Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 25 Januari 2018   17:45 WIB
Naskah Drama Teing Hang

Naskah drama Teing Hang                                                      Oleh: Maria Ice Ivonia Sarti                                             

(Ketika matahari telah bersinar, tampak Yohana sedang murung di sudut tepat tidur. Ada kesepian dan ketakutan yang tergambar dari wajahnya. Tangannya meremas-remas pakaian bayi yang sudah lama dibelinya. Sesekali mengelus-elus perutnya yang mulai membesar. Kristian, suaminya juga sedih melihat istrinya selalu murung. Kristian menghampiri  Yohana serta membujuknya.)

kristian            : Mang, Momang.

(Jalan pelan menghampiri Yohana lalu duduk di sampingnya)

                         Momang,  tolong jangan seperti ini. Jangan terlalu pikir dengan kejadian yang kemarin kemarin, kita masih ada harapan. Kamu harus tetap sehat agar bayi kita juga sehat. Saya paham bagaimana perasaanmu dan ketakutanmu, saya pun merasakan hal yang sama tetapi jangan sampai perasaan dan pikiran itu yang membunuh harapan kita, Enu.

Yohana            :  Nana, sudah empat kali saya mengalami keguguran tetapi dokter mengatakan bahwa kandungan saya tidak ada masalah. Apa kamu tidak merasa heran tidak ada sebab yang jelas tapi kok tiba-tiba pendarahan, tiba-tiba keguguran. Apa kita telah kena kutukan?                                         (Sambil menahan tangis.)

Kristian           : Enu tolong jangan bicara seperti itu, mungkin yang kemarin itu cobaan buat kita, buktinya kamu mengandung lagi.

Yohana            : (Terbata-bata sambil menangis dan tangannya menarik-narik kerak baju Kristian.)

Terus saya harus apa Nana, kita harus berbuat apa? Bagaimana kalau terjadi apa-apa lagi dengan bayi kita.

(Kristian tidak mampu berkata-kata, butiran-butiran salju mulai bergulir pelan menghujani kedua belah pipinya. Keduanya larut dalam kesedihan.Hari telah berganti malam. Cahaya bulan menghiasi langit memantul cahaya pada alam semesta. Lampu bersinar indah melalui celah jendela kamar. Suara jangkrik dan burung-burung malam terus bersahut-sahutan memecahkan sunyi pada malam yang membugkam. Semua sudah terlelap dalam tidur. Mimpi aneh mulai hadir dalam mimpi malam mereka. Ketika jam satu malam tiba-tiba Yohana terbangun dan teriak histeris. Badannya berkeringat, bulu kuduknya berdiri, dia merinding ketakutan. Teriakannya membangunkan Kristian yang tidur di sampingnya.)

Kristian           : Momang ata so ite?

Yohana            : Aku mimpi buruk Nana.

Kristian           : Nipi so Enu?  

Yohana            : Nene Lusia yang meninggal 7 tahun lalu itukah Nana muncul dalam mimpi. dia datang dengan marah-marah dan mengatakan bahwa kita sudah lupa dengan dia.

Kristian           : Ia Enu, terus.

Yohana            : Setelah itu, dia mendekati saya dan mengambil kalung emas kesayangan saya dengan paksa, lalu menghilang.

Kristian           : Saya jadi merinding Enu, ew.

(Yohana terdiam sejenak lalu bicara lagi.)

Yohana            : Momang, saya jadi teringat tahun-tahun sebelumnya, saya juga mimpi tentang itu. Saat itu, sama saya dalam keadaan seperti ini.

Kristian           : Mengandung maksudmu?

Yohana            : Ia, masa tidak ingat Nana mimpi yang saya ceritakan dulu. Iih memang dari dulu ingatanmu parah.

Kristian           : Betul saya memang tidak ingat Momang, mungkin terlalu pusing dengan kerjaan.

Yohana            : Jangan banyak alasan, kita harus telepon keluarga di Kampung dan tanyakan tentang mimpi itu. Saya merasa ada maksud tertentu dari mimpi itu, tetapi apa?

Kristian           : Apa lagi saya Nu, tidak tahu sama sekali maksud dari mimpi itu. Besok saja kita telepon ew, ini sudah larut malam, nanti mereka panik lagi. Ayo tidur lagi.

(Keduanya tertidur. Ketika pagi hari,Yohana merasakan perutnya melilit. dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia keluar masuk kamar mandi sudah beberapa kali.)

Kristian           : Enu, buat apa di depan Kamar mandi, saya heran suka sekali duduk di depan kamar mandi seperti tidak ada tempat lain saja, hehehe... (tertawa).  Saya ke Kantor dulu Say.

(Dia berusaha menggoda istrinya. sambil mendekati Yohana)

Yohana            : Nana, perut saya melilit terus dari tadi, saya sudah keluar masuk kamar mandi beberapa kali.

(Kristian lari menuju Kamar menagambil botol minyak)

Kristian           : Ya sudah, kita langsung ke Rumah Sakit saja ya. Enu tidak beritahu saya Jadi, saya tidak tahu apa yang terjadi padamu.

