Tahun 2018 - 2019 Tahun Musim Janji

Man Suparman
Karya Man Suparman Kategori Politik
dipublikasikan 15 Februari 2018
Tahun 2018 - 2019 Tahun Musim Janji

KALANGAN pemerintah, politisi, dan pengamat, banyak menyebut tahun 2018 – tahun 2019 adalah tahun politik, karena pada tahun 2018 diselenggarakan pemilihan kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) secara serentak di 171 daerah, yaitu pada tanggal 27 Juni 2018.

Sedangkan pada tahun 2019 akan diselenggarakan pemilihan umum legislatif (pileg), dan pemilihan umum presiden (pilpres), yaitu pada tanggal 17 April 2019. Ketiga perhelatan akbar tersebut, sering disebut pula sebagai pesta demokrasi.

Dengan begitu tahun 2018 – 2019, boleh jadi bisa disebut pula sebagai tahun musim janji. Kenapa ? Karena dalam menjelang pelaksanaan ketiga momentum penting pesta demokrasi, tentu saja seperti para calon pemimpin, dan wakil rakyat, mereka berkampanye yang dibalut dengan janji-janji manis, menggiurkan.

Janji-janji yang disampaikan oleh para calon pemimpin dan wakil rakyat, tentu saja tujuan utamanya agar warga masyarakat saat ada di dalam bilik suara mejatuhkan pilihan terhadapnya. Maka keinginan untuk jadi pemimpin dan wakil rakyat tercapai.

Janji-janji yang disampaikan para calon pemimpin dan wakil rakyat secara global, jika terpilih nanti akan ini akan itu, yang bermuara terhadap kesejahteraan rakyat. Tentu saja tidak ada calon pemimpin dan wakil rakyat, ketika berkampanye berjanji akan menindas rakyat, akan mendholimi rakyat, akan korupsi, dan lainnya.  

Janji-janji yang disampaikan, semuanya janji yang baik-baik, menggiurkan, sehingga warga masyarakat tertarik, kepincut janji-janjinya. Tidaklah heran di dalam bilik suara, ketika akan menyampaikan hak pilihnya memilih atau mencoblos gambar calon pemimpin atau wakil rakyat pilihannya itu.

Bagaimana setelah mereka terpilih ? Inilah persoalannya, tidak sedikit jika mereka sudah terpilh lupa terhadap janji-janjinya. Bahkan ketika janjinya itu, ditagih, dia pun berkelit dan menjawab dengan cukup enteng, “Ah, itu ‘kan janji politik !”

Hmmm… dengan menyatakan, bahwa janjinya itu, janji politik, artinya janji politik itu, janji palsu alias bohong alias bisa tidak ditepati. Padahal yang namanya janji adalah hutang yang harus dibayar. Apalagi yang namanya janji politik, merupakan janji terhadap rakyat banyak (publik)  yang harus dipenuhi.

Melanggar janji adalah haram sebagaimana firman Alloh, SWT dalam Al-Qur’an,“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu).” (QS: An-Nahl: 91),

Tepatilah janji-janjimu. Alloh SWT, tidak tidur !

000

  • view 27