Wuat Wa'i

mariasumur yanti
Karya mariasumur yanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
Wuat Wa'i

 

***                                                      WUAT WAI

Pagi yang begitu indah, Sinar matahari yang menembusi jendela rumah, terdengar suara burung-burung berkicau diantara barisan pepohonan. Dibelakang dapur terdengar suara memanggil nama Tantri.

“Tantri...tantri bangun.”

Namun, Tantri tidak menjawab dia masih asyik dengan mimpinya yang indah. Karena tak sabar, ayah Tantri mengetuk pintu kamar anaknya dengan keras, Tantripun terbangun karena suara ketukan pintu.

“Bangun Nak, bukankah hari ini kamu harus ke sekolah.”

Gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia mulai bersiap dengan cepat. Ayahnya pun tak ketinggalan, lelaki paruh baya itupun mempersiapkan diri untuk mengikuti berita kelulusan anaknya di Sekolah. Tegang, gelisah semua nampak terlihat jelas di mata ibu yang kini duduk termenung. Entah apa yang dipikirkannya.

“Apa yang ibu pikirkan?”

Mendadak Tantri datang mengagetkan ibunya yang sedang melamun. Digenggamnya tangan ibu sambil tersenyum seolah meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.

Tak hanya ibu, Farah kakak perempuan Tantri pun sama cemasnya dengan ibu. “Tantri mudah-mudahan berita kelulusan kamu memuaskan.” ucap Farah berulang-ulang seolah berlumur kecemasan.

Ya. Semua cemas memikirkan hasil pengumumannya.

Pagi itu langit begitu cerah, sorak-sorai suara para siswa terdengar disetiap sudut sekolah. Wajah girang, suasana semakin ramai sebab para orangtua datang berbondong-bondong memenuhi undangan pengumuman kelulusan putra-putri mereka. Usai pengumuman wajah-wajah tegang para orangtua mencair dengan senyum bahagia. Dari balik pagar sekolah, Ayah Tantri menunggu anaknya. Ekspresinya terpancar dengan jelas dari wajah tuanya. Bangga ia memandang ke arah anaknya yang sedang berbagi kebahagiaan dengan memeluk teman-temannya.

“Ayah bangga padamu. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu anak kebanggan ayah,” kata ayahnya sambil memeluk anak perempuan itu dengan bangga.

Hatinya begitu bahagia karena anaknya menjadi lulusan terbaik dengan nilai-nilai yang sangat membanggakan.

 

***

            Di ruang tamu sebuah rumah, ibu gadis itu telah menunggu kedatangan anak dan suaminya dengan gelisah. Mondar-mandir ia di ruang tamu sambil melihat kearah pintu. Ketika melihat tantri dan suaminya pulang. Ia sontak berdiri dari tempat duduknya. Salampun belum terucap, tanpa bertele-tele ibunya langsung bertanya

“ Nak, bagaimana hasinya,” tanyanya dengan wajah khawatir dan penuh tanda tanya.

Tanpa basa-basi Tantri mencium tangan ibunya.

“Bu…aku lulus Bu, teman-temanku juga,” ucap Tantri.

Ia mengatakannya sambil tersenyum girang. Sontak wanita itu memeluk anak kebanggannya. Tanpa sadar airmata kedua pipinya. Tak ada lagi kata yang terucap. Hanya airmata dan ucapan rasa syukur dalam hati atas keberhasilan putrinya.

Malam itu Tantri bersama ibu dan ayahnya duduk di meja makan sambil menikmati hidangan. Tempe goreng dengan ayam bakar serta sambal pedas kesukaan mereka yang sudah dipersiapkan sang ibu. Pada saat itu Tantri mengambil kesempatan untuk membicarakan soal perkuliahannya.

“Ayah, Ibu…Tantri ingin lanjut kuliah di Kupang. Bagaimana menurut ayah dan ibu?” tanya Tantri dengan hati-hati.

Tak ada jawaban setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Tantri. Kedua orang tuanya hanya mengangguk pelan. Ruangan begitu senyap, Ayah Tantri yang telah menghabiskan makanannya menghela nafas panjang.

