PEREMPUAN DAN GERIMIS

Malida
Karya Malida  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
PEREMPUAN DAN GERIMIS

        Awan tebal melukis langit. Butiran lembut air hujan mirip kristal, mengalir berkejaran tak ada tanda tanda berhenti membelai tanah, sehingga tercium aroma yang khas. Semakin lama, rintiknya terasa semakin deras. Gerimis, ah aku paling suka dengan gerimis. Menikmati gerimis, seperti menghirup secangkir kopi hangat yang menjadi sajianku setiap pagi. Mencium harumnya bau tanah tersiram hujan, serasa membaui harum kopi. Ada banyak kenangan, yang memeluk hatiku erat. Ketika kecil, selalu ada alasan, agar ibu membiarkan aku telanjang kaki bermain air hujan. Lalu bersama teman teman, kami berlarian kecil sambil berteriak teriak. Impian sederhana, namun terasa indah dan selalu dinginkan setiap bocah. Semua berbeda begitu menginjak remaja, ketika aku mulai membenci gerimis. Apalagi kalo aku sudah punya rencana pergi dengan teman teman. Ibu selalu membesarkan hatiku. Kata beliau, “Tuhan itu Maha Adil, kalau tidak ada gerimis, siapa yang akan menyirami jutaan pohon di pinggir jalan, atau di hutan.” Dan aku tetap saja dengan setia menggerutu. Semasa kuliah, setiap kali gerimis aku paling senang duduk di pinggir jendela kamar sembari menghitung rintik hujan. Meski tidak akan pernah terhitung, tetap kulakukan. Tak peduli seberapa jauh aku berhasil mengurai jumlahnya, hingga teman teman sering menggodaku sok romantis. Ah aku selalu suka gerimis. Sekarangpun aku masih suka menikmati gerimis. Berdiam sambil menikmati guyuran air yang jatuh dari langit. Indah,………….. seindah dirimu.

          Ketika gerimis… 3 tahun lalu, di sebuah pameran buku di Gedung Nasional Kota, tanpa sengaja aku bertemu denganmu, nama yang beberapa tahun terakhir tidak hanya sekedar menjadi mimpiku, namun benar benar ada. Awalnya aku hanya iseng, karena aku tahu aku bukan orang yang hobby koleksi buku bacaan. Kecuali buku buku ekonomi dan perbankan karena memang itu bidang yang kugeluti. Selain itu, paling paling koran dan majalah, karena aku haus informasi tentang perekonomian bukan yang lain lain. Di sana semuanya berawal. Pertemuan yang tak sengaja. Mirip mirip cerita dalam sinetron. Disalah satu stand pameran, kita hampir mengambil buku yang sama, lalu tersenyum, saling menyapa dan semuanya berlanjut. Entahlah aku tidak pernah mengerti, apa itu yang dinamakan takdir.

        Bercerita tentang kamu, rasanya tak akan pernah habis. Sosok yang ayu (aku lebih senang menyebutmu ayu, bukan cantik), lembut, keibuan, cerdas, dan mandiri, tak juga selesai jika dilukiskan dengan kata kata, apalagi jika sekedar diungkapkan. Semua yang ada padamu nyaris sempurna. Aku tahu kamu tidak secantik model model yang ada di majalah, yang dengan mudah bisa dipelototi kaumku. Tapi kamu ayu. Ada aura menarik dari dirimu. Sekali menatapmu orang belum tentu merasakannya, tapi setelah cukup lama, seperti ada magic yang melekat seakan memaksa untuk terus menatapmu. Pasti bukan hanya aku yang mengagumimu. Semua lelaki juga akan bilang hal yang sama. Dan kamu hanya tersenyum tipis ketika kukatakan, betapa beruntungnya laki laki yang akan mendampingimu kelak, tak ada komentar apapun, kecuali tatapan lembut. Kamu pasti tidak pernah tahu, aku juga akan merasa beruntung jika aku bisa memilikimu. Meski aku tahu, ini tidak boleh kulakukan. Aku punya batasan, dan aku tidak boleh melanggarnya.

