Simbah - simbah dan Kepompong

Maria Christiyanti
Karya Maria Christiyanti Kategori Renungan
dipublikasikan 06 Juni 2017
Simbah - simbah dan Kepompong

17 Agustus 2016. Merdeka!

Hari ini, kalau aku masih jadi guru di Jakarta, aku pasti sedang upacara, lalu pesta rakyat bersama para siswa dan guru.

Atau, kalau aku orang katolik yang 100% Indonesia, aku pasti duduk manis di Gereja Kelor, merayakan kemerdekaan dengan misa bersama umat separoki.

Tapi tidak. Aku tidak di kedua tempat itu. Alih-alih melakukan perayaan seremonial kemerdekaan, aku memilih merayakannya secara spititual di tepian Samudra Hindia, di pantai X tepatnya. (Halah, bilang aja meh dolan).

Pagi itu, aku berlari-lari gembira menyusuri pantai, layaknya anak kecil yang baru dapat hadiah di hari ulang tahun. Pantai ini,bagus sekali. Garis pantai yang panjang, pasir putih yang berbatasan dengan air laut dengan gradasi warna hijau, biru cerah dan laut biru gelap berombak khas Samudra Hindia.

Tambah lagi, pinggir pantai yang masih tertutup vegetasi alami, cemara udang, pandan laut,  berbagai jenis semak belukar alam bentukan Tuhan dan yang pasti, minim orang.

Oh, what a perfect place to get away!

Sebenarnya, aku kesini bukan hanya sekedar mengisi libur kemerdekaan. Sudah kubilang padamu, aku sedang menjalani perayaan spiritual yang mencari kemerdekaan. Ya, kemerdekaan dari tekanan hidup mahasiswa pascasarjana yang mantan guru biologi namun pindah di fakultas Geografi. Baru kuliah 3 minggu, tertatih – tatih memahami apa itu konsep spasial dan bahasa alien geografi lainnya, tiba-tiba sudah diminta membuat desain proposal tesis serta review 5 jurnal internasional dalam 4 hari. Apa-apaan!

Tak lama, seusai memanjakan mata, diri dan hati, aku mendamparkan diri di bawah naungan pandan laut lalu membiarkan pikiranku melanglangbuana di lautan imajinasi. Ditemani debur ombak, otakku bekerja dengan hati yang gembira. Lama aku terdiam, menanti datangnya inspirasi, sembari mata ini berkeliling mengamati aktifitas segelintir orang di pantai.

Perjalanan imajinasiku terganggu dan terhenti, ketika kulihat seorang nenek (Simbah) yang menyusuri pantai dari arah barat. Berjalan dua tiga langkah, lalu membungkuk mengambil sesuatu. Berjalan lagi, membungkuk lagi. Begitu terus, sambil sesekali berhenti dan berteduh.

“Mungkin simbah lagi praktek teknik sampling” aku membatin. Ah pemikiran konyol, mana mungkin. Aku malah ketawa sendiri.

Simbah itu memulai “teknik samplingnya” lagi. Terus ke arah timur, sampai lewat beberapa meter jauhnya dari tempatku.

“Fren, simbah e ngapain ya?”

Temanku yang juga sedang berdiam diri karena ngantuk, menjawab sekenanya.

“Ha embuh, takok kono” / “Tahu, tanya sana”

Hah. Daripada penasaran, kuhampiri saja si simbah sembari memasang wajah anak kecil yang ingin tahu. Kuamati, dari perawakannya dapat kupastikan dia adalah penduduk lokal. Maka, kukeluarkan juga salah satu jurus trilingualku, Speaking in Javanese !

“Mbah, pados nopo?” / “Mbah, cari apa?”

Simbah itu tersenyum, dan menunjukkan kaleng kecil yang sudah terisi kepompong/pong-pongan berwarna-warni. Oh, simbahnya cari pong-pong.

Kami pun mengobrol selama 30 menit sembari mencari pong-pong, dibawah terik matahari pantai selatan jam 11 siang. Hah, ireng yo ben! Hitam juga terserah. Cerita simbahnya ini lebih seru dari sekedar kulit yang terbakar.

Sang simbah, tinggal di dusun yang jaraknya lumayan jauh dari pantai ini. Menyusuri pantai di tengah terik matahari siang, adalah misinya dalam mengumpulkan pong-pong warna warni yang akan dia susun menjadi tirai dan kerajinan lainnya, yang nanti akan dia jual di pantai lain yang lebih ramai pengunjung. Aku melirik ke kaleng, hem kalau cuma segini mana bisa jadi tirai mbah!. Simbah tertawa. Ya nanti cari lagi di pantai yang lain, dia menimpali. Ok, dia orang pesisir Gunungkidul, dia pasti pekerja keras. Aku paham.

