Kekuatan Super bernama Mimpi

Maria Christiyanti
Karya Maria Christiyanti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Desember 2016
Kekuatan Super bernama Mimpi

 

Pukul 13.15, suatu hari di bulan Januari 2013. 

 

Kuparkirkan motorku di parkiran Burjo utara Rusunawa Univesitas Sanata Dharma (USD).

Aku menuju seseorang yang duduk di meja tengah.

Ia lelaki kurus putih, tidak terlalu tinggi dan berambut agak gondrong sebahu.

Namanya Gl, ia seseorang Dayak Wehea yang kukenal ketika aku berkelana ke pedalaman Kalimantan Timur, pertengahan 2012 lalu.

 

Hari ini aku ada janji bertemu dengannya, karena aku ada tugas mewancarai anak-anak Dayak Wehea yang memperoleh beasiswa untuk kuliah di USD. Dan kebetulan Gl, adalah 1 orang yang beruntung memperoleh beasiswa tersebut.

Pertemuan kami berjalan seperti layaknya 2 orang kawan yang lama tak bersua, kami pesan minum, makan sambil berbincang santai. Perbincangan santai itupun berlanjut ke proses wawancara mengenai persepsinya tentang dunia perkuliahan dan kehidupan Jogja.

 

Namun, bukan hasil wawancara yang akan kuceritakan padamu, melainkan sekelumit kisah hidupnya yang  tak sengaja kami bahas di luar konteks pertanyaan wawancara. Selamat membaca

 

Ayah dan keluargaku berubah

Gl, 22 tahun. Ia seorang Dayak Wehea asli yang tinggal di sebuah desa di kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur. Gl adalah 1 dari 5 bersaudara. Ayahnya adalah seorang penebang kayu liar yang sering disewa perusahaan logging untuk merakit kayu-kayu hasil logging dan memandu rakit itu menuju hilir sungai Mahakam. Ibunya, mengurus rumah dan anak-anak, dan juga berladang. Semasa kecil Gl hidup layaknya mayoritas anak-anak suku Wehea lain, sekolah, bermain, keluar masuk hutan dan menikmati kehidupan layaknya anak-anak.

 

Namun, sebuah peristiwa buruk terjadi di antara desanya dengan desa di hilir Mahakam. Warga desanya bentrok dengan seorang pemuda hilir sungai Mahakam yang dtuduh mencoba melakukan perkosaan terhadap seorang gadis dari desa Gl. Warga desa Gl yang marah pun mengkeroyok pemuda tersebut hingga kritis dan akhirnya pemuda tersebut meregang nyawa. Semenjak itu,hubungan desa Gl dengan desa hilir Mahakam pun menjadi tidak baik lagi.

 

Sang ayah Gl, yang bekerja sebagai pemandu rakit dari desa Gl ke ke hilir Mahakam pun tahu kondisi sudah tidak aman lagi, namun karena demi pekerjaan maka ia pun melawan rasa khawatirnya dan tetap menjadi pemandu rakit seperti biasa. 

Hingga suatu hal buruk terjadi. Ayah Gl dan beberapa teman memandu rakit ke hilir seperti biasa, namun mereka tidak sadar bahwa mereka ternyata diberi guna-guna oleh orang yang diduga dari kampung hilir. Dan di situlah semua mulai berubah.

 

Ayah Gl, yang semula baik dan pekerja keras mulai berubah, ia sering marah-marah dan jatuh dalam kondisi depresi sehingga tidak bisa bekerja. Kondisi itu diperparah dengan saudara-saudara ayah Gl yang menuduh bahwa ibu Gl melakukan perbuatan tercela sehingga keluarga itu menjadi hancur berantakan. Dengan situasi yang makin keruh tersebut, ayah Gl menjadi semakin depresi dan marah terhadap ibu Gl. Bahkan, Gl yang waktu itu masih kelas 1 SD, sempat menyaksikan sendiri ayahnya mencoba menebaskan parang ke kepala ibunya. Untung saja ibunya segera dilarikan ke Puskesmas terdekat sehingga lukanya dapat tertolong.

