Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 Desember 2017   20:23 WIB
Cerpen Maria Ose : Asal Usul suku Langobelen

ASAL USUL SUKU LANGOBELEN

            Di tengah hiruk pikuknya penjajahan di kota Maluku dan di ketika suatu sore yang begitu tegang, seorang lelaki gagah berparas tampan rupawan duduk termenung entah apa yang sedang ia renungi. Alhasil diketauhi bahwa Beke Siling Kiti sedang merenungi nasip yang terjadi pada dirinya dan semua masyarakat di Maluku. Ia memikirkan bagaimana nasip dirinya dan masyarakat di Maluku jika penjajahan ini terus saja terjadi. Termenung dan termenung lagi, akhirnya Beke yang gaga memutuskan untuk membawa semuah masyarakat meninggalkan kota Maluku. Beke akhirnya mengumpulkan semua masyarakat untuk berunding bersama. Beke memulai pembicaraan. Beke mengatakan kepada seluruh masyarakat bahwa ia berencana untuk membawa semua masyarakat ke suatu tempat yang lebih nyaman.

“Selamat sore saudara-saudariku hari ini saya berencana akan membawa kalian semua ke suatu tempat yang jauh.Walaupun jauh disana kita bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih baik daripada di sini. Bagaimana apakah kalian semua setujuh dengan rencana saya ini????”

“Semua masyarakat menyepakati. Ia kami setujuh dengan deputusan ini Beke. Kami siap berangkat.”

            Sejak hasil keputusan itu masyarakat mulai menyiapkan segala sesuatu untuk bekal semasa perjalanan mengarunggi lautan untuk mencari tempat untuk berlindung dan memulai kehidupan yang baru. Setelah menyiapkan segalah sesuatunya Beke beserta semua masyarakat pun mulai bergegas meninggalkan kota Maluku.

            Memulai perjalanan yang jauh, melewati lautan lepas dengan ganasnya arus sehingga akhirnya masyarakat Maluku seran goran terdampar di pesisir pantai pulau kedang di kecamatan kedang. Kepanikan terjadi. Begu bersama semua masyarakat mulai mencari tempat untuk beristirahat sementara. Setelah mendapatkan tempat warga memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tujuan mereka yaitu kampung Lewokea Watan Wai Biko tersebut. Saat berada di Pesisir Pulau Kedang masyrakat Seran Goran kehabisan kayu api dan air minum. Masyarakat berupaya untuk mencari kayu api dan air minum disekitar wilayah tempat mereka terdampar tersebut, untuk melangsungkan kehidupan mereka selama mereka masih berada di kecamatan kedang.

            Hari demi hari berlalu. Kini tiba saatnya bagi Beke dan masyarakat Seran Goran* kembali menyiapkan barang-barang bawaan mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan. Di tenga kesibukan mempersiapkan kembali bekal bawaan mereka, ada sebagian masyarakat Seran Goran mengatakan bahwa kami ingin tetap tinggal disini. mereka ingin tetap tinggal di pesisir pantai Kedang, karena banyak yang sudah merasah betah dan nyaman berada di tempat tersebuat.

“Kami ingin tetap tinggal disini saja. Kami sudah beta berada disini,” kata seorang warga.

“Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan, silahkan saja tinggal disini,”jawab Beke.

           Beke menyepakati keputusan sebagian masyarakat bahwa mereka ingin tetap tingal disana. Akhirnya hanya sebagian masyarakat saja yang pergi ke tempat tujuan awal mereka yaitu lewokea watan wai biko. Perjalanan panjang kini kembali di tempuh hanya dengan berbekalkan barang seadanya. Setelah menempuh perjalanan mereka yang cukup jauh tersebut akhirnya warga Seran Goran sampai di tempat tujuan mereka. Tempat yang bagi mereka akan meberikan mereka kebahagiaan yang dulunya sudah diregut oleh para penjajah. Setelah melewati ganasnya arus dan terjalnya gelombang alhasil Beke dan masyarakat sampai di kampung Lewokea Watan Wai Biko. Rasa puas, menggerogoti hati Beke dan masyarakat Seran Goran karena mereka sampai dengan selamat. Ketika hendak membereskan barang-barang bawaan mereka warga dikejutkan dengan suara-suara dari tempat keberadaanya tepat di dekat mereka. Beke sebagai pemudah yang dipercayakan sebagai yang terkuat diantara masyarakat Seran Goran akhirnya mencari tahu asal muasal suara itu. Kini akhirnya Beke menemukan jawaban bahwa ternyata asal suara tersebut adalah suara dari keturunan suku Ladopurab dan Lamataro yang mana sebagai keturunan pertama atau Tuantana yang berada di kampong Lewokea Watan Wai Biko yang sekarang menjadi desa Lewotolok yang mana merupakan kampung pertama.

