Hutan, sungai Tlend dan pelajaran dari sebuah suku di alam Kalimantan !

Maria Christiyanti
Karya Maria Christiyanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Desember 2016
Hutan, sungai Tlend dan pelajaran dari sebuah suku di alam Kalimantan !

Aku sedang belajar bahan kuliah konservasi sumber daya alam  untuk mid besok siang. Tekun menulis rangkuman, pikiranku terhenti pada kalimat “bagi masyarakat tradisional sumber daya keanekaragaman hayati adalah menyangkut kehidupan berbudaya”

Salah fokus! Bukannya melanjutkan belajar, pikiranku melayang ke hidup aku 4 tahun silam. Cepat-cepat aku belajar, lalu aku putuskan menuliskan cerita ini, perkara ujian, Tuhan yang tentukan.

Mei, Juni, Juli, Agustus 2012. Aku berada disini, tinggal di rumah panggung yang di tepi sungai Tlend, tidur di atas kawanan babi, harus rela digigit kutu babi yang sakitnya minta ampun, listrik hanya malam hari dan sinyal yang suka datang dan pergi di sesuka hati. Menumpang hidup di rumah Pak Muis, di desa Benheas milik komunitas suku Dayak Wehea, aku gegar budaya. Mulai mandi di sungai, makan sayur pakis dari hutan, memancing ikan, mengunjungi pantai (pantainya di tengah sungai), tidak nonton TV dan roaming bahasa. Itu baru awalnya. Dilanjutkan dengan diare berhari-hari karena minum air sungai yang sama dengan tempat kami mandi, makan sak (biawak) dan ular, melihat pembantaian monyet, berburu babi hutan serta hal-hal lain yang tidak masuk di akal ketika awalnya aku ikut program pengabdian yang digagas Sanata Dharma. Ya, aku kena gegar budaya.

Sekian waktu berlalu, aku percaya selalu ada langkah pertama yang mengawali segalanya. Hidup bersama masyarakat Wehea, aku belajar bahwa budaya selalu berakar pada alam tempat tinggal manusia. Sadar bahwa sungai dan hutan adalah bagian dari hidup, mereka hanya mengambil apa yang diperlukan. Mau makan ikan, turun ke sungai, mau makan babi dan biawak berburu ke hutan, ambil sayur tinggal pergi ke ladang. Aku gembira bukan kepalang, karena biasanya aku cuma nonton perburuan dan makan. :D . Bergantung pada alam, maka suku ini punya berbagai upacara adat yang sangat dekat dengan alam, yang pernah aku lihat adalah erau dan nggenjong. Kuceritakan lagi kapan-kapan.

 Lalu kamu ngapain disana 3 bulan, cuma jalan-jalan sama makan?

Aku datang bersama tim, 12 orang mahasiswa akhir Sanata Dharma. Diboyong oleh kampus yang bekerja sama dengan perusahaan sawit, kami digadang untuk “memberi” pengetahuan kami tentang pendidikan di SD-SD negeri. Berbekal berkas-berkas administrasi pembelajaran, materi, dan berbagai media standar Jogja, kami yakin akan bisa memberi banyak hal, namun ternyata alam dan kenyataan lebih kaya akan kejutan.

Pernahkan selesai mengajar lalu diundang nikahan ? Aku pernah! Oleh murid SMP yang barusan aku ajar! “Kak Iing, nanti malam datang ke rumah aku ya, tar malam aku mau nikah” . Jedeerrrr! Ini apa-apaan. Aku tersenyum saja, lalu berkata “Turut bahagia!”. Ya, aku bisa apa. Ini tentang kehidupan mereka yang baru aku kenal beberapa bulan.

 Lain lagi cerita dari alam dan Juli, si tomboy atlit voli yang sekarang kabarnya jadi perawat. Hari itu, seusai hujan, aku, Juli dan Kal (anak samping rumah) motoran ke tepi kampung, ke sebuah tempat yang membuat aku melongo. Pernah lihat penebangan hutan di TV-TV? Kali ini aku lihat secara live. Deforestasi istilahnya. Berhektar-hektar lahan dibuldoser, hutan sekunder ini berubah jadi semacam arena off road lengkap dengan track tanah coklat khas Kalimantan.

