Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 50415
            [type_id] => 1
            [user_id] => 22073
            [status_id] => 1
            [category_id] => 77
            [project_id] => 0
            [title] => Agamis tak Cukup dengan Simbol
            [content] => 

DALAM keseharian kita sering mendengar kata agamis, baik dalam obrolan diantara kawan/teman, saudara, tetangga atau dalam pidato-pidato yang disampaikan oleh pejabat. Kata agamis, memang indah dan sangat menyejukkan.

Agamis biasanya ditujukan atau penilaian terhadap seseorang atau kepada suatau daerah tempat, misalnya daerah anu masyarakatnya agamis. Atau membangun masyarakat yang agamis atau lebih agamis.

Agamis dalam kamus besar bahasa Indonesia [KBBI], yaitu orang yang melaksanakan ajaran agamanya dengan baik. Artinya taat menjalankan perintah agamanya, atau tidak melanggar ajaran agamanya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tidak sedikit pejabat atau pemimpin yang memiliki cita-cita membangun masyarakatnya yang agamis. Suatu cita-cita yang mulia, dan boleh jadi merupakan  sebuah perbuatan amal soleh.

Untuk mewujudkan mayarakat yang agamis, tentu saja harus banyak yang dilakukan agar keinginan membangun masyarakat yang agamis terwujud seperti melalui bebagai peningkatan kegiatan keagamaan, pembangunan sarana prasarana ibadah, dan lainnya.

Tidak hanya itu, yang amat sangat penting, yaitu sebagai seorang pemimpin dalam kesehariannya harus dapat menunjukkan keteladanan terhadap masyarakatnya berperilaku baik dalam memimpin masyarakatnya.

Jadi untuk membangun sebuah masyarakat yang agamis sangat diperlukan keteladanan dari pemimpin, tidak cukup dengan simbol-simbol seperti surban melilit di leher, membangun tugu atau simbol-simbol ke-Islaman atau keagamaan.

Tetapi menunjukan keteladanan, berperilaku baik, tidak korup, tidak menerima suap setoran dari rekanan untuk mendapatkan proyek/lelang proyek, selalu menepati janji, tidak berbohong, tidak sombong, tidak arogan, tidak gemar pamer, dan lainnya.

Nah, jika perbuatan-perbutan yang tidak terpuji masih dilakukan, maka agamis hanya untuk orang lain atau hanya untuk rakyatnya, tidak untuk diri sendiri.  Wallohu’alam.

0000

Sumber Foto ; SketasaElektro

[slug] => agamis-tak-cukup-dengan-simbol [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1531717152.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 57 [issued] => 0 [author] => man suparman [username] => mansuparman [avatar] => avatar.png [status_name] => published [category_name] => Agama [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-07-16T11:59:12+07:00 [updated_at] => 2018-10-04T10:22:08+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.670917ms [status] => 200 )