Cerpen "Teing Hang"

maria ice ivonia sarti
Karya maria ice ivonia sarti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Desember 2017
Cerpen

                                                            Teing Hang                                                                                                                           Oleh : Maria Ice Ivonia Sarti

           Mentari pagi telah memancarkan sinarnya ke tiap-tiap sudut kota kupang. Menyapa manusia yang hilir mudik memulai segala aktifitas. Semangat pagi terpancar dari raut wajah mereka. Pemandangan lain tampak berbeda, rumah besar nan megah itu tampak sepi. Sepasang suami istri membeli rumah itu setelah mereka menikah lima tahun yang lalu. Yohana dan Kristian, itulah nama yang biasa disapa oleh semua orang. Mereka dikenal sangat baik dan ramah. Kehidupan yang serba ada, keluarga yang penuh kasih sayang dan harmonis membuat keduanya nyaris hidup sempurna. Namun, segala yang mereka miliki tidak menjamin kebahagiaan tumbuh lama sebab mereka tidak mampu menerima kenyataan yang ada. Kerinduan Yohana dan Kristian untuk menggendong bayi belum terwujud. Yohana sudah empat kali mengalami keguguran. Ia yang periang berubah menjadi pendiam setelah mengalami keguguran. Yohana merasa tidak sempurna sebelum rahimnya melahirkan anak-anak yang lucu. Kerinduan yang sangat dalam membuatnya murung sepanjang waktu.

Kristian juga sedih melihat istrinya selalu murung. Dia berusaha membujuk Yohana agar tidak memikirkan hal-hal ysng membuatnya sedih. Apa lagi Yohana sedang mengandung dan sudah memasuki bulan ketiga. Dia hanya takut kejadian yang sama akan terulang lagi.

Mang… Momang,” Kristian memanggil istrinya dengan kata sayang sembari mendekati Yohana yang duduk termenung di samping tempat tidur.                            Yohana hanya menoleh ke arah suaminya tanpa menjawab.

Momang. Tolong jangan seperti ini. Jangan terlalu pikir dengan kejadiaan yang kemarin-kemarin, kita masih ada harapan, kamu harus tetap sehat agar bayi kita juga sehat. Saya paham bagaimana perasaanmu dan ketakutanmu, saya pun merasakan hal yang sama tapi jangan sampai perasaan dan pikiran itu yang membunuh harapan kita, Enu,” lanjut Kristian.

Nana, sudah empat kali saya mengalami keguguran tapi dokter mengatakan bahwa kandungan saya tidak ada masalah. Apa kamu tidak merasa heran tidak ada sebab yang jelas tapi kok tiba-tiba pendarahan, tiba tiba keguguran,” jawab Yohana sambil menahan tangis.

“ Apa kita telah kena kutukan?” lanjut Yohana.

“ Enu, tolong jangan bicara seperti itu, mungkin yang kemarin itu cobaan buat kita, buktinya sekarang kamu sedang mengandung lagi.“

“Terus saya harus apa Nana, kita harus berbuat apa? Bagaimana kalau terjadi apa-apa lagi dengan bayi kita,” jawab Yohana terbata-bata.                                                         Matanya mengalirkan butiran-butiran salju, mengalir bagai air sungai. Tangannya menarik-narik kerak baju Kristian seakan meminta jawaban atas semua yang telah terjadi.                                     Bola mata Kristian memancarkan kesenduan, ada mendung di sana, di langit-langit mata itu yang mungkin sebentar lagi menghujani kedua belah pipinya. Keduanya, larut dalam kesedihan.

                                              ****

Hari terus berlalu, malam pun berganti.                                                                      Cahaya bulan kembali menghiasi langit memantulkan serpihan serpihan cahaya kepada alam semesta. Lampu-lampu memberikan pancaran sinar yang indah melalui jendela kamar pemilik alam. Suara jangkrik dan burung-burung malam terus bersahut-sahutan memecahkan sunyi pada malam yang membungam. Hembusan angin seperti membisik lembut daun telinga hingga mampu membius sampai tertidur lelap.                                               Suasana semakin mencekam ketika mimpi-mimpi aneh selalu hanyut dalam tidur malam mereka. Malam itu, Yohana dan Kristian duduk dl ruang keluarga tiba – tiba ada yang mengetuk pintu rumah,

“Tok…tok,“ suara ketukan terdengar.