“Kak iing, ini dulu ladang kakek”

Entah bagaimana caranya, ladang ini akhirnya dibeli sebuah perusahaan batubara dan mereka menambangnya. Membuka lahan, menambang batubra dan menumpuknya menjadi banyak gundukan di depan kami. Hari itu, tidak ada penambang. Makanya kami bebas keluyuran. Aku segan berkomentar, sampai akhirnya Juli bertanya hal yang membuat perasaanku morat marit.

“Batubara itu sebenarnya buat apa kak ?” 

“Buat listrik” kujawab singkat

“Disini ga ada listrik, lalu kemana batubara ini dan bagaimana! Kami tidak bisa berladang lagi”

Aku memilih diam, daripada harus menjelaskan bahwa batubara ini akan diangkut ke Jawa dengan kapal, dibawa ke PLTU menghasilkan ribuan megawatt listrik yang menerangi rumahku, kampusku, jalan-jalanku atau sekedar untuk menyalakan komputer yang ditinggal tidur yang punya. Ah, cerita yang panjang dan tidak adil untuk diceritakan.

Dan akhirnya hujan datang lagi, memaksa kami kembali pulang.

Pada saatnya 3 bulan petualangan ini akan berakhir. Suatu sore yang cerah, aku bersama anak-anak menghabiskan waktu di pinggir sungai. Sebuah sore perpisahan, diatas papan kayu yang disusun rapi untuk mandi dan mencuci, tempat biasa kami mengawali dan menutup hari dengan mandi. Seperti biasa, aku si penakut hanya berdiri di tepian, berendam di air sungai, sambil pegangan tali, dan membiarkan belasan ikan kecil menggigiti kakiku. Sedangkan anak-anak berlompatan tak karuan ke tengah sungai.

“Kak iing kesini, bagian ini dangkal. Kesini, kesini, kesini, ada pijakannya kok kak”

Dan mereka menarikku, dan bodohnya aku mau saja. Langkah pertama, ok dangkal. Langkah kedua, ok ada kayu. Langkah ketiga, tidak ada apa-apa! Tangan-tangan kecil mereka lepas. Oke, aku tenggelam!

Belasan detik di bawah air, aku sudah pasrah. Sembari mengucap goodbye dan I miss you bapak, ibu, kembar dalam hati, aku hampir yakin akan bertemu mereka di lain kehidupan. Sampai akhirnya tangan-tangan anak-anak itu kembali menemukan aku, menariku ketepian dan mengerubungi aku yang hampir pingsan menelan air sungai Tlend. Sembari terbatuk-batuk, aku mengamati wajah-wajah penuh rasa bersalah. Pasti mereka takut dimarahin pak Muis, bapak angkatku disini dan Pak Muis adalah kepala sekolah mereka. Mampuslah!

 

 

“Jangan khawatir, aku sehat!!!”

Dan akhirnya kami semua tertawa sambil bergeletakan di atas papan kayu sore itu. Aku lihat wajah-wajah panik itu, dan tertawa. Wajah yang tadi pagi aku marahi karena mereka tidak kunjung paham konsep perkalian.

Okelah, kalian memang tak jago mengerjakan soal yang dibuat oleh kementerian pendidikan, tapi soal menyelamatkan diri dari kematian, kalian jagoan.

Sore itu, hari itu, sampai saat ini, aku menyadari bahwa kesukses pencapaian indikator pendidikan memang tidak akan pernah bisa disamaratakan dengan goresan angka di atas kertas. Dan memang begitu, menurutku. 

 

Kini 4 tahun telah berlalu dan kabarnya semua berganti begitu rupa. Sebuah desa di tepi sungai Tland telah mengajarkanku segala sesuatu yang aku butuhkan tanpa perlu membuka buku.

#Minggu, 25 September 2016

  • view 279