Namun situasi menjadi semakin sulit, ketika akhirnya ibu Gl memilih untuk tidak tinggal serumah lagi dengan mereka agar hal mengerikan itu tidak terjadi lagi. Sejak saat itu, keluarga Gl terpisah. Gl dan kakak-kakanya tinggal berpindah-pindah, kadang ikut ayahnya, kadang ibunya kadang nenek atau tante-tantenya. Suatu hal yang tidak terbayangkan oleh Gl maupun kakak-kakanya.

 

2 tahun berlalu, ayahnya sudah mulai sedikit bisa membaik kala itu, dan hubungan dengan sang Ibu juga sudah mulai membaik. Gl sudah kelas 3 SD, dan sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi keluarganya. Tetapi hal yang tidak disangka terjadi, ketika pulang ke rumah selesai bermain, ia melihat kerumunan orang di depan rumahnya. Ia yang masih kecil tak tahu, dan hanya bisa mendengar bahwa ayahnya kumat dan tanpa disangka ayahnya menombak ibunya sendiri ketika di ladang hingga tewas. Ia dan kakak-kakanya hanya terdiam tanpa menangis ketika jenasah sang Ibu dibawa pergi keluarga dari pihak Ibu tanpa diperbolehkan ikut melihat prosesi penguburannya. Gl dan kakak-kakaknya juga bisa terdiam ketika ayahnya di bawa ke kantor polisi tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan sehari kemudian, mereka juga terdiam seribu bahasa ketika tahu ayah mereka juga telah meninggal di kantor polisi setempat. Mereka hanya tahu, bahwa mereka telah kehilangan orang-orang yang dikasihinya

 

 

Menjadi Yatim Piatu

 

Gl dan ke-4 saudaranya terpencar, karena mereka menumpang hidup di rumah saudara yang berbeda-beda agar tidak terlalu merepotkan. 1 bulan berlalu, 2 bulan berlalu semua masih bisa berjalan dengan agak “normal”, namun menginjak bulan-bulan berikutnya kondisi mulai berubah. Tanah ladang dan rumah Gl dibagi-bagi oleh keluarga Gl tanpa memberikan jatah sedikitpun kepada Gl dan kakak-kakaknya. Alasannya karena Gl bersaudara telah dipelihara oleh mereka sehingga tanah ladang yang dibagi itu dianggap sebagai penukar biaya hidup.

Gl yang waktu itu masih kelas 3 hanya bisa pasrah menerima keadaan. Situasi yang tidak nyaman membuat Gl menjadi tidak betah tinggal lama di 1 rumah, oleh karena itu ia sering berpindah-pindah. Ia sering tinggal di rumah saudara, teman bahkan di manapun ia suka.

 

Tempat tinggal yang tidak tetap membuat kehidupan Gl jauh berbeda dengan teman-temannya. Ketika rekan-rekan sebayanya pulang kerumah dan makan , ia tidak. Ia sering pusing memikirkan apa yang akan dia makan setelah ini, di mana dia akan tidur nanti malam, bagaimana besoknya dan hal-hal yang seharusnya belum harus ia pikirkan. Ia berbeda, ia tak punya kehidupan seenak teman-temannya. Bahkan ia mengaku, tak jarang ia harus kelaparan karena tak ada yang bisa ia makan sehari itu. Meminta terus ia tak enak, mencari sendiri pun ia bingung. 

 

Rasa bingung dan tak pasti yang harus ia hadapi setiap hari, membuat ia putus asa. Ia mulai sering tidak masuk sekolah, ia lebih memilih pergi sesuka hati. Entah itu ke hutan, sungai, membantu orang, semua hal yang menurutnya bisa membuatnya bertahan untuk sehari kedepan.