“ Ia sebentar,” sahut Kristian sambil melangkah pelan membukakan pintu.

Hae, Nene.. So tara toe olo tombo mai Dite. Manga perlu apa Dite se?” Kristian sangat kaget melihat neneknya ada di depan rumahnya.                                                        Ia hanya mampu bertanya alasan neneknya datang ke Kupang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Tanpa bicara sepatah kata pun Neneknya melangkah masuk meninggalkan Kristian yang berdiri mematung di samping pintu. Wanita tua itu mendekati Yohana dengan ekspresi yang sama. Masih diam. Wajahnya memperlihatkan kemurkaannya kepada keluarga kecil itu

.           “Hemong kaut aku le meu ge anak, toe keta ngo la’at aku meu danung ga,” Nenek berbicara dengan nada ketus.                                                                                       Kemudian tangannya mengulur keleher Yohana dan mengambil paksa kalung emas kesayangan yang dipakai Yohana kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Nene... asi emin kalung hitu,” Yohana berteriak histeris dan meminta wanita tua untuk tidak mengambil kalungnya.                                                                                                       Dia mengejar sang nenek tetapi nenek telah menghilang dalam sekejap di depan matanya. Sontak dia terbangun dari tidurnya tepat jam 1 malam. Badannya keringatan, kepalanya seperti mengembang, bulu kuduknya berdiri, dia merinding ketakutan.Teriakan Yohana membangunkan Kristian yang sedang tidur di sampingnya.

Momang ata so Ite,” Kristian menanyakan keadaan istrinya.

“Aku mimpi buruk ew Nana.’’

Nipi so enu?” kembali Kristian menanyakan bagaimana mimpinya.

Lalu Yohana mulai menjelaskan perihal mimpi tersebut. Dia mengatakan bahwa dalam mimpi tersebut Nenek Lusia yang telah meninggal 7 tahun yang lalu datang ke Kupang. Kelihatannya sangat marah. Neneknya mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengunjungi dia. Neneknya menganggap Yohana dan Kristian telah melupakan dia. Setelah bicara seperti itu Nenek langsung mengambil kalung emas yang masih melingkar di leher Yohana. Kemudian menghilang dari hadapan mereka.                                                          Setelah menceritakan mimpi tersebut Yohana seperti mengingat-ingat sesuatu. Ternyata mimpi tersebut pernah dimimpikanya dulu sebelum dia mengalami keguguran. Dalam hati dia menafsirkan bahwa kalung emas yang dimaksud bukanlah bermakna kalung sebenarnya tetapi anak yang dikandung Yohana. Oleh karena itu, Yohana meminta suaminya untuk menghubungi keluarganya di Kampung dan menanyakan arti mimpi tersebut. Kristian yang juga kebingungan dengan maksud dari mimpi tersebut hanya menyetujui permintaan Yohana. Namun, Kristian menyarankan supaya besok pagi saja baru telepon. Dia takut keluarganya panik kerena telepon malam-malam. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama tanpa sadar keduanya sudah terlelap.                                                                                                                                                    ****

Pagi hari ketika sang surya telah bersinar, Yohana merasakan perutnya melilit. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia menuju ke kamar mandi, beberapa menit kemudian keluar lagi. Dia keluar masuk kamar mandi sudah beberapa kali. Kristian yang ingin bergegas ke Kantor jadi panik. Kristian mengajak istrinya untuk pergi ke Dokter kandungan. Ajakan Kristian tidak dihiraukan oleh Yohana. Dia malah menanyakan apakah Kristian sudah telepon keluarga di kampung serta menanyakan maksud dari mimpi tersebut. Pertanyaan itu membuat Kristian berbicara cukup tegas kepada istrinya bahwa dalam keadaan seperti itu dia harus memikirkan diri dan bayinya bukan malah menanyakan mereka di kampung. Ternyata jawaban itu hanya memancing emosi Yohana.

“Kamu pikir telepon mereka juga tidak penting ke?” jawab Yohana sambil meninggalkan kamar mandi menuju ruang tamu yang diikuti Kristian.                  Tangannya memegang perut yang masih terasa sakit. Kemudian duduk di sofa.

“Kamu belum menceritakan mimpi itu kepada merekakan, Kristian mereka Orang tua, kehidupan kita terikat oleh adat dan hanya mereka yang mengetahui sesuatu yang berkaitan antara mimpi dan kenyataan. Kamu seperti bukan orang Manggarai saja. Nuk tae data tu’a neka hemong kuni agu kalo,” ujar Yohana sampai melotot.