Yohana            : Saya baru merasakan perut saya melilit setelah kamu selesai makan, terjadi secara tiba-tiba Na. Saya tidak sempat panggil kamu.

Kristian           : Bagaimana sekarang, sudah membaik?

Yohana            : Ia lumayan, minyak nona masmu lumayan ampuh.

(Sambil tersenyum. Tempo beberapa menit)

                        ouh... Sakit Momang ew.

Kristian           : Ia Sayang Saya tahu, oleh karena itu kita Ke Rumah Sakit!

Yohana            : Momang, sudah tanya belum maksud dari mimpi semalam?

Kristian           : Nanti saja kita bicara tentang mimpi itu, yang terpenting sekarang Enu dan Bayi kita sehat, kita ke Rumah Sakit. Ayo.

Yohana            : Kamu pikir telepon mereka juga tidak penting ke?                       

(Sambil melangkah menuju ruang tamu.)

                        Kamu pasti belum menceritakan mimpi itu, Kristian mereka itu orang tua, kehidupan kita terikat oleh adat dan hanya mereka yang mengetahui sesuatu yang berkaitan antara mimpi dengan kenyataan. Kamu seperti bukan orang Manggarai saja. Nuk tae data tu’a neka hemong kuni agu kalo!          (Matanya sampai melotot)

Kristian           : Kamu ini marah-marah hanya karena mimpi tidak jelas. Kamu masih percaya dengan itu? Kejadian nyata dengan mimpi itu tidak ada hubungannya. Itu hanya mitos dan apabila terjadi sesuatu, semua hanya kebetulan. Dan juga neka hemong kuni agu kalo yang kamu katakan berarti jangan lupa tanah kelahirankan, saya tidak pernah lupa dengan kampung halaman, Nu.

Yohana            : Nana, neka hemong kuni agu kalo yang di maksud bukan hanya itu, tetapi juga adat istiadat dan kepercayaan yang diwariskan turun temurun jangan sampai kita lupa meskipun kita jauh dari Manggarai. Saya tahu kamu memang tidak percaya dengan hal yang seperti itu. Dan kamu ingatkan tahun lalu juga, saya memimpikan mimpi yang sama. Waktu itu, kamu juga tidak peduli. kamu ingat yang terjadi setelah itu saya keguguran. Iya, saya pikir semua terjadi secara kebetulan dan tidak ada hubungannya. Jadi, apa salahnya kita tanya dulu kepada mereka. Kalau kamu tidak telepon biar saya yang bicara dengan mereka dan kalau perlu siapkan tiket biar saya pulang ke Kampung saja.

Kritian            : Kamu gila kow?

Yohana            : Ia gila karena kamu yang keras kepala itu, mau punya anak tapi....

Kristian           : Ia, Ia saya telepon sekarang, Enu duduk saja di situ eww, de wina momang ge neka rabo ga tapi poli telepon kita ke Dokter ew?

(Dia langsung menuju kamar mengambil HP lalu menelepon Keluarganya. sekitar 4 menit berlalu Kristian keluar dari kamar masih bicara dengan seseorang melalui HP )

Kristian           : Io Ende, io, ita ami one.

Yohana            : Bagaimana Nana?

Kristian           : Mereka katakan kalau mimpi itu pertanda bahwa Ende Tina sedang marah dengan kita karena tidak pernah pulang untuk mensyukuri segala yang kita miliki dengan membuat adak teing hang. Teing Hang itu merupakan upacara memberi makan kepada leluhur atau orang tua yang sudah meninggal.

Yohana            : Barang kali karena itulah saya keguguran terus. Kalung emas yang diambil paksa seperti yang terlihat dalam mimpi bukanlah bermaksud kalung sungguhan tetapi...  (ekspresinya mulai berubah) anak kita, Mang.

Kristian           : Enu, sudah jangan pikir macam-macam yang lalu biarlah berlalu. Kita di minta untuk membuat acara teing hang. Dan mereka suruh kita pulang untuk membuat adak teing hang.

Yohana            : Baguslah, kita harus pulang secepatnya buat acara itu, lagian saya sangat merindukan semua keluarga di Kampung.

Kristian           : Enu semangat sekali,                                  

 (Yohana langsung potong pembicaraan)

Yohana            : Jadi, kamu tidak mau pulang,

(Yohana langsung potong pembicaraan kemudian lari masuk kamar)

Kristian           : Salah lagi.

(Langsung Nyusul Yohana masuk ke dalam kamar, beberapa saat keluar lagi)

Kristian           : Ayo, kita ke Rumah Sakit.

(Yohana hanya mengikuti langkah suaminya pergi ke Rumah Sakit. Setelah mempersiapkan barang-barang dan semua yang mereka butuhkan untuk perjalanan pulang. Tanggal, 09 Juli 2016 Yohana dan Kristian berangkat ke Manggarai. Mereka di sambut dengan sangat bahagia oleh keluarga besar. Keesokan harinyaKristian dan Yohana pergi ke Kampung halaman Yohana untuk membuat acara teing hang.)