Ia merasa putus asa, yang akhirnya mengubahnya menjadi pribadi yang rapuh, yang mudah marah, tersinggung. Entah sudah berapa kali ia tinggal kelas, entah berapa kali ia dipanggil guru. Ia tak peduli, semangatnya hilang timbul. Sekolah seolah hanya penjara penuh tuntutan.  Ia sering tidak masuk, melawan guru dan masa depan saat itu bukanlah hal penting baginya. Tindakan Gl tersebut membuatnya harus menghabiskan 9 tahun untuk menamatkan SDnya.

 

 Lulus SD, Gl tidak ingin lanjut. Ia terlanjur putus asa dan marah pada keadaan. Untuk apa sekolah, pikirnya saat itu. Toh ia tahu seperti apa nasibnya kelak, berakhir di desa atau hutan atau kuli perusahaan.  Namun, kakak dan salah seorang guru di desanya lah yang memaksa dan mendorong Gl untuk lanjut sekolah di sebuah SMP negeri di kecamatan Wahau, dan berusaha meyakinkan Gl untuk sekolah.

 

Masa remaja bagi Gl di SMP, menurutnya tak ada yang berbeda, tak ada hal baru yang bisa mengubah kondisinya. Ia masih merasa marah, tak beruntung, terbuang dan tetap kelaparan. Ia iri melihat kondisi teman-temannya yang kecukupan, memiliki keluarga, memiliki kepastian masa depan dan memiliki hal yang-hal yang tidak ia miliki.

 

“Aku bahkan tak mempunyai mimpi”, tutur Gl padaku.

 

 

Setitik Harapan

 

“Aku iri pada mereka mbak, ada satu hal yang kuingat sekali. Ketika pulang sekolah dari SMA Wahau aku harus berjalan kaki kerumah, sementara mereka mengendarai motor dan mengibaskan debu jalanan kepadaku. Aku masih ingat betul, ketika pulang sekolah kadang aku harus memaksa diri untuk tidur seharian agar aku lupa pada rasa lapar. Tidak seperti mereka, teman-temanku yang lain.”, kata Gl sambil menerawang.

 

Hidup bagi Gl ibarat sebuah perjalanan biasa, tanpa arah tanpa tujuan. Ia masih berpindah-pindah tempat tinggal, ia masih belum menemukan alasan kenapa ia harus sekolah, dan ia masih hidup dalam kepastian hidup yang menurutnya hanya akan berujung menjadi seorang kuli sawit atau pekerja di hutan.

 

Semua menurutnya masih sama, hingga mereka datang.

 

Mereka, adalah orang-orang Kanada yang tergabung dalam sebuah lembaga konservasi hutan. Mereka datang untuk membantu masyarakat desa Gl melindungi warisan hutan milik suku Dayak Wehea dari gempuran ilegal logging dan penambang. Dan di sinilah hidup Gl mulai berubah.

 

Gl yang notabene senang terhadap hal baru akhirnya direkrut lembaga konservasi tersebut untuk membantu orang-orang Kanada tersebut dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Bahkan ketika lembaga itu membuat suatu rumah belajar di desa Gl, Gl diangkat sebagai salah satu pengajar dan pengurus.

 

Mengenal orang baru dan mendapatkan hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya membuat Gl tersadar. Ketika ia menjadi pengajar di Rumah Belajar, sering ia menyesali kenapa banyak hal yang tidak ia mengerti, ia menyesali kenapa dulu ia tidak sekolah dengan baik. Di titik ini, Gl mulai berubah, ia mulai fokus kepada sekolah dan rumah belajar. Semangatnya kembali terbakar, ketika datang rekan-rekan mahasiswa USD yang melakukan pengabdian masyarakat di desanya. Ia tertantang ketika rekan-rekan USD menceritakan bagaimana itu kuliah, bagaimana itu Jogja, bagaimana kehidupan dan persaingan itu berjalan beriringan , tentang bagaimana nasib itu tidak bisa ditebak dan diramalkan .

 

Di titik inilah Gl sadar mengenai cerita hidup yang tak pasti dan kenapa orang perlu bermimpi.

 

  

Bangkit Bersama Impian

 

Gl hanya bermimpi saja waktu itu, ia akan keluar dari desanya dan memperoleh hal-hal baru, entah sebagai apa. Hingga suatu hari kakaknya berkata“Kamu mau kuliah enggak ?

