Makna Gotong Royong dalam Masyarakat

Makna Gotong Royong dalam Masyarakat

maria f s baghong
Karya maria f s baghong Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Januari 2018
Makna Gotong Royong dalam Masyarakat

MAKNA SOSIAL GOTONG ROYONG DALAM  MASYARAKAT

Oleh

Maria f.s Baghong

Mahasiswa PBSI UMK

 

ABSTRAK

 Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui secara jelas solidaritas masyarakat dalam upaya membangun Makna Sosial Gotong Royong Dalam masayarakat. Untuk mengetahui proses pelaksanaan Makna Sosial Gotong Royong Dalam masayarakat.    Metode yang di gunakan penelitian kuantitatif eksplanatoris penelitian eksplanasi yaitu tipe penelitian untuk memperoleh kejelasan atau menjelaskan suatu fenomena, menjelaskan hubungan dan menguji hubungan antar variabel yang diteliti. Penelitian eksplanasi ini dilakukan untuk menguji hipotesis dengan statistik korelasional untuk generalisasi data sampel pada populasi dengan menarik sampel secara dari suatu populasi yang diteliti Teknik pengumpulan data dengan cara 1.)Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode Tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentuyang diamati.Teknik observasi dimaksudkan untuk mengungkapkan fenomena yang tidak diperoleh dari angket, kuesioner. 2.)Wawancara Wawancara ini akan dilakukan dengan masyarakat, toko-toko masyarakat dan pemerintahan setempat untuk memperoleh informasi tentang kegiatan gotong royong yang diadakandi lingkungan tersebut.

Kata kunci:Makna sosial, gotong royong,masyarakat

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Perkembangan jaman yang semakin modern turut membawa perubahan terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai kebudayaan perlahan mulai ditinggalkan sebagai bentuk modernisasi dan gaya hidup modern. Wujud dari perubahan yang terjadi terlihat pada gaya hidup yang mewah dan individualis. Menurut Saebani (2012:181) Perubahan budaya dapat timbul akibat terjadinya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain.

Perkembangan budaya global atau sering disebut dengan istilah terutama pandangan akan budaya lokal yang tradisional menjadi kebudayaan yang modern. Tentu hal tersebut berdampak buruk baik bagi kebudayaan yang telah ada maupun bagi masyarakat yang manakala ada ketidaksesuaian dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.

Dampak perubahan jaman yang semakin berkembang saat ini dialami oleh masyarakat.Salah satu dampaknya yaitu adanya pergeseran budaya yang biasa dilakukan warganya dalam rutinitas keseharian. Masuknya budaya asing yang sebagian besar merupakan hal baru bagi masyarakat dan tidak sesuai dengan tradisi masyarakat yang telah ada menambah pengaruh terhadap bergesernya budaya. Pergeseran tersebut nampak pada cara pandang masyarakat terhadap nilai budaya gotong royong. Pandangan masyarakat terhadap nilai budaya gotong royong tidak lagi sebagai sebuah kepentingan akan kebutuhan sosial, tetapi telah dipengaruhi oleh unsur komersil dalam artian untung atau rugi. Masyarakat telah memandang budaya gotong royong sebagai sesuatu yang kuno dan tradisional. Sehingga sedikit demi sedikit masyarakat mulai meninggalkan kebia Menurut Bintarto (1980:10) mengemukakan “gotong royong dalam bentuk tolong menolong ini masih menyimpan ciri  khas gotong royong yang asli. Jenis gotong royong ini berupa tolong menolong yang terbatas di dalam lingkungan beberapa keluarga tetangga atau satu dukuh, misalnya dalam hal kematian, perkawinan, mendirikan rumah dan sebagainya. masalah dalam penelitian ini adalah 1.) Apa saja bentuk solidaritas yang dapat membangun Makna Sosial Gotong Royong dalam masayarakat. 2.) Bagaimana proses pelaksanaan Makna Sosial Gotong Royong Dalam  masayarakat.1.) Untuk mengetahui secara jelas solidaritas masyarakat dalam upaya membangun Makna Sosial Gotong Royong. 2.) Untuk mengetahui proses pelaksanaan Makna Sosial Gotong Royong Dalam masayarakat.

Bagian inti

1.1 Pengertian Gotong royong

Gotong Royong dapat diartikan sebagai sebuah kerja sama atau  bekerja secara kelompok antara sejumlah warga masyarakat untuk menyelesaikan sesuatu atau pekerjaan tertentu yang dianggap berguna untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Menurut M.Nasroen gotong royong sebagai solidaritas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, terutama mereka yang membentuk komunitas-komunitas karena dalam komunitas seperti ini akan terlihat dengan jelas.

Gotong royong dapat dikatakan sebagai ciri dari bangsa indonesia terutama mereka yang tinggal di pedesaan yang berlaku secara turun temurun, sehingga membentuk perilaku sosial yang nyata kemudian menjadi tata nilai kehidupan sosial.

Menurut Koentjaraningrat, budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat indonesia dapat dikategorikan kedalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, perayaan, dan peristiwa pada bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, ntah apa yang terjadi atas iniiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.

Bintarto (dalam Pasya, 2000) mengemukakan bahwa nilai itu dalam sistem budaya orang indonesia mengandung tiga konsep, yaitu 1) manusia itu tidak sendiri di dunia ini tetapi dilingkungi oleh komunitinya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. 2) manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesama. 3) ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memilihara hubungan baik dengan sesamanya terdorong oleh jiwa.