“Nak, sebelumnya Ayah dan Ibu sudah membahas soal perkuliahan, ayah setuju kalau kamu ingin melanjutkan kuliah di Kupang. Tapi sebelum kamu berangkat kamu harus mengikuti acara Wuat Wa’i.”

Raut wajah Tantri berubah menjadi gelisah, ia terdiam seakan tidak menyetujui apa yang disampaikan ayahnya. Baginya acara apapun tidak akan berarti atau berarti baginya bila ia tidak belajar sunguh-sunguh.

“Ayah untuk apa kita mengadakan acara seperti itu, sekarang ini zaman modern Ayah, kenapa ayah masih terpaku dengan adat ayah itu,” jelas Tantri.

“Jaga bicaramu, Nak. Kamu bisa celaka bila bicara begitu.” ayahnya tampak tak suka dengan apa yang dikatakan anaknya.

“Tapi semua itu tidak penting Ayah. Kunci kesuksesan adalah dengan belajar sungguh-sungguh dan mengikuti perintah Tuhan. Acara ini sama sekali tak dapat membantu.”

“Kau masih anak kecil bodoh! Apa kau pikir yang Ayah lakukan salah?” Bentak ayahnya tidak menerima sikap yang ditunjukkan Tantri.

Ayahnya tetap bersikeras mengadakan acara itu. Tantri berdiri mematung di kamar, jantungnya berdetak cepat. Kamarnya yang cukup besar mendadak sempit. Malam yang dingin terasa sangat panas. Tantri membuka jendela pelan-pelan. Ketika gorden jendela dibuka, ia menatap bulan perak sebesar semangka diam tak bergerak, seolah terjebak dalam bingkai jendela.

***

            Sejak peristiwa malam itu, keadaan makin tak menentu. Tantri duduk termenung seorang diri di depan teras. Tanpa ia sadari sepasang mata telah menatapnya sejak tadi.

“Apa yang kamu pikirkan Nak. Ibu liat dari tadi kamu hanya melamun saja,” ujar ibunya pelan.

“Tidak apa-apa bu, aku hanya…”

“Hanya memikirkan soal pembicaraan dengan ayahmu tadi malam,” potong ibunya,.

Gadis itu menganggukkan kepala. Ia memang sedang memikirkan acara wuat wai yang menurutnya tak penting itu. Hanya membuang uang.

“Kenapa kita harus mengikuti acara itu,” ibu kan tahu, aku berhasil lulus karena belajar kerasku. Selama ini bukan karena upacara kan?”

“Harus Nak, acara Wuat Wa’i sangat penting, acara Wuat Wa’i ini salah satu budaya kita orang Manggarai. Jadi kamu harus mengikuti acara ini supaya kuliahmu nanti lancar. Terhindar dari gangguan-gangguan orang, karena nenek leluhur kita selalu menerangi jalanmu,” jelas ibunya dengan sabar. Ia mencoba memberi pemahaman pada anaknya .

“Tapi Tantri tidak percaya dengan budaya seperti itu Bu. Masih ada Tuhan yang selalu bersama kita,” balasnya, “kenapa Ibu dan Ayah seolah tak ber-Tuhan? Percaya saja pada omongan semacam ini.” Ibunya hanya mampu menarik nafas dalam-dalam.

 

***

            Tantri tetap tak setuju atas kehendak kedua orang tuanya, ia pun memutuskan untuk berangkat ke Kupang tanpa memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Satu minggu sudah ia berada di Kupang, Tantri memutuskan untuk mengabari kedua orang tuanya. Kegelisahan dan kecemasan yang begitu dalam yang dialami oleh kedua orang tua Tantri hilang seketika saat mendengar suara anaknya. Tantri pun memberitahukan alasan kenapa dia kabur dari rumah tanpa memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya menerima keputusan anaknya.

Dua semester sudah perkuliahan yang dijalani Tantri. Sayangnya kuliahannya mengalami begitu banyak cobaan dan rintangan. Tantri mencoba untuk mencari jalan keluar agar perkuliahan lancar. Namun, semua yang direncanakan Tantri tidak ada sedikitpun perubahan.

