Wuat Wa'i

Wuat Wa'i

mariasumur yanti
Karya mariasumur yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
Wuat Wa'i

                                                            WUAT WA’I

                                                Karya : Maria Fianiyanti Sumur

Para pemain :   1)Tantri          

                        2)Ayah

                        3)Ibu

                        4)Farah

            (Panggung menggambarkan dapur sebuah rumah yang sederhana. Berbagai perabotan dalam dapur tersebut sudah ditata rapi, di ruang tengah terdapat sebuah meja makan dengan empat buah kursi. Diatas meja tiga gelas kopi degan satu piring yang berisikan ubi yang sudah di rebus. Pagi yang begitu indah, sinar matahari yang menembusi jendela rumah. Suasana yang amat tenang disertai dengan suara burung yang berkicau diantara barisan pepohonan.Tampaklah perempuan tua itu sedang sibuk di dapur sambil memanggil anaknya yang masih tertidur pulas. Ibu meletakkan gelas yang berisikan kopi di atas meja dengan sepiring ubi kayu       yang sudah direbus. Memanggil kembali anaknya yang masih tidur.)

Ibu                      : Tantri…bangun nak.

              (Namun, Tantri tidak menjawab ia masih asyik dengan mimpinya yang indah. Tiba-tiba muncullah laki-laki tua dari ruang tamu menghampiri sebuah kamar.)

Ayah               : (mengetuk pintu dengan keras) bangun nak, bukankah hari ini kamu harus ke sekolah!

Tantri                :Apa yang ibu pikirkan? (Mendadak Tantri datang mengagetkan ibunya yang sedang melamun. Digenggamnya tangan ibu sambil tersenyum seolah meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.)

Farah                 :Tantri mudah-mudahan berita kelulusan kamu memuaskan, (ucapnya berulang- ulang dengan berlumuran kecemasan.)

Ayah               :(memandang ke arah anaknya yang sedang berbagi kebahagiaan dengan memeluk teman-temannya. Ekspresinya terpancar dengan jelas dari wajah tuanya) Ayah bangga padamu. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu anak kebanggan ayah,(katanya sambil memeluk anak perempuan itu dengan bangga. Hatinya begitu bahagia karena anaknya menjadi lulusan terbaik dengan nilai-nilai yang sangat membanggakan.)

Ibu                   : (Mondar-mandir ia di ruang tamu sambil melihat kearah pintu. Ketika melihat tantri dan suaminya pulang. Ia sontak berdiri dari tempat duduknya. Salampun belum terucap, tanpa bertele-tele ia langsung bertanya,) Nak, bagaimana hasinya Tantri :(mengambil tangan ibunya lalu menciumnya) Bu…aku lulus bu, teman-temanku juga (ia mengatakannya sambil tersenyum girang.)

(Malam itu Tantri bersama ibu dan ayahnya duduk di meja makan sambil menikmati hidangan. Tempe goreng dengan ayam bakar serta sambal pedas kesukaan mereka yang sudah dipersiapkan sang ibu. Pada saat itu Tantri mengambil kesempatan untuk membicarakan soal perkuliahannya.)

Tantri               : Ayah, Ibu…Tantri ingin lanjut kuliah di Kupang. Bagaimana menurut ayah dan ibu?

Ayah               :(menghabiskan makanan lalu menghela nafas) Nak, sebelumnya Ayah dan Ibu sudah membahas soal perkuliahan, ayah setuju kalau kamu ingin melanjutkan kuliah di Kupang. Tapi sebelum kamu berangkat kamu harus mengikuti acara Wuat Wa’i.”

Tantri               :(Raut wajah Tantri berubah menjadi gelisah, ia terdiam seakan tidak menyetujui apa yang disampaikan ayahnya. Baginya acara apapun tidak akan berarti atau berarti baginya bila ia tidak belajar sunguh-sunguh.) Ayah untuk apa kita mengadakan acara seperti itu, sekarang ini zaman modern Ayah, kenapa ayah masih terpaku dengan adat ayah itu,

Ayah               : Jaga bicaramu, Nak. Kamu bisa celaka bila bicara begitu. (Tampak tak suka dengan apa yang dikatakan anaknya.)

Tantri               : Tapi semua itu tidak penting Ayah. Kunci kesuksesan adalah dengan belajar sungguh-sungguh dan mengikuti perintah Tuhan. Acara ini sama sekali tak dapat membantu.

Ayah               : Cukup, kau masih anak kecil bodoh! Apa kau pikir yang Ayah lakukan salah? (Bentak nya karena tidak menerima sikap yang ditunjukkan Tantri.)

Tantri               : (Tantri berdiri mematung di kamar, jantungnya berdetak cepat. Kamarnya yang cukup besar mendadak sempit. Malam yang dingin terasa sangat panas. Tantri membuka jendela pelan-pelan. Ketika gorden jendela dibuka, ia menatap bulan perak sebesar semangka diam tak bergerak, seolah terjebak dalam bingkai jendela. Sejak peristiwa malam itu, keadaan makin tak menentu. Tantri duduk termenung seorang diri di depan teras. Tanpa ia sadari sepasang mata telah menatapnya sejak tadi.)