Sistem tolong menolong yang kita sebut juga dengan gotong royong memang tidak selamanya diberikan secara rela dan ikhlas. Akan tetapi ada beberapa tingkat kerelaan tergantung dari jenis kegiatannya dalam kehidupan sosial. Dengan demikian dapat kita bedakan antara gotong royong dalam kegiatan pertanian dan gotong royong sekitar rumah tangga.

Konsep gotong royong juga dapat dimaknai dalam konsep pemberdayaan masyarakat karena bisa menjadi modal sosial untuk membentuk kekuatan kelembagaan ditingkat komunitas, masyarakat negara serta masyarakat lintas bangsa dan negara indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan.

1.2 Makna Gotong Royong

Secara umum pengertian gotong royong dapat di temukan dalam kamus besar bahasa indonesia yang menyebutnya sebagai “bekerja bersama-sama atau tolong menolong, bantu membantu” (Tim penyusun KBBI, 2002: 12). Sedangklan dalam perspektif antropologi pembangunan. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan.Secara konseptual, gotong royong dapat diartikan sebagai suatu model kerjasama yang disepakati bersama. Koentjaraningrat (1987) membagi dua jenis gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia; gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti.Kegiatan gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan kegiatan gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, yang dibedakan antara gotong royong atas inisiatif warga dengan gotong royong yang dipaksakan. Bagi bangsa Indonesia, gotong royong tidak hanya bermakna sebagai perilaku, sebagaimana pengertian yang dikemukakan sebelumnya, namun juga berperan sebagai nilai-nilai moral.Artinya gotong royong selalu menjadi acuan perilaku, pandangan hidup bangsa Indonesia dalam berbagai macam wujudnya.Sebagaimana diketahui, setiap perilaku yang ditampilkan manusia selalu mengacu kepada nilai-nilai moral yang menjadi acuan hidupnya, pandangan hidupnya. Misalnya: manusia selalu mandi karena mengacu kepada nilai kebersihan, jadi ketika ada orang berkata tidak mandi tidak apa-apa, itu berarti yang bersangkutan tidak menjadikan nilai kebersihan sebagai pandangan hidupnya. Penerapan nilai gotong royong di Indonesia mengalami pasang surut penggunaannya mengikuti arus dan gelombang masyarakat penggunanya dinamis (Kartodirjo, 1987:12)

1.3 Konsep Gotong Royong

Gotong royong merupakan sikap positive yang mendukung dalam perkembangan desa dan juga perlu dipertahankan sebagai suatu perwujudan kebiasaan melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama (Kusnaedi, 2006 : 16). Gotong royong sebagai suatu ciri khas masyarakat pedesaan tidak terlepas dari eksistensi masyarakatnya sebagai individu maupun sebagai makhluk social. Sebab manusia sesuai dengan kualitasnya mampu membangun dirinya yaitu manusia yang mengetahui serta sadar dan memiliki kesadaran akan kebutuhannya (Widjaja, 2004 : 76).

Gotong royong merupakan bagian dari etika social dan budaya yang bertolak dari rasa kemanusiaan, Etika social dan budaya yang bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan sikap jujur, saling peduli, saling memahami, saling menghargai, saling menolong, saling mencintai diantara sesama manusia dan warga Negara. Etika ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali kehidupan berbangsa yang berbudaya tinggi dengan menggugah, menghargai dan mengembangkan budaya nasional yang bersumber dari budaya daerah (termasuk didalamnya adalah budaya gotong royong) agar mampu melaksanakan adaptasi, interaksi dengan bangsa lain dengan tindakan prokaktif sejalan dengan tuntutan globalisasi (Fernanda, 2003 : 16)

Konsep gotong royong yang kita nilai tinggi itu merupakan suatu konsep yang erat sangkut pautnya dengan kehidupan masyarakat Indonesia sebagai petani dalam masyarakat agraris. Di berbagai wilayah telah ada praktek dari gotong-royong hanya saja dengan nama dan istilah yang berbeda.

Penutup

Kesimpulan/Saran

Pergeseran nilai gotong royong pada masayarakat, pada umumnya konsep pada nilai gotong royong didalam masayarakat masih tetap ada didalam setiap individu masayarakat.Namun dalam konsep pemahaman artian tersebut tidak seiring sejalan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dua bentuk gotong royong diantaranya gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti yang ada dalam masayarakat itu sendiri.

Namun keduanya hanya ada beberapa yang masih ada dan dilaksanakan seperti didalam gotong royong yang masih kental ketika ada seorang warga yang kena musibah meninggal dunia. Faktor yang menyebabkan pergeseran nilai budaya gotong royong pada masayarakat. Faktor internal dan faktor eksternal, faktor iternal adalah ditunjukan dengan  ang diberikan oleh warga setiap kegiatan yang bersifat gotong royong.

Diera globalalisasi sekarang ini masayarakat indonesia harus mampu meningkatkan nilai gotong royong sehinnga biar adanya budaya asing yang masuk diindonesia,indonesia tetap teguh dengan budayanya sendiri.

                                   Daftar Rujuk

Saebani (2012:181)Bintarto (1980:10)Bintarto (dalam Pasya, 2000)

Koentjaraningrat (1987)(Widjaja, 2004 : 76)

  • view 794