Suatu pagi Tantri merasa jenuh dan bosan, sempat terlintas dipikirannya untuk tidak melanjutkan perkuliahannya lagi. Sepanjang perjalannanya seakan melewati duri-duri yang begitu tajam sehingga tak mampu lagi untuk berjalan. Dalam hatinya ia berkata.

“Aku ingin mengakhiri tangis hidupku, aku tidak kuat mencari sebab, aku hanya berani menebak-nebak dalam benak.”

Kegelisahannya itu sempat membuatnya berpikir untuk memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Sore itu ia menghubungi kedua orang tuanya memberitahukan permasalahan kuliahnya.

 

“Ayah..,” Tantri tak melanjutkan pembicaraannya, bibirnya tak sanggup berkata.

“Iya Nak, ada apa dengan suaramu atau kamu lagi ada masalah?. Jawab Nak..”    Namun, Tantri tak menjawab. Ia hanya terdiam. Tiba-tiba ia menangis dan menyatakan penyesalannya atas tingkah lakunya yang tidak mematuhi kedua orang tuanya.

“Ayah ..., Maafkan aku yah, selama ini aku hanya terjerumus dengan hasrat dan keinginanku. Aku sudah tidak menghargai ayah dan ibu sebagai orang tuaku, maafkan aku Ayah.”

“Tidak Nak, kamu jangan menangis. Ini bukan salah kamu. Ayah dan ibu yang terlalu memaksa kamu,” dengan perlahan ayahnya menjawab.

“ Tidak ayah, ini semua salahku yang tidak patuh dengan ayah dan ibu. Ayah aku ingin pulang memperbaiki kesalahanku ini.”

“Dengan senang hati ayah dan ibu menyambutmu Nak, pulanglah. Kita akan mengadakan acara Wuat Wa’i,” ucap ayahnya.

***

Pada keesoknya harinya Tantri memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya Manggarai, sesampainya di sana ia di sambut oleh kedua orang tua beserta keluarganya. Ia meminta maaf kepada ayah dan ibunya karena selama ini sudah menyakiti hati dan perasaan mereka, langsung ia memeluk kedua orang yang ia sayangi itu. Malam harinya suasana ramai terdengar riuh, mulai dari anak-anak kecil sampai pada orang tua berkumpul bersama untuk mengikuti acara Wuat Wa’i. Salah satu ritus budaya yang terdapat di daerah Manggarai, acara ini sering dilakukan oleh orang Manggarai untuk melepas kepergian seseorang untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut. Seluruh keluarga yang berasal dari perempuan dan keluarga yang berasal dari laki-laki mengikuti acara Wuat Wa’i. Tepat jam setengah delapan malam acara Wuat Wa’i dimulai. Mulailah torok (juru bicara) menyapa arwah nenek moyang menyuguhkan mereka sirih pinang. Dilayani dengan moke/ sopi sebagai sapaan awal memanggil arwah leluhur sesuai tata nilai adat. Setelah itu dalam pemberian teing hang (kasih makan) pemberian sesajen dari daging ayam. Ungkapan yang diyakini orang Manggarai.

Lalong bakok du lakom, lalong rombeng du kolem (bekal sebelum pergi adalah ayam putih, dan semoga pulang menjadi ayam jago atau orang sukses).”

Selanjutnya darah ayam dioleskan pada jari jempol kaki Tantri. Darah tersebut adalah tanda proses pendidikannya akan terus dilindungi arwah leluhur untuk memperoleh nasib baik.

Setelah melakukan acara Wuat Wa’i, Tantri kembali ketempat ia menempuh pendidikannya. Sejak saat itu perkuliahannya lancar tanpa adanya hambatan apapun . Setiap senyuman Tantri menyusun kedamaian dalam hatinya. Empat tahun sudah Tantri melalui semuanya dan tiba saatnya ia mendapat gelar sarjana. Begitu bangganya yang kini dirasakan oleh kedua orang tuanya. Di rumah itu aroma harum tercium semerbak. Setiap raut wajahi itu dibubuhi dengan rasa kebahagiaan.

                                                             

                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                   

 

  • view 78