putri yang terbuang

maria f s baghong
Karya maria f s baghong Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Januari 2018
putri yang terbuang

     Mentari pagi mulai menampakkan dirinya, udara segar masih terasa, kabut awan pun masih terlihat jelas, burung-burung pun tak berhenti berkicau seakan menyampaikan pesan pada temannya bahwa hari sudah pagi. Pepohonan yang berbaris rapi, sungai pun terus mengalir dan tak pernah kering. Inilah suasana di desa Ndoso, kabupaten Manggarai Barat. Di sebuah desa hiduplah kedua suami istri yang bernama Awang dan istrinya  bernama Hendang. Awang dan Hendang sebenarnya terjadi perkawinan yang tidak sah,karena mereka dua memiliki hubungan darah,dan hubungan awang dan hendang tidak direstui oleh keluarga,baik dari keluarga laki-laki mau pun dari keluarga perempuan atau dalam bahasa manggarai disebut jurak.

Seiring berjalannya waktu begitu lama kedua suami  istri tersebut melahirkan seorang anak perempuan,dan anak tersebut diberi nama nggerang. kelahiran Nggerang tidak direstui akhirnya dia semasa bayinya dibuang di sebuah sungai  yang bernama Wae namo Yang terletak antara kampung Ndoso dengan kampung Pajo, sejak nggerang dibuang kesungai, nggerang dipelihara oleh makluk halus  Jing sehingga Nggerang tumbuh menjadi gadis cantik dan putih bersih, karena kejernihannya itu sehingga orang sering sebut dia Nggerang.

Pada saat Putri Nggerang menginjak usia remaja, kecantikannya semakin terlihat dan sangat memikat banyak hati para pemuda. Karena kecantikannya juga yang tiada taranya itu, banyak raja-raja ingin meminangnya diantara Mori Reok atau Raja Reok dan raja Cibal. Meskipun banyak raja raja yang ingin meminangnya yang tidak hanya kaya tapi juga berparas menawan Nggerang menolaknya,Namun tak satupun diantaranya dapat memikat hatinya.Nggerang gadis cantik dan aneh ini memang memiliki sesuatu yang ajaib dalam dirinya. Ini memang sangat mungkin karena memang dia dipelihara dan dibesarkan oleh  Darat. Kulit punggung dan perut  putri Nggerang  yang berbentuk bulat seperti  ukuran bola mata sehingga ia memancarkan cahaya langit dan yang dapat dilihat oleh orang-orang di kampung Todo. Sultan Bima pun mengutus seorang abdi kerajaan bersama beberapa orang prajurit kerajaan ke Manggarai.

“Saya mengutus engkau untuk pergi melacak cahaya tersebut.” Perintah Raja.

Setelah dilacak dan yakin cahaya tersebut dimiliki oleh seorang putri cantik dan masih remaja bernama Nggérang yang tinggal di dusun Ndoso. Sultan Bima mempersiapkan diri untuk berangkat ke Manggarai untuk meminang putri Nggérang. Ketika Sultan Bima tiba di Ndoso, meskipun  masyarakat menerimanya dengan baik. Namun sangat disayangkan, ketika Sultan Bima menyampaikan isi hatinya untuk meminang putri Nggérang yang cantik dan masih remaja itu, Nggerang menolaknya tanpa syarat.

Raja Bima menjadi sakit hati dan dendam kepada Nggerang Lantaran Cintanya ditolak oleh Putri Nggerang tanpa syarat.

“Bagaimana mungkin ia menolakku?” Ucap Raja bima dengan marah.

 “Lebih baik kamu menerima lamarannya saja dari pada laut ini segera hilang dan kami tidak bisa bekerja lagi seperti biasanya,” Ucap masayarakat. Masyarakat  memaksa putri nggerang untuk menerima lamarannya.