Yohana            : Jangan lupa siapkan manuk lalong bakok.

(Yohana yang masih dibaluti handuk sehabis mandi menghampiri Kristian yang duduk di ruang TV)

Kristian           : Sudah enu, semua sudah siap, tinggal sebentar sore kita pergi berdoa di Kuburan. dan sebentar malam langsung buat acara.

Yohana            : Oh, syukurlah kalau begitu. Nana, pergi mandi sudah.

(Yohana masuk ke dalam kamar dan Kristian langsung ke kamar mandi)

Ende Gita        : Enu, Nana mai ga ngo cama-cama ngaji le Boa

Yohana            : Io Ende, ta ga. Nana, mari sudah kita pergi berdoa di Kuburan.

(Dia mengajak Kristian yang sedang berbincang-bincang dengan anak-anak yang bermain di depan rumah. Kristian langsung berdiri meninggalkan mereka)

Kristian           : Ia Enu.

Ende Gita        : Neka hemong ba lilin Enu.

(Yohana yang sedang duduk di kursi segera mengambil lilin yang tersimpan di atas lemari. Tidak lupa juga Yohana menyelipkan peniti dan bawang putih di balik bajunya agar makhluk-makhluk halus tidak mencium bahwa dia sedang mengandung. Kristian hanya tersenyum melihat istrinya seperti itu. Mereka menuju ke perkuburan. Di sana mereka membesihkan kuburan. Setelah selesai bersih mereka berdoa. Senja yang terukir pelan telah berganti malam. Satu persatu keluarga mulai berkumpul di Rumah Yohana. Amang Bela sebagai pemandu torok tae atau bahasa kiasan sudah datang. Setelah semuanya kumpul Amang Bela meminta semua yang diperlukan diantarkan ke hadapannya.)

Amang Bela    : Enu Hana agu Ite Nana Tian lonto ruis ce’e

Kristian           : Io Amang,

(Kristian beranjak dari tempat duduknya yang disusul oleh Yohana duduk di samping Om Bela. Sekitar pukul 08.00 upacara teing hang dimulai. Amang Bela memegang ayam jantan putih. pandangannya mengarah ke depan lalu mulai mengucapkan doa khusus.)

Amang Bela    : Yo Kraeng Pa’ang ble agu ite Ende Lusia, ha’o taungs sangget ngasang anak, wote agu empon. Ata one tana data mole, ho’o taung ise. Ai dite ho’o de itang one nipi lise anak Yohana agu Kristian. Manga de rabo ite le toe di teing hang. one mai rabo ho de ga mangas ita calang one weki: ringing tis, nepo leso. Kali le toe teing hang ite. Ho’o kali lami ga, lalong bakok teing hang. Kudut palongs koe nai bakok. Kudut Totos nai molor dite. Kudut widangs di’a, patis ngalis. kudut widangs mocok neteng moso, hasil neteng uma. Neka mangas peleng nger le, pacu nger lau. Neka teing ringing tis. Neka patis nepo leso. Latang anak dite Yohana ata weki mendo porong jaga koe lite sampe agu gerak tana hia. Neka koe pele lite salang da. Kepok.

(Setelah mengucap Doa khusus atau mantra yang berisi pujian dan juga permintaan kepada nenek moyang supaya anak-anak dan cucu-cucunya dianugrahi rezeki dan dijauhi dari kemalangan, Amang Bela langsung mencabut bulu ayam itu lalu menyerahkan ayam itu kepada keluarga Yohana untuk disembelih. Hati ayam serta beberapa bagian daging dibakar khusus untuk diberikan kepada leluhur. Setelah dibakar masuk pada acara helang yaitu memberikan makanan kepada leluhur yang disiapkan dalam piring warna putih. Acara itu ditutup dengan makan malam.                                                                                         Tutup tahun 2016 bersamaan dengan kemeriahan Hari Natal keluarga kecil itu mendapatkan hadiah terindah dengan tangisan bayi mungil di pangkuan Kristian. Pangeran kecil yang hadir menghidupkan senyum dan tawa yang sempat tawar karena kegelisahan yang pernah mengguncang hati mereka. Tapi tidak lagi, dentuman kembang api kemeriahan Natal dan Kemeriahan menyambut tahun baru 2017 membawa harapan baru untuk keluarga kecil itu. Butiran salju mengalir hangat di belahan pipi Kristian.)

Kristian           : Terima kasih Momang.

(Kemudian  mengecup kening istinya dan kemudian cium pipi putranya. Yohana membalas ucapan suaminya dengan senyuman. Senyuman itu merekah seperti bunga yang baru mekar di pagi hari. Senyuman yang pernah hilang selama beberapa tahun terakhir telah kembali menghangatkan keluarga kecil itu.)

Kristian           : Kita harus pulang dan merayakan tahun baru bersama keluarga di Kampung sekaligus pande adak teing hang.

(Yohana hanya tertawa menanggapi ajakannya. Keduanya tertawa lepas saat anaknya pipis membasahi celana Kristian.

 

 

 

                                                                        SELESAI

 

 

 

 

Karya : maria ice ivonia sarti