“Kamu ini marah-marah hanya karena mimpi tidak jelas. Kamu masih percaya dengan itu? Kejadian nyata dengan mimpi itu tidak ada hubungannya. Itu hanya mitos dan apabila terjadi sesuatu, semua hanya kebetulan. Dan juga neka hemong kuni agu kalo yang kamu katakan berarti jangan lupa tanah kelahirankan, saya tidak pernah lupa dengan kampung halaman Nu

Nana, neka hemong kuni agu kalo yang di maksud bukan hanya itu tapi juga adat istiadat dan kepercayaan yang diwariskan turun temurun jangan sampai kita lupa meskipun kita jauh dari Manggarai. Saya tahu kamu memang tidak percaya dengan hal yang seperti itu. Dan kamu ingatkan Tahun lalu juga saya memimpikan mimpi yang sama. Waktu itu, kamu juga tidak peduli. kamu ingat yang terjadi setelah itu saya keguguran. Iya... Saya pikir semua terjadi secara kebetulan dan tidak ada hubungannya. Setelah mimpi tadi malam sama dengan mimpi tahun lalu dan hari ini perut saya sakit. Jadi, apa salahnya kita tanya dulu kepada mereka,” Yohana semakin berapi-api menjelaskan semuanya agar suaminya mau mengerti.

“Kalau kamu tidak telepon biar saya yang bicara dengan mereka dan kalau perlu siapkan tiket biar saya pulang ke kampung saja,” sambung Yohana mengancam suaminya. “Kamu gila kow....”                                                                                                               “Ia gila karena kamu yang keras kepala itu, mau punya anak tapi....”                                   

“Ia.. Ia saya telepon sekarang, Enu duduk saja di situ eww, de wina momang ge neka rabo ga tapi poli telepon kita ke dokter ew,” Kristian langsung memotong pembicaraan Yohana dengan mengiakan permintaannya dan membujuk Yohana serta meminta maaf.

Kemudian Kristian mengambil ponselnya lalu menghubungi keluarga di kampung.           Pagi itu, Kristian menghubungi keluarganya di kampung. Dia menceritakan mimpi Yohana kepada keluarganya. Mendengar cerita mimpi itu, mereka menyadari bahwa setelah mereka menikah dan sudah sukses secara materi Yohana dan Kristian belum pernah pulang ke Manggarai mensyukuri anugerah yang mereka terima. Keluarga menyarankan agar mereka pulang kampung untuk melakukan acara teing hang. Keluarga menjelaskan bahwa teing hang merupakan upacara memberikan makan kepada leluhur atau orang tua yang sudah meninggal. Menurut ata pecing atau penafsir, mimpi itu memperlihatkan bahwa Yohana dan Kristian lupa pada leluhur yang telah meninggal. Barangkali karena itulah Yohana selalu mengalami keguguran. Acara teing hang juga sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada para leluhur. Karena dipercaya dialah yang menahan angin puyuh, semua sakit, dan berdoa kehadapan Tuhan Pencipta untuk keselamatan sehingga mereka ada sampai saat ini.

Enu agu nana,Ende Tina memanggil anaknya Kristian dan anak mantunya Yohana saat berkomunikasi melalui telepon.                                                                                               Enu dan nana Itulah sebutan yang biasa digunakan untuk memanggil anak perempuan dan laki-laki dalam bahasa Manggarai, entah dipanggil oleh orang tua ataupun oleh teman sebaya.    “Mai se’e de’its sepisa ga kali manga ita le di’a hia enu kole, mai pande adak teing hang se’e. Kali itu itang one nipi hitu tara gugur terus hia enu ana. Mai se lau mai maram seminggu na,” Ende Tina menyuruh keduanya pulang kampung.                                Katanya biar hanya satu minggu untuk membuat acara teing hang.                                                         “Io Ende manga ita ami one,” jawab keduanya hampir bersamaan.         Keduanya menyetujui permintaan dari Mama Tina untuk pulang kampung. Pembicaraan mereka sangat singkat karena Yohana harus ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kandungannya. Apa lagi dalam waktu dekat mereka pulang ke Manggarai. Untunglah kondisinya masih normal hanya kontraksi biasa. Namun, kalau terus-terusan mengalami seperti itu akan membahayakan janin. Itulah yang dikatakan oleh Dokter.                                Setelah mereka mempersiapkan barang-barang dan semua yang mereka butuhkan untuk perjalanan pulang. Pada Sabtu, 9 Juli 2016 mereka berangkat ke Manggarai. Pada hari Minggu, mereka tiba di Manggarai tepatnya di Paka Denge kampung halaman Kristian. Mereka disambut dengan sangat bahagia oleh keluarga besar. Keesokan harinya Kristian dan Yohana pergi ke Kampung halaman Yohana untuk membuat acara teing hang. Mengingat yang muncul di dalam mimpi adalah Neneknya Yohana maka acara tersebut dibuat di rumah orang tua Yohana. Keluarga sudah menyiapkan manuk lalong bakok atau ayam jantan putih untuk dijadikan kurban serta manuk rae atau ayam yang berbulu merah. Tujuan utama dari upacara ini adalah supaya para leluhur tidak murka oleh karena Yohana dan suaminya melupakan mereka.