            Beke memimpin semua masyarakat untuk segera mencari lahan yang masih kosong disekitar Lewokea Watan Wai Biko untuk dijadikan tempat tinggal mereka.

“Hay saudara dan saudariku,inilah tempat yang akan kita huni untuk meneruskan kehidupan kita kedepanya,”kata Beke.

“Baiklah saudaraku, kami sepakat dengan semua yang kamu katakana. Ayo mari kita bergegas membereskan semua perlengkapan kita,” kata seorang masyarakat.

Beke kaget karena yang mendiami daerah Lewokea tenyata bukan hanya suku Ladopurap dan Lamataro yang merupakan anak tanah, tetapi ada juga sebagian suku besar yang memilih mencari tempat tinggalnya sendiri di sekitar gunung Lewotolok yang sekarang dikenal dengan gunung Ile Ape. Diantaranya sebagian suku Langoday. Waktu terus saja berlalu, hari berganti tanpa permisi. Masayarakat Seran Goran di seputaran gunung Ile Lewotolokpun hidup tentram sebagimana biasanya. Namun kehidupan begitu keras. Beke dan masyarakat kini dihadapkan pada sebuah persoalan baru. Dahulu masyarakat tak perna menyelsaikan masalah dengan musyawarah, melainkan harus menggunakan perang untuk memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

            Persoalan kini semakin besar. Hanya sejengkal tanah saja diperebutkan karena bagi masyarakat dulu tanah adalah peninggalan nenek moyang mereka yang paling berharga. Dan pada akirnya peperangan untuk memperebutkan wilayah kekuasaanpun terjadi antara suku besar pajih dan suku besar demong. Perang terjadi akibat keterunan Demong menuntut bahwa daerah Lewokea Watan Wai Biko adalah miliknya. Sedangkan nyatanya bahwa keturunan pajilah yang berada terlebih dahulu di daerah Watan Wai Biko ini. Perselisihan terjadi, kesalapahaman pun mulai merajalelah. Pajih merupakan keturunan asli dari kampung Lewokea yaitu suku Ladopurab dan Lamataro dan suku pendatang dari seran goran sedangkan Demong berasal dari keturunan daerah lain yang berada dibelakang gunung Ile Lewotolok.

Percecokan terjadi hebat. Saling membunuh adalah salah satu cara untuk memenangkan kembali tanah yang menjadi milik mereka. Dalam perjalanan menghadapi masalah yang sedang terjadi antara pajih dan demong ini, warga masyarakat dari Seran Goran* kehabisan air minum dan kayu api. Sebagian dari masyarakat mulai bergegas untuk mencari kayu api dan juga air minum. Ketika hendak melakukan aksi ini keturunan anak tanah ladopurab dan lamataro mendataggi kediaman keturunan Seran Goran. Warga Seran Goran menyambut baik kedatangan dari keturunan Ladopurab dan Lamataro, karena mereka juga memikirkan bahwa kedatangan mereka waktu pertama kali pun di terimah baik oleh keturunan Ladopurab dan Lamataro.

            Kedatangan warga Ladopurab dan Lamatarobertujuan untuk meminta bantuan keturunan Seran Goran untuk membantu mereka melawan keturunan Demong karena kebanyakan laki-laki dari keturunan Pajih meninggal dibunuh oleh keturunan Demong.. Dalam Keturunan Ladopurab dan Lamataro menjanjikan jika keturunan Seran Goran berhasil melumpuhkan dan mengalahkan keturunan Demong maka Ladopurab Dan Lamataro Akan mengangkat mereka menjadi keturunan raja atau dianggap sebagai orang besar di kampung tersebut.

