Bukan Mahluk Langka Lagi

Man Suparman
Karya Man Suparman Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2018
Bukan Mahluk Langka Lagi

SANG pendekar pena, kolomnis, wartawan ternama H. Mahbub Djuanidi, pernah mengemukakan, wartawan adalah mahluk langka. Itu, diungkapkannya sekitar tahun 1980-an.

Di zaman now ini, wartawan sudah bukan mahluk langka lagi, karena populasi wartawan cepat tumbuh dan berkembang. Ini, sejalan dengan semakin tingginya minat menggeluti profesi yang satu ini.

Dalam abad milenial ini, jadi wartawan bisa dibilang sangat mudah, sering dengan semakion pesatnya ilmu teknologi informasi. Ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan zaman dulu.

De, kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan, jadilah pengusaha. Kalau penakut jangan jadi wartawan, jadilah tukang mie bakso.

Ungkapan itu, masih teringiang-ngiang yang dikemukakan oleh sang pendekar pena, pada suatu kesempatan di salah satu kantor perwakilan suat kabar nasional di Bandung, tepatnya di Gedung Milamar (gedung itu sekarang sudah tidak ada), Jalan Asia Afrika (depan Gedung Merdeka), Bandung.

Memang, jadi wartawan jangan berharap kaya, memang jadi wartawan bukan untuk mengerjar kekayaan. Pada masa-masa itu, orang jadi wartawan, karena tuntutan nurani, sehingga dikenal dan lahir sebutan wartawan idealis.

Artinya wartawan yang benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya tanpa pamrih, wartawan hakekatnya pejuang. Apalagi pada masa-masa perjuangan sebelum Indonesia merdeka, wartawan berjuang dengan kekuatan penanya untuk kemerdekaan negeri ini.

Wajarlah jika pada masa-masa itu, jadi wartawan jangan berharap kaya sebagaimana dikemukakan mantan Ketua PWI, dan mantan Ketua NU periode tahun itu.

Pada masa-masa itu, wartawan yang memiliki kendaraan beroda dua, dann empat sangat jarang. Mahbub pun memiliki kendaraan sedan VW berwarna biru telur asin, mungkin bukan dari hasil jadi wartawan, karena ayahnya Pak Djunaedi, merupakan tuan tanah, orang kaya Betawi.

Walaupun pada masa-masa itu, sebut saja pada masa orde baru, kebebasan wartawan dikekang, tetapi harkat derajat wartawan sangat tinggi, dihormati oleh pejabat maupun masyarakat. Pejabat, masyarakat sangat segan terhadap yang namanya wartawan.

Wartawan pun terutama di daerah jumlahnya sangat sedikit dapat dihitung dengan jari di satu kabupaten paling banyak rata-rata sembilan atau 11 orang.

Kondisi seperti itu, tentunya jauh berbeda dengan kondisi sekarang, terutama sejak era reformasi. Jumlah wartawan saja terutama di daerah sejak era reformasi dibukannya krand kebebasan jumlah wartawan di salah satu kabupaten, wow, bisa mencapai 300 orang, bahkan lebih.

Pers masa sekarang pun adalah pers industri, walaupun tidak dapat menjamin wartawannya hidup kaya, tetapi paling tidak hidupnya mapan terutama yang bekerja pada penerbitan-penerbitan media tertentu.

Tetapi boleh jadi, lebih banyak waratwan yang hidupnya tidak kaya, gajihnya rendah seperti yang pernah dilontarkan oleh Prabowo Subianto, usai upacara peringatan hari kemerdekaan ke-72 - RI di Kampus Universitas Bung Karno, Jalan Kimia 20, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Kamis (17/8/2017).

Kalau penakut jangan jadi wartawan, itu ditunjukan oleh Mahbub Djunaedi, bagaimana keberaniannya menulis sehingga beliau sering disebut sang pendekar pena. Tulisan-tulisannya ringan, asyik dibaca, berani mengrkritik keras pemerintahan, kadang-kadang dengan gaya bahasa yang halus dan santun.

0000

Sumber foto : suarajatimpos

  • view 74