 Bagi orang setempat fenomena tacik  yang menenggelamkan  sangatlah membahayakan segala aspek kehidupan. Karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi bencana alam  seperti itu Namun bagi Nggerang, laut itu bukanlah apa-apanya. Di Ancam seperti apapun tidak diperhatikan oleh Putri Nggerang hingga akhirnya raja Bima tak sabar lagi ingin membunuh Putri Nggerang.Dengan berbekal sebagai raja yang berkuasa atas tanah manggarai termasuk Ndoso saat itu, Sultan Bima menyuruh orang tua Nggerang membunuh Putri Nggerang dan kulitnya dibuatkan genderang. Bagi Orang tua Nggerang meskipun permintaan Sultan Bima tersebut terasa sangat berat.Namun, karena ini permintaan Sultan Bima yang juga sebagai Raja yang berkuasa di daerah Manggarai ketika itu, maka orang tua putri Nggérang pun tidak bisa menolak.

Berbagai usaha dilakukan oleh orang tua putri Nggérang, seperti memotong kerbau, kemudian kambing, dan kulitnya dibuatkan genderang, tetapi tidak mengeluarkan bunyi seperti yang diinginkan dan cahaya yang memancar ke langit pun tidak hilang, tetap kelihatan dari kerajaan Bima. Karena terus-menerus dipaksa oleh Sultan Bima, akhirnya pada suatu hari orang tua Nggerang merayu anaknya.

Awang mengajak putri Nggérang mencari kutu di rambutnya. Nggerang menyetujui niat ayahnya tanpa menyangka  bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Bersamaan dengan itu Awang mencabut beberapa helai rambutnya dan disimpan dalam tabung kecil, dan hal tersebut tidak menimbulkan efek atau pengaruh apa-apa.dengan cara mencari kutu juga secara pelan-pelan ayah nggerang membunuh anaknya tersebut tanpa memikirkan apa-apa lagi. Sadar bahwa Putrinya telah meninggal, maka Awang menangis sedih, sudah di tinggal sama Hendang istrinya ditambah lagi kehilangan anak cantiknya yang terbunuh atas desakan  Raja  Bima mori dima karena hal ini sudah terjadi maka Awang melaksanakan pekerjaan selanjutnya  mencungkil kulit punggung bersama kulit emas dan kulit perutnya untuk dibuatkan genderang. Jadi, sesungguhnya ada dua gendrang yang dihasilkan dari kulit tubuh Putri Nggerang; Satu yang dibuat dari kulit emas di punggung Nggerang dikiri ke Bima. Sementara satunya lagi yang  terbuat dari kulit perut disimpan di Ndoso.

 Saat genderang disimpan di Ndoso pada saat itu pula orang Todo mencari cara untuk mengambil genderang tersebut untuk disimpan dirumah adatnya mereka di Todo. maka pada saat itulah digunakan oleh orang-orang todo mengambil Loke Nggerang di Liang/Pongkor rangat di bawa Lari Ke Todo. Ketika genderang dibunyikan dengan nada syair tersebut di atas, maka seketika itu hujan pelangi yang oleh sebagian besar orang ndoso sekitar bahkan manggarai disebut dimar turun hujan gerimis yang disertai pantulan sinar matahari di Istana Kerajaan Bima, dan bunyi genderang tersebut terdengar hingga ke kerajaan Bima, dan seketika itu juga cahaya yang memancar ke langit  tidak kelihatan dari kerajaan Bima. Selanjutnya Sultan Bima yang merupakan cucu dari kerajaan Majapahit, baru yakin dan percaya bahwa putri Nggérang sudah meninggal.

 Namun, selang beberapa hari setelah Nggerang meninggal, beberapa orang dari Todo dengan rombongan yang cukup banyak datang ke Ndoso untuk mengambil genderang tersebut   dan membawahnya ke Todo. Dengan akal licik dari orang-orang todo ketika itu, mereka memberi saran kepada Orang-orang tua di Ndoso supaya kulit alias Loke Nggerang jangan di simpan dalam rumah, kalau kulit ini disimpan dalam rumah maka akan membawa bencana bagi penghuninya bahkan seluruh kampung Ndoso, cara mereka waktu itu membawa Tuak dan minum sebanyak mungkin supaya orang-orangtua di ndoso terhanyut dalam pesta dan mabuk ,dan sebelumnya telah diminta beberapa orang untuk memindahkan tempat penyimpanan kulit nggerang ke luar dari rumah yaitu di Liang gua.

 

 

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 13