Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 19 Februari 2018   10:08 WIB
Demam Simbol

Demam simbol. Boeh jadi sekarang ini tengah melanda beberapa aderah kabupaten/kota dan provinsi. Hampir setiap daerah memiliki simbol-simbol baru, misalnya Provinsi Jawa Barat (Jabar) memiliki simbol Juara.

 Daerah Cianjur juga  rupanya tidak mau ketinggalan, yaitu memiliki symbol baru, menenggelamkan simbol Cianjur Sugih Mukti yang sudah cukup tua keberadaanya.  Kepopuleran symbol barunya itu, sungguh luar biasa.

 Jika Anda berkunjung ke Cianjur, sekarang ini akan banyak menemukan simbol, lambang, logo atau cap “Cianjur Jago” atau apapun istilahnya yang terpampang di banyak tempat, menghiasi pintu mobil dinas, angkutan kota spanduk/baliho/poster atau menempel pada baju dinas aparatur sipil Negara (ASN),  kaos, dan sepatu. Bahkan, ketika berjalan-jalan  diatas trotoar di kota ini, terdapat pula Cap “Cianjur Jago”

 “Jago” ? Hmmm, tentu saja kita akan ingat kepada ayam, yaitu ayam jago. Dalam Kamus Basa Sunda – Indonesia, Indonesia – Sunda, Sunda – Sunda, karya Drs. Budi Rahayu Tamsyah, SPk. Jago, 1, jalu atawa jaluna (hayam), 2, calon anu rek milih lurah, 3, nu unggul dina kaulinan, olahraga jst. Jago, harti injeuman jalma nu resep gelut, nu geus kasohor, nu bisa maenpo. Ya, jago gelut (gulat), jago maenpo, dan lainnya. Ngajago : boga kalakuan atawa nyeta-nyeta kawas jago.

 Pengertian “Jago” baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia, adalah sama. Jago dina harti injeuman (Jago dalam  arti kata pinjaman). Nah, dalam bahasa Sunda,atau dengan bahasa Indonesia, kata “Jago”  sangat mudah, dan sangat akrab, dipelesetkan, misalnya Jago Janji, Jago Inkar Janji, Jago Hoax, Jago Dholim, dan jago-jago lainnya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Artinya tergantung dari mana kita melihat, tergantung dari mana kita menilai, tergantung dari mana kita memaknai.

 Simbol “Cianjur Jago” kalau boleh menilai, mengandung arti sombong, ujub, riya, takabur atau kesombongan diri atau arogansi. Padahal masyarakat Cianjur, dikenal dan terkenal sangat ramah tamah, someah hade kasemah, dan sejak lama memiliki tiga pilar budaya yang sudah menjadi nilai- nilai tradisi dan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Cianjur, yakni Ngaos, Mamaos dan Maenpo.

 Sementara itu, semenjak H Irvan Rivano Muchtar, dilantik menjadi Bupati Cianjur periode 2016 -2021, muncul kebijakan baru, tiga pilar budaya rakyat Cianjur ini, ditambah empat  pilar : Someah, Tanghinas, Sauyunan dan Tatanen. Sehingga semuanya menjadi tujuh pilar, yaitu Ngaos, Mamaos, Maenpo, Someah, Tanghinas, Sauyunan, dan Tatanen.

 Someah artinya, rakyat Cianjur dikenal memiliki sifat hade ka semah atau ramah sopan, dan santun. Bahkan dalam bertutur kata pun, Cianjur dikenal memiliki lentong (logat) dengan bahasa Sunda yang lemes atau halus. Someah juga disimbolkan ibarat perilaku seorang lengser.

 Istilah “Cianjur Jago” terkesan atau mengandung arti sombong, ujub, riya, takabur yang tentu saja sangat bertentangan atau tojaiyah (bertolak belakang) dengan satu pilar, yaitu  Someah (salah satu dari tujuh pilar budaya Cianjur).

 Tentu saja Cianjur dengan “Cianjur Jagonya” diharapkan dapat melahirkan ruh, dapat melahirkan  kesan yang positif sesuai harapan ide sang pencetusnya, yaitu menjadi Cianjur Jago Membangun, Cianjur Jago Mensejahterakan Rakyat. Bukan sebaliknya seperti banyak diplesetkan orang,  misalnya Cianjur Jago Dholim, Cianjur Jago Menyengsarakan Rakyat, Cianjur Jago Jalan Goreng (jelek),  Cianjur Jago Mengacak-ngacak Tatanan, dan lainnya. Wallohu’alam.

000

Sumber gambar : patas.co.id

Karya : man suparman