KOPONG DAN BAREK

Mariana Abon Masan
Karya Mariana Abon Masan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2018
KOPONG DAN BAREK

 

KOPONG DAN BAREK

 

Seting : Desa Lamawato

Pelaku : 1. Kopong

  1. Barek
  2. Demon
  3. Bengan
  4. Raksasa
  5. Raja

 

Angin di malam hari terasa dingin mencengkram tubuh. Dibalik gubuk yang sederhana tinggalah sepasang suami istri yang bernama Demon dan Bengan yang bekerja sebagai pemungut kayu bakar yang hasil pungutan itu dijual untuk menghasilkan uang. Mereka dikaruniai dua orang anak yang sulung bernama Kopong dan yang bungsu bernama Barek. Kehidupan di keluarga ini sangatlah berkekurangan. Disaat makan malam bersama, terlintas dipikiran Demon ingin mengatakan sesuatu kepada sang istri. Seusai makan malam, Demon memerintah Kopong dan Barek untuk segera tidur, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan kepada sang istri, yang mana tidak boleh diketahui oleh Kopong dan Barek.

 

Demon : Ayah ingin berbicara dengan ibu, jadi kalian berdua tidur saja deluan!

(Sesuai perintah, akhirnya keduanya pun beranjak bangun dari tempat duduk dan langsung tidur).

Kopong : Baik ayah. (berdiri menuju kekamar tidur)

(Demon dan Bengan berencana untuk membuang Kopong dan Barek sejauh mungkin dari keluarga karena dianggap hanya bisa menambah beban dalam keluarga).

Demon : Bu, saya tidak sanggup lagi untuk menghidupi keluarga kita, terutama Kopong dan Barek yang cuma bisa menambah beban keluarga.

Bengan : Mendengar keluhan sang suami, lalu berkata : Selama ini ibu juga memendam perasaan yang sama, Ayah.  

Kopong : (Banyaknya nyamuk yang mengganggu suasana tidurnya, akhirnya ia bangun dan berdiri samping pintu. Tanpa sengajah ia pun mendengar perbincangan kedua orangtuanya tadi).

(Keesokan harinya disaat fajar menyingsing Demon dan sang istri serta anak-anaknya pun bangun untuk mulai beraktivitas).

Demon : Kopong, Barek bersiap-siaplah ikut ayah dan ibu ke hutan untuk mencari kayu bakar, (Pintahnya dengan nada keras).

Kopong : Iya Ayah. (Mendengar perintah itu, ia pun mulai membaca pikiran ayahnya tentang perlakuan terhadap mereka bila sesampai di hutan nanti dengan bayangan yang ada, ia pun mulai mengumpulkan kelikir sebanyak mungkin sebagai persiapan menuju hutan).

(Dalam perjalanan, Kopong pun mengambil satu persatu kelikir yang ada dan diletaknya disepanjang perjalanan menuju hutan, dengan maksud agar ia bersama adiknya Barek dapat mengetahui jalan pulang melalui bantuan kelikir yang tersimpan itu. Tibalah mereka di tengah hutan. Sang ayah pun mulai membagi arah pencarian kayu).

Demon : Kalian berdua silakan cari kayunya di arah timur, sedangkan ayah sama ibu mencari di arah selatan, perintahnya.

Kopong dan Barek : Baik ayah.

(Dan yang terjadi setelah itu adalah, Demon bersama istrinya Bengan berbelok untuk pulang ke rumah tanpa pengetahuan kedua anaknya. Selang beberapa jam kemudian, Kopong menyuruh adiknya untuk pulang ke rumah dengan mengikuti arah kelikir yang sudah diletakan sepanjang jalan tadi).

Kopong : De, ayo kita pulang ke rumah! Ikuti saja arah kelikir yang terletak di sepanjang jalan tadi biar kita bisa sampai di rumah.

Barek : iya kak (Berjalan sambil mengikuti arah kelikir).

(Mereka pun berjalan mengikuti arah kelikir yang ada di sepanjang jalan dan akhirnya sampailah juga mereka dirumah dengan selamat. Sesampai didepan pintu, kedua orang tua mereka terkejut akan kehadiran anak mereka, yang sebenarnya sudah dipastikan tersesat).

Demon dan Bengan : (Terkejut dengan kehadiran kedua anak itu, dan menerima kehadiran Kopong dan Barek dengan tangisan yang penuh dengan sandiwara).

(Menjelang malam tersusun kembali rencana yang sama dari kedua orang tua Kopong dan Barek).

Kopong : (Berdiri samping pintu dan tanpa sengaja ia pun mendengar pembicaraan orang tuanya).

(Keesokan harinya, saat matahari terbit, Kopong pun tidak lupa untuk menyiapkan sepotong roti dengan maksud yang sama, seperti halnya dilakukan dengan kelikir dan sang ayah pun kembali mengajak mereka ke hutan).

Demon : Bersiap-siaplah untuk berangkat ke hutan. (ajaknya pada istri dan kedua anaknya untuk kembali mencari kayu bakar di hutan yang lebih jauh dari yang kemarin).