Ibu                   : (menghampiri anaknya yang sedang melamun) Apa yang kamu pikirkan Nak. Ibu liat dari tadi kamu hanya melamun saja,” ujar ibunya pelan.

Tantri               : (kaget) eh…ibu, Tidak apa-apa bu, aku hanya…

Ibu                   : Hanya memikirkan soal pembicaraan dengan ayahmu tadi malam. (potong ibunya.)

(Gadis itu menganggukkan kepala. Ia memang sedang memikirkan acara wuat wai yang menurutnya tak penting itu. Hanya membuang uang).

Tantri               : Kenapa kita harus mengikuti acara itu,” ibu kan tahu, aku berhasil lulus karena belajar kerasku. Selama ini bukan karena upacara kan?

Ibu                   : Harus Nak, acara Wuat Wa’i sangat penting, acara Wuat Wa’i ini salah satu budaya kita orang Manggarai. Jadi kamu harus mengikuti acara ini supaya kuliahmu nanti lancar. Terhindar dari gangguan-gangguan orang, karena nenek leluhur kita selalu menerangi jalanmu.

Tantri               : Tapi Tantri tidak percaya dengan budaya seperti itu Bu. Masih ada Tuhan yang selalu bersama kita, kenapa Ibu dan Ayah seolah tak ber-Tuhan? Percaya saja pada omongan semacam ini.

            (Ibunya hanya mampu menarik nafas dalam-dalam. Tapi Tantri tetap tak setuju atas kehendak kedua orang tuanya. Menjelang pagi dan sebelum terlalu terang Tantri pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Setelah satu minggu ia pun mengabari kedua orang tuanya serta memberitahukan alasannya, mereka hanya bisa memahaminya. Namun, perkuliahan yang dialaminya mengalami begitu banyak rintangan dan cobaan. Suatu pagi ia merasa jenuh dan bosan, sempat terlintas dipikirannya untuk tidak melanjutkan kuliahnya lagi.)

Tantri               : Aku ingin mengakhiri tangis hidupku, aku tidak kuat mencari sebab, aku hanya berani menebak-nebak dalam benak.

            (Sore itu ia menghubungi kedua orang tuanya memberitahukan permasalahan kuliahnya.)

Tantri               : (menelpon ayahnya) Ayah…(tak melanjutkan pembicaraannya, bibirnya tak sanggup berkata).

Ayah               : (mengangkat telpon) Iya Nak, ada apa dengan suaramu atau kamu lagi ada masalah?. Jawab Nak..

Tantri               : Ayah ..., Maafkan aku yah, selama ini aku hanya terjerumus dengan hasrat dan keinginanku. Aku sudah tidak menghargai ayah dan ibu sebagai orang tuaku, maafkan aku Ayah.

Ayah               : Tidak Nak, kamu jangan menangis. Ini bukan salah kamu. Ayah dan ibu yang terlalu memaksa kamu. (dengan perlahan ayahnya menjawab.)

Tantri               : Tidak ayah, ini semua salahku yang tidak patuh dengan ayah dan ibu. Ayah aku ingin pulang.

Ayah               :Dengan senang hati ayah dan ibu menyambutmu Nak, pulanglah. Kita akan mengadakan acara Wuat Wa’i.(sambil tersenyum)

(Pagi itu Tantri tiba di manggarai. Ia mendapati kedua orangtuanya sedang duduk di ruang   tamu dengan wajah penuh kecemasan.)

Tantri               :Ayah, Ibu (masuk dalam ruang tamu lalu mencium dan memeluk kedua orangtuanya) Maafkan aku ayah, ibu…selama ini aku sudah menyakiti hati ayah dan ibu.( menangis terisak-isak)

Ayah               :(Dengan wajah kaget) Nak, apapun yang sudah kamu lakukan. Ayah dan ibumu sudah memafkan kamu.

Ibu                   : Anakku, kau sudah besar. Apa pun keputusan kamu, ayah dan ibu akan terima (sambil menghapus air mata anaknya)

Tantri               :(tersenyum lalu memeluk kedua orangtuanya)

(Malam harinya suasana ramai terdengar riuh, semua keluarga berkumpul bersama untuk mengikuti acara Wuat Wa’i. tampak terlihat bahagia dari raut wajah mereka. Setlah itu Tantri pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan kembali ketempat ia menempuh pendidikannya demi mewujudkan cita-citanya. Empat tahun sudah yang ia lalui sudah saatnya ia mendapatkan gelar sarjana.)

Ayah                  : (tersenyum menatap anaknya)

Tantri                  : Tuhan, terimakasih sekarang aku menjadi seorang sarjana(meloncat kegirangan, lalu menghampiri dan memeluk kedua orang tuanya yang sedang menatapnya sejak tadi) Ayah, ibu… akhirnya mimpiku untuk menjadi sarjana sudah tercapai, ini semua berkat ayah dan ibu yang selalu mendukung dan mendoakan aku selama ini, maksih ayah, ibu.

(Kedua orang tuanya tersenyum bahagia dan bangga. Mereka pun pulang bersama dan beberapa saat layar ditutup.)

 

  • view 103