Enu agu Nana sebelum pande adak tong wie, mai ga ngo sama ngo ngaji le boa,Ende Gita, Mama Yohana mengajak mereka untuk berdoa di kuburan tempat Nenek dan para leluhurnya dikuburkan.                                                                                                            “Neka hemong ba lilin Enu,” lanjut Ende Tina mengingatkan.                             Yohana yang lagi duduk di kursi segera mengambil lilin yang tersimpan di atas lemari. Tidak lupa juga Yohana menyelipkan peniti dan bawang putih di balik saku bajunya agar makhluk-makhluk halus tidak mencium bahwa dia sedang mengandung. Meskipun bertahun-tahun dia hidup di Kota namun dia tidak lupa tentang kepercayaan yang sudah melekat turun temurun yang dipercaya oleh keluarganya. Kristian hanya tersenyum melihat istrinya seperti itu. Mereka menuju ke perkuburan. Di sana mereka membersihkan kuburan. Setelah selesai bersih mereka mulai berdoa. Dalam doa tersebut mereka mengajak semua para leluhur untuk ikut hadir pada acara teing hang nanti malam.

                                                ****                                                                                        Senja telah terukir di ujung Barat. Pelan tapi pasti siang telah berganti malam. Satu persatu keluarga mulai berkumpul di Rumah Yohana. Amang Bela sebagai tua adat dan juga sebagai pemandu torok tae sudah datang. Dia diundang khusus untuk memandu upacara teing hang tersebut. Sebagai tua adat dan pemandu dia bisa bahasa torok tae atau bahasa kiasan kepada leluhur. Setelah semuanya kumpul Amang Bela meminta semua yang diperlukan diantarkan ke hadapannya.                                                                                                                        “Enu Hana agu ite Nana Tian lonto ruis ce,Amang Bela mengajak Yohana dan Kristian duduk di sampingnya.                                                                                                      “Io... Amang,” jawab Kristian sambil beranjak dari tempat duduknya yang disusul oleh Yohana duduk di samping Om Bela.                                                                         Sekitar jam 08.00 malam upacara teing hang dimulai.

Amang Bela mulai menuturkan torok tae dengan menyapa orang yang sudah meninggal yang mereka yakini ada di sekitar mereka. Dalam toroknya dia mengatakan bahwa seluruh keluarga sudah berkumpul dan mereka mengakui bahwa mereka malas untuk bergerak, tak gegas berdiri, itulah sebabnya tinggallah sakit dalam daging, berdiamlah sakit dalam tulang. Setelah itu, dia mengatakan ternyata Ende Lusia terpaut rasa marah, oleh karena itu, inilah manuk rae dari Cucumu Yohana dan Kristian serta keluarga besar, inilah             manuk rae untuk mengundangmu. Selain itu, kami juga mengundang dan memanggil para leluhur untuk duduk bersama di sini, supaya mendengar keluh kesah kami. Ayamlah yang akan dikurbankan untuk memberi kalian makan, supaya ada rezeki, supaya kalian jangan acuh tak acuh terhadap kami, supaya jangan ada sakit menimpa kami. Inilah ayam untuk mengundang kalian.                                                  