“Nek sade tirai, regine pinten mbah?” / Kalau dijual harganya berapa mbah?

“Nggih, paling 40ewu.”

40 ribu!

Handmade, bahannya cari di bawah terik matahari, dia jual seharga 40 ribu. Murah, terlalu murah. Simbah tertawa lagi, simbah ini murah tawa juga rupanya. Ya, 40 ribu. Kadang masih ditawar sampai 20 ribu, ya namanya juga usaha.

Dasarnya aku emang sok pengen tahu, aku tanya lagi.

“Mbah, habis ini dijemput atau gimana buat balek ke pantai X”

Sang simbah tertawa lagi, nah kan dia suka tertawa.

“Mboten, mangkih mlampah balike”.

Simbahnya jalan kaki! Jalan kaki menuju pantai yang jaraknya 3 pantai dari tempat kami berdiri. Aku spontan bilang

“Simbah, keren!”. Entah dia tahu atau tidak apa itu definisi keren.

 Berkali-kali aku memujinya keren, dan semakin sering aku bilang keren dia makin sering tersenyum. Yah, baginya itu hal biasa. Demi hidup keluarga, berjalan sekian kilometer kadang tak dirasa. Selain itu, simbah dan anaknya berjualan kelapa muda di parkiran pantai Kukup. Itupun, lebih sering diusir sama orang yang duluan jualan, kalau pas lagi sepi-sepinya. Tapi tidak apa, itu hidupnya, perjuangannya, dan itulah alasan dia berjalan kesana kemari mencari pong-pong dengan tetap gembira.

Simbah lalu pamit undur diri, ingin kembali ke pantai Kukup, mumpung pantai surut, sehingga ia bisa berjalan menyusuri pantai. Itulah kearifan orang lokal, ilmu titen. Mengamati dan mengingat perilaku alam, sehingga mereka tahu, kapan harus berlari, berjalan atau menikmati ritme hidup ini.

Aku kembali di naungan pandan laut, berusaha kembali ke lautan imajinasiku semula. Namun cerita simbah ini, sungguh mengganggu konsentrasi. 40 ribu diperoleh dari untaian perjalanan panjang, sungguh menggungah hati. Uang sejumlah itu, terkadang setara dengan tiket nonton film premiere, atau sekali makan di Jakarta kalau aku lagi khilaf, atau barang-barang produksi pabrik yang suka dibeli tapi lupa dipakai.

Memang sih, jangan pernah membandingkan 40 ribu Gunungkidul dengan 40 ribu Jakarta. Jelas beda! Namun bukan itu letak permasalahannya. Tetapi nilai perjuangan dari barang yang dibeli dengan sejumlah uang yang sama. Setiap barang yang dibeli, punya kisah perjalanan tersendiri, begitu juga dengan uang yang  didapat. Semua punya kisah. Aku ingat tulisan Paus Fransiskus,  “membeli adalah sebuah tindakan moral. Bukan hanya sekedar kebutuhan konsumtif”. Selalu ada cerita panjang para petani, sebelum ada semangkuk mie ayam. Ada cerita panjang mengenai penambangan dari jejeran perhiasan di toko emas. Ada cerita panjang dari keluarga suku asli Kalimantan yang kehilangan ladang dari setiap watt listrik yang dipakai untuk menyalakan lampu ruang kelas. Dan ada pula cerita anak-anak dunia ketiga yang hidup diantara sampah elektronik dari hasil hobi anak-anak dunia lain yang suka gonta ganti gawai setiap edisi.

Ah, si simbah. Bicara 30 menit denganmu saja, bisa mendistraksi lautan imajinasiku. Bahwa ada sekian orang yang membuang uang dengan mudah, di saat orang lain sedang berjibaku. Eh, tapi aku sadar, aku tak ada hak menghakimi. Orang melakukan sesuatu, selalu sesuai dengan apa yang ia tahu. Aku jadi ingat, muridku membuang makanan karena tidak tahu kisah dibalik menanam sayur. Ketika tahu perjalanan makanan sampai di piringnya, dia mikir-mikir juga. Hahhah. Itulah, kewajiban orang yang memiliki pengetahuan, membagi dan mengaplikasikannya.

Eh, tiba-tiba aku jadi punya ide nanti mau penelitian tentang apa!

Ah, si simbah. Gara-gara bertemu denganmu, muncullah tulisan ini yang hendak kubagi dengan siapapun yang berkenan membacanya. Ada pepatah, yang mengatakan bahwa orang yang naik gunung harus turun kembali membagi pengalaman hidupnya.

Kurasa itulah makna hidup, to go, to get, to share, to inspire!

Happy Independence Day!

 

  • view 58