 

Gl tertawa dan menyahut “Kuliah dari mana kak, kita ni ga ada uang, mimpi kok mau kuliah”.

Kakaknya menghardiknya “Gl, kamu punya Tuhan tidak ?”

 

Gl terdiam , apa-apaan kakaknya ini. Orang kuliah itu butuhnya duit kok dia ini malah tanya tentang Tuhan. “Punya lah kak, tapi apa maksudnya? ”, sahut Gl.

 

Kakak Gl menatapnya dan berkata “Kalau kau punya Tuhan, tidak usah ragu bermimpi kamu akan kuliah”.

 

Saat itu ia mengamini nasihat kakaknya, meski ia belum tahu nasib akan membawanya. Saat itu ia hanya tahu ia kini punya tanggung jawab sebagai pengurus rumah belajar, ia hanya punya mimpi suatu saat akan keluar desanya demi hal-hal baru, dan ia hanya tahu bahwa ia harus terus belajar dan berjuang demi impian sederhananya.

 

Dan di sinilah ia sekarang, hampir 1 tahun lebih kakaknya mengatakan itu, dan kini Gl duduk di depanku dengan statusnya sebagai mahasiswa semester 2 sebuah prodi di USD. Ia berkata kepadaku ini seperti mimpi yang terwujud. Ia masih ingat, saat dimana ia mendengar bahwa sebuah perusahaan akan memberikan beasiswa penuh bagi putra daerah, bagi mereka yang mau kuliah. Ia masih ingat betapa semangatnya ia waktu menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengikuti seleksi. Ia masih ingat, betapa senangnya ia pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang hanya diketahuinya dari cerita.

 

“Saat aku menikmati pagi pertama di Jogja, aku masih tidak percaya kak”, katanya sambil tersenyum.

 

Mimpi lah yang membawa Gl sampai di sini, menembus batas-batas keburaman hidup yang sempat ia pikirkan dulu. Mimpilah yang membawa Gl hidup berjuang di sebuah tempat sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya dulu. Mimpi sederhana yang kini sedang terwujud.

 

Pukul 15.20,

 

Aku dan Gl masih duduk di tempat yang sama. Namun dia, sudah berhasil membawaku berjalan menembus waktu dan jarak yang amat jauh. Aku masih terkesima dengan semangatnya sampai ia menambahkan.

 

“Saat ini, aku bermimpi ingin sekolah S2 lagi kak, entah Teologi entah sosial, entah nanti ceritanya bagaimana yang penting usaha saja. Gimana nanti ceritanya yang penting sekarang mimpi saja. ”

 

Ia dan aku tersenyum. Dan kami pun mengakhiri perjumpaan yang luar biasa ini.

 

 

Kini ,

aku masih terkesima dengan cerita hidupnya sampai detik ini, sehingga aku menulisnya untukmu. Aku ingin membagi kekuatan super itu, kekuatan bernama mimpi. Kekuatan super yang membawa manusia untuk terus berjuang dan berusaha melawan ketidak pastian hidup.

 

Sebab jika hidup sudah pasti, untuk apa kita berjuang mati-matian untuk belajar, bekerja dan terus berdoa ?

 

Kini aku sadar, memang Tuhan sengaja tak memberi kita kemampuan meramalkan masa depan. Tuhan sengaja memberikan ketidak pastian hidup agar seseorang memiliki mimpi. Dengan mimpi ia akan berharap, dengan berharap ia akan berjuang dan ketika ia berjuang demi impian ia tidak akan melupakan Tuhan.

 

Aku membagi kisah Gl kepadamu, hanya agar engkau tahu, seburuk apapun kondisi kita saat ini, kita lebih beruntung daripada mereka-mereka yang kehilangan sebuah kekuatan super bernama impian.

 

Selamat bermimpi dan mewujudkan impian.

 

Dedicated to all my beloved families and friends,

 

-AMDG-