Setelah menyampaikan sapaan terhadap orang yang meninggal, Amang Bela memegang ayam jantan putih, mengarahkan matanya ke depan. Dia menyampaikan kembali struktur yang sama pada bagian terdahulu. Setiap satu bait torok selesai, ia mencabut bulu ayam sehingga ayam itu menggeluarkan suara.                                                              “Yo, Ende Lusia, Eta lawang ised ngasang ka’e wan lawang sangget anak, wote agu empo, ata one tana datad mole, ho’o taung ise. Ai dite ho’o de itang le nipi lise anak dite. Rugi ite Ende Lusia le toe di teing hang. One mai rugi ho’o di wali ga mangas ita calang one weki: ringing tis, nepo leso. Kali le toe teing hang ite. Ho’o kali lami ga, lalong bakok teing hang. Kudut palong koes nai bakok dite, kudut totos nai molor dite. Kudud widangs di’a, patis ngalis. Kudud widangs moncok neteng moso, hasil neteng uma. Neka mangas peleng nger le, pacu nger lau. Neka teis ringing tis. Neka patis nepo leso,” Pak Bela memulai ritual dengan mantra atau doa khusus.                                                                                   Mantra itu berisi pujian sekaligus permintaan kepada nenek moyang supaya anak-anak dan cucu-cucunya dianugerahi rezeki dan dijauhi dari kemalangan. Oleh karena itu manuk lalong bakok dan manuk rae dikurbankan untuk leluhur.                                                                       “Jika itu yang menjadi penyebabnya inilah ayam jantan putih untuk memberikanmu makan: supaya kebaikan diberikan, keluasan dibagi, jalan dibuka, jalan diberi. Supaya kemurahan jatuh, supaya tanah memberikan hasil di setiap “[1]moso”, berikan berkat bagi semua anak dan cucumu. Supaya rezeki ada di setiap rumah. Supaya hidup mereka seperti “[2]pongkor” di bukit. Supaya seperti “[3]pateng” di dalam air. Mama Lusia diberi makan ayam jantan putih. Terimalah di sana, Mama Lusia,” lanjut Amang Bela.

            Setelah itu, penutur torok mencabut bulu ayam tersebut, lalu menyerahkan ayam itu untuk disembelih. Hati ayam serta beberapa bagian daging dibakar khusus untuk diberikan kepada leluhur. Setelah dibakar masuk pada acara helang yaitu memberikan makanan kepada leluhur yang disiapkan dalam piring warna putih. Bersamaan dengan itu, Yohana dan keluarga yang hadir dalam upacara itu juga menyantap hidangan yang sama. Acara itu ditutup dengan makan malam bersama.

Tutup tahun 2016 bersamaan dengan kemeriahan Hari Natal Keluarga kecil itu mendapatkan hadiah terindah dengan hadirnya tangisan bayi mungil di pangkuan Kristian. Pangeran kecil yang hadir menghidupkan senyum dan tawa yang sempat tawar karena kegelisahan yang pernah mengguncang hati mereka. Tapi tidak lagi, dentuman kembang api kemeriahan Natal dan kemeriahan menyambut tahun baru 2017 membawa harapan baru untuk keluarga kecil itu. Butiran salju mengalir hangat di belahan pipi Kristian.                               “Terima kasih, Momang,” kata Kristian sambil mengecup kening Yohana.

Yohana membalas ucapan suaminya dengan senyuman. Senyuman itu merekah seperti bunga yang mekar dipagi hari. Senyuman yang penah hilang selama beberapa tahun terakhir telah kembali menghangatkan kehidupan keluarga kecil itu.       

“Kita harus pulang, dan merayakan tahun baru bersama keluarga di kampung sekaligus pande adak Teing Hang.” kata Kristian.                                                                   Yohana hanya tertawa menanggapi ajakan suaminya.

 

                                                            SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

Acara Teing hang ini merupakan tradisi yang benar-benar ada dan masih dipercaya oleh Masyarakat Manggarai. Acara teing hang ini dilakukan, pertama, karena ada sakit berkepanjangan lalu munculah mimpi bertemu leluhur yang telah meninggal. kedua teing hang dilakukan pada saat upacara penti, baik di akhir panen maupun pada saat pergantian tahun.

[1] Moso adalah jari telunjuk yang dipakai sebagai ukuran ketika membagi tanah Lingko

[2] Pongkor adalah gundukan tanah seperti bukit yang mudah terlihat.

[3] Pateng adalah bagian dalam dari kayu yang keras. Meskipun disimpan dalam air kayu ini tidak akan lapuk atau rusak. Pateng kerap menjadi simbol ketahanan, kesetiaan, dan ketabahan.

  • view 146