(Dalam perjalanan, Kopong melakukan hal yang sama denga roti yang ada, sebagai petunjuk jalan sepulang nanti. Sesampai di hutan, pembagian arah yang sama pula dilakukan oleh sang ayah. Setelah itu Demon dan Bengan istrinya pun pulang meninggalkan kedua anaknya. Melihat sandiwara yang ada, si Kopong dan Barek kembali pulang mengikuti arah roti yang sudah diletakan sepanjang perjalanan tadi. Namun yang terjadi adalah roti yang ada habis dimakan semut, sehingga tidak ada petunjuk yang jelas yang harus diikuti menuju jalan pulang).

Kopong : (Bingung, dan tiba-tiba ia melihat sebuah pohon yang amat tinggi, dan berusaha untuk naik keatas pohon itu, agar bisa memantau jalan pulang).

(Terlihat sebuah rumah yang sangat terang dan besar. Dan Kopong pun mengajak adiknya untuk pergi kerumah itu).

Kopong : Ada rumah disana dek, ayo kita jalan kesana, (ajaknya).

(Sampailah juga mereka di rumah itu. Namun tak disangka, rumah itu dihuni oleh raksasa yang sangat besar yang biasanya memangsa manusia. Akhirnya Kopong dan Barek ditangkap dan dikurung dalam rumah itu).

Raksasa : (Melihat postur tubuh Kopong dan Barek Dan berkata): Postur tubuh kalian masih terlalu kecil untuk dimakan, aku akan memelihara kalian sampai besar dan disaat itulah aku akan menyantap kalian.

(Suatu ketika, raksasa keluar dari rumah untuk mencari makanan. Kesempatan itu diambil oleh Kopong dan Barek untuk kabur dari rumah itu. Raksasa berusaha mengejar kedua anak itu, namun usahanya hanyalah sia-sia belaka, karena disela ketakutan kedua anak itu, terlihat dari langit ada seekor elang sembari menggenggam seekor anak ayam terbang menghampiri kedua anak itu, dan menyuruh Kopong dan Barek naik keatas punggungnya. Elang itu mengepakan sayapnya dan terus terbang hingga mengantar Kopong dan Barek disebuah kerajaan. Setelah mengantar kedua anak itu, dengan bahasa isyarat, elang pun memberi anak ayam tadi kepada Kopong untuk di pelihara dan setelah itu elang kembali terbang tak tau kemana. Dalam kerajaan itu, dipimpin oleh seorang raja yang bijak dan baik hati).

Raja : Kalian berdua bisa tinggal di kerajaan ini, ucapnya.

Kopong dan Barek : Trimakasih Tuan, sudah menerima kami untuk tinggal dikerajaan ini. (sambil menundukan kepala).

(Waktu pun terus berganti dengan seiring pertambahan umur kedua anak itu, dan kini mereka telah dewasa, serta ayam yang dipelihara juga kini menjadi seekor ayam jantan yang sangat tangguh. Suatu ketika, karena umur raja yang sudah terlalu jauh masuk ke masa tua, ia pun berencana untuk melakukan sayembara).

Raja : Jika salah seorang dari kalian yang menang dalam sayembara ini yaitu sabung ayam, ia berhak diangkat menjadi raja baru dalam kerajaan ini menggantikan posisiku.

Kopong : (Mendengar itu, Kopong menghadap sang raja dan berkata) : Wahai Tuanku, apabila berkenan bisakah hambamu meminta izin untuk turut mengikuti sayembara tersebut?

Raja : (Dengan senyuman raja pun menjawab) : Iya, dengan senang hati kamu bisa ikuti sayembara itu, karena sayembara ini dibuat untuk semua orang yang ingin menjadi raja menggantikan posisiku.

(Keesokan harinya, sayembara pun dibuat. Dan entah ada angin apa, sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh Kopong. Raja sangat bangga dengan kemenangan yang dicapai Kopong. Dan disaat itu juga pelimpahan kekuasaan diberikan kepada Kopong untuk menjadi pemimpin di kerajaan itu. Setahun kepemimpinan telah dijalani, terlintas dipikirannya tentang orang tuanya. Kopong dan Barek pun berniat untuk menjumpai orang tua mereka).

Kopong : (Memerintah pengawalnya untuk mengantar mereka di tempat orang tua mereka tinggal).

(Sesampainya disana, kebingungan orangtua mereka mulai Nampak. Demon dan Bengan tidak mengenal dengan jelas wajah dari Kopong dan Barek).

Kopong : (Menjelaskan tentang semua yang sudah terjadi selama ini)

(Suasana haru kembali Nampak. Air mata pun turut hadir dalam suasana itu. Penyesalan terus diungkapkapkan dari sang ayah atas tindakannya).

Demon : Ayah menyesal telah berbuat seperti itu nak. (Sambil menangis dan memeluk kedua anaknya itu)

Kopong dan Barek : kami sudah memaafkan Ayah dan ibu. Kalau begitu ayah dan ibu pindah ikut kita tinggal bersama di istana saja, ya.

(Demon dan Bengan akhirnya menyesali perbuatan jahat yang telah mereka lakukan terhadap Kopong dan Barek selama ini. Mereka pun pindah dan pergi tinggal bersama di istana. Akhirnya suasana kemiskinan kini sudah hilang. Keluarga kecil itu kini hidup dengan suasana kasih dan dilimpahi kebahagiaan yang luar biasa).

  • view 89