  sering melemahkan atau bahkan mematahkan semangat para remaja. Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah meeka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Mereka melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat diatasi bersama-sama (Singgih DS.,1980)

(Soerjono Soekarno, 1989) yang amat penting bagi remaja adalah memberikan memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya dapat terarah kepada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif, misalnya ingin menjelajah alam sekitar untuk kepentingan penyelidikan atau ekspedisi. Jika keinginan semacam itu mendapat mendapat bimbingan dan penyaluran yang baik, akan menghasilkan kreativitas remaja yang sangat bermanfaat, seperti kemampuan membuat alat-alat elektronika untuk kepentingan komunikasi, meghasilkan temuan ilmiah remaja yang berbobot, menghasilkan kolaborasi music dengan teman-temannya, dan sebgainya. Jika tidak, dikhawatirkan dapat menjurus kepada kegiatan atau perilaku negative, misalnya : mencoba narkoba minum-minuman keras, penyalahgunaan obat.

  • tahapan perkembangan intelek/ kognitif

Pengertian intelek menurut Chaplin (1981) diartikan sebagai:

  • proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan,kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan.
  • Kemampuan mental atau inteligasi.

Intelek adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan  dari proses berpikir. Selanjutnya, dikatakan bahwa orang yang inteligen adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat, Mahfudin Shalahudin ( 1989).

Intelligence atau inteligensi menurut Jean Pieget diartikan sama dengan kecerdasan, yaitu seluruh kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif, termasuk kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif, termasuk kemampuan mental yang kompleks seperti berpikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan( Jean Piaget).

            Jean Piaget (Bybee dan Sund, 1982) membagi perkembangan intelek/ kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut :

  • Tahap Sensori- Motoris

Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek motorik. Melalui pematangan motoriknya, anak mengembangkan kemampuan mempersepsi, sentuhan-sentuhan, gerakan-gerakan, dan belajar mengoorinasikan tindakannya.

  • Tahap Praoperasional (2-7 tahun). Tahap ini disebut tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecendrungan yang ditandai oleh suasana intuitif, dalam arti semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tapi oleh unsur perasaan, kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna dan lingkungan sekitarnya.
  • Tahap operasional konkret (7-11 tahun). Pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Anak dapat mengamati dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif, sudahmulai memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan, tetapi harus dengan bantuan benda konkret dan belum mampu melakukan abstraksi.
  • Tahap operasional formal (11 tahun ke atas). Pada tahap ini sudah mampu melakukan abstraksi,memaknai arti kiasan dan simbolik, dan memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis.

 

            Perkembangan remaja sebagian besarnya tergantung pada kehidupan yang ada dalam keluarganya. Interaksi antara keluarga serta perlakuan keluarga terhadap remaja. Situasi keluargalah yang menyebabkan faktor utama nakalnya remaja. Perlunya faktor keteladanan bahwa orang tua harus menjadi panutan. Remaja adalah proses mencari jati diri maka faktor keteladanan menjadi sangat penting.

            Remaja selalu ingin melepaskan diri dari orang tua dan lebih cendrung mengarahkan perhatiannya kepada lingkungan, remaja selalu ingin mencari jati dirinya melalui lingkungan dan lebih cenderung berupaya mencari identifikasi dari lingkungan. Pentingnya remaja mempersiapkan masa depannya di samping mereka mencari jati diri.

            Perkembangan moralnya, tengah berada pada tingkatan yang ditandai dengan adanya kecendrungan tumbuhnya kesadaran bahwa norma-norma yang ada dalam masyarakat perlu dijadikan acuan dalam hidupnya, menyadari kewajibannya melaksanakan norma-norma itu, dan mempertahankan perlu adanya norma (Kohlberg, 1984). Perkembangan fisiknya juga berada pada masa perkembangan fisik yang sangat pesat (Siti Rahayu Haditono,1986).

            Remaja juga memiliki kemampuan untuk mengontrol dan menguasai diri. Sesungguhnya remaja mampu membatasi diri dalam menggunakan kebebasan yang diberikan.  Dengan demikian orang tua harus mampu memberikan nasihat agar remaja mampu belajar menguasi diri dengan baik agar remaja dapat mengembangkan pikirannya untuk mengambil keputusan.

Penutup

Kesimpulan/ saran

  Masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa orang dewasa. Perkembangan mempunyai kaitan yang erat dengan pertumbuhan. Keduanya merupakan perubahan yang berasal dari dalam diri anak. Dengan adanya pertumbuhan pada diri seorang anak maka akan tercapainya suatu perkembangan pada anak diri anak tersebut. Perkembangan remaja sebagian besarnya tergantung pada kehidupan yang ada dalam keluarganya. Interaksi antara keluarga serta perlakuan keluarga terhadap remaja. Situasi keluargalah yang menyebabkan faktor utama nakalnya remaja. Perlunya faktor keteladanan bahwa orang tua harus menjadi panutan. Remaja adalah proses mencari jati diri maka faktor keteladanan menjadi sangat penting

      masa remaja adalah masa mencari jati diri maka di sinilah  orang tua harus mampu menempatkan kewajibannya untuk memberikan pemahaman, dorongan serta motivasi bagi remaja agar tidak terjadinya pergaulan yang bebas.  Perlunya didikan dari orang tua terhadap remaja sehingga terbentuknya perilaku yang baik dari remaja tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                              Daftar  Rujuk

 Berk, L.E. 1989. Child Development . Boston : Allyn and Bacon.

 

Bybee, R.W. and R.B. Sund. 1982. Piaget for Educators. Second Edution

      Columbus : Charles E.Merrin.

 

Kohlberg, L.E. 1970. The Moral Atmosphere of the school. Dalam N. Overley

      (ED.), The Unstudied Curiculum. Washington D.C. : Monograph of the

      Association For Supervision and Curiculum Development.

 

Siti Rahayu Haditono. 1989.Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.

      Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 

Shalahudin, Mahfud. 1986. Pengantar Psikologi Umum.Surabaya : Sinar Wijaya.

 

Soekaro, Soerjono. 1989. Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Rajawali.

 

 

  • view 17