“Jika kalian keturunan Seran Goran bisa dan berani mengalahkan keturunan Demong maka kami akan mengangkat kalian sebagai orang besar, dan keturunan raja di daerah ini,” kata seorang tuah adat dari keturunan Pajih.

“Baiklah kami akan membantu kalian untuk mengalahkan keturunan Demong,” jawab Beke sebagai pemudah yang dituahkan.

            Masyarakat Seran Goran mulai melakukan aksi perlawanan terhadap keturunan Demong sampai menewaskan raja Demong yang pada saat itu bernama Sadu Rupah Lima Letu. Dengan cara diikat lalu dipotong dibuang didalam suatu lubang yang disediakan oleh masyrakat Pajih. Lubang tersebut sampai saat inipun masih ada di sekitaran gunung Ile Ape Lewotolok. Keturunan Demong merasa tidak puas karena keeturunan Seran Goran yang dipimpin oleh Beke membunuh raja mereka. Peperangan terjadi cukup lama sekitar beberapa hari karena masing-masing memiliki kekuatan yang luar biasa dan memiliki keberanian yang dahsyat sehingga perlawanan sangat sulit untuk berakhir.

            Karena kedua suku tersebut memiliki kekuatan fisik maupun kekuatan adat dan juga mencari bantuan di desa tetangga lainnya yang membuat kekuatan mereka semakin hari semakin bertambah. Meskipun hanya bermodalkan gala* dan penahan yaitu dopi**. Tetapi mereka tak akan gentar sekalipun meskipun nyawa jadi taruhanya. Karna menurut mereka bahwa lebih baik mati dari pada menjadi budak di tanah sendiri oleh pendatang yang merebut wilayah mereka. Suku Seran Goran yang biasa diartikan menjadi perajurid yang mengawal para Tuantana yaitu suku Ladopuab dan Lamataro terus saja melakukan perlawanan. peperangan masih saja berlanjut sampai di penghujung malam disuatu pesta atau seremonial adat yang dilakukan olah masyarakat Demong untuk menggantikan raja baru mereka yang mati terbunuh. Karna pesta itu didengar oleh masyarakat pajih maka malam itu juga kelompok Pajih mulai mengadakan siasat untuk melakukan penyerangan. penyerangan kembali terjadi, peperangan itupun kembali menewaskan raja dari Demong yaitu adik kandung daripada raja yang pertama yang bernama Ekan Watan Lolon.

            Pertumpahan darah terus sajah terjadi di sekitar Gunung Ile Lewotolok yang sekarang dikenal dengan Gunung Ile Ape, namun akhirnya berhasil ditaklukan oleh keturunan Seran Goran. Keturunan Seran Goran memenangkan perlawanan dan keturunan Demong pun menyerah dan kembali ke kampungnya dan diperbolehkan membawa semua hasil alam yang mereka punya seperti padi,kopi, dan masi banyak lagi yang terutamnya menurut cerita adat bahwa sumber mata air yang ada di seputaran Gunung Lewotolok atau Gunung Ile Ape itupun berasal dari tempat mereka. Setelah peperangan terjadi kampung lewokea atau sekarang lebih dikenal dengan Desa Lewotolok kembali tentram. Keharmonisan, rasa kekeluargaan keembali terajut. kini kejadian itu hanya cukup dikenang saja sebagi sejarah masa lalu. Kini Pajih dan demong dikenang melalui tarian khas daerah yaitu tarian perang paji dan demong. Kini pajih dan Demong bukan lagi musuh melainkan keluarga karena saat ini keturunan Pajih dan Demong sudah melakukan hubungan kawin mawin.

            Sampai saat ini keturunan Seran Goran yang waktu itu sebagai pendatang kini dijadikan sebagai keturunan raja, orang besar. Hingga kini disebut sebagai Raja Rayabelen.

Karya : Maria Ose