          Setelah itu, tak terhitung kita bertemu lagi, dan bertemu lagi. Dengan dalih persahabatan, kamu dengan santai menerima aku sebagai temanmu. Tidak masalah, asal aku bisa dengan leluasa menatapmu. Ah, kamu tak pernah tahu betapa sering aku berkhayal, suatu saat aku bisa membalikkan waktu, ada kesempatan mencintaimu dengan sepenuhnya, melamarmu, dan menjadikanmu pendampingku. Tapi aku tidak pernah sanggup mengatakannya. Ada banyak alasan, pertama karena kata kata itu tidak pantas disampaikan pada perempuan istimewa seperti kamu. Kedua aku takut kamu akan marah pergi menghilang dan aku tidak bisa menemuimu lagi. Ketiga bisa jadi karena aku takut dosa, ah sejak kapan aku tahu dosa. Apakah mencintai seorang perempuan itu dosa. Bukankah cinta tak pernah bisa ditebak pada siapa dan kapan akan datang. Seandainya saja cinta bisa ditempatkan, aku pasti memilih kamu, dan meminta agar ada cinta untukku yang bersemayam di hatimu, hanya aku. Atau bisa jadi karena aku tahu kamu akan dengan tegas menolak apa yang ingin kusampaikan. Dengan bersembunyi dibalik dalih persahabatan, selama 3 tahun, aku berada pada posisi aman. Meski hatiku tidak bisa berbohong, dalam diamku, lagi lagi aku hanya bisa mengagumimu. Setiap kali bertemu kekaguman itu semakin memuncak. Kamu tidak hanya sekedar ayu secara fisik, Kamu juga perempuan yang cerdas dan peduli dengan apa yang ada di sekitarmu.

         Suatu saat kamu pernah bercerita tentang rencana membuat tempat pendidikan khusus bagi perempuan. Mereka bisa belajar banyak hal, mulai dari ketrampilan hingga kepemimpinan. Itu impianmu. Setiap kali kamu berbicara tentang perjuangan kaum perempuan, tak ada habisnya terlontar dari bibirmu. Lalu dilain waktu kamu juga bercerita tentang usahamu yang mulai berkembang, dan hobbymu bermain piano. Tapi satu hal yang tak pernah kudengar darimu, tentang cinta. Cintamu buat siapa ?. Kamu sengaja menutup rapat semuanya. Untuk sekedar menebak, kamu sengaja tak pernah memberikan peluang bagi orang lain bisa melakukannya. Setiapkali kutanya, lagi lagi kamu hanya tersenyum, ada kilatan aneh dimatamu, seperti kesedihan, terlalu sulit menyelami apa yang bersemayam dalam pikiranmu. Biarlah, karena sejujurnya akupun takut dan tidak siap, jika aku mendengar kamu punya hubungan istimewa dengan orang lain. Lebih baik seperti sekarang. Kamu tetap sahabatku dan kita punya waktu untuk bertemu. Meski aku tahu, ini tak seharusnya kulakukan. Kamu selalu membuat aku lupa dengan semuanya. Ada kedamaian kutemukan setiap kali bersamamu, yang sebelumnya tak pernah kurasakan. Bahkan selama 3 jam menghabiskan waktu ngobrol denganmu rasanya baru beberapa menit. Aku selalu mengeluh setia kali pertemuan kita harus berakhir. Dan kamu tidak pernah tahu pastinya, aku terjaga hingga tengah malam, setelah pertemuan kita. Aku takut jika bukan dirimu yang hadir dalam mimpiku. Apa mungkin, aku memang benar benar jatuh cinta kepadamu. Jatuh cinta kepadamu, mana mungkin?, Mana mungkin aku jatuh cinta padamu, karena memang aku tidak layak untuk jatuh cinta kepadamu. Ada alasannya kenapa aku tidak layak untuk jatuh cinta kepadamu. Tak perlu ku ceritakan, karena memang tak perlu ada jawaban.

         Pertemuan kita terulang lagi. Pertemuan, yang sedikit banyak mulai menjawab pertanyaan pertanyaanku, tentang sebagian perjalanan hidupmu. Dalam satu pertemuan kita, kamu bercerita tentang sahabatmu yang menjadi korban kekerasan suaminya. Dia ditampar habis habisan hanya karena cemburu, istrinya secara tak sengaja menerima telepon dari teman lamanya. Lagi lagi, aku melihat kilatan aneh itu dari sorot matamu. Tapi kamu sengaja menyimpannya, dengan senyuman terhias lesung pipit dikedua pipimu. Lalu sebuah episode episode panjang mengalir dari bibirmu. Tentang seorang bocah kecil, yang melihat dengan jelas ayahnya pergi bersama seorang perempuan, asing. Tiba tiba perempuan itu datang ke rumah, menghentikan acara makan malam bersama. Sedetik kemudian, perempuan itu membawa ayahnya pergi sambil bergelayut manja dilengan ayahnya, tersenyum, senyum penuh kemenangan. Sementara perempuan yang setia dipanggil dengan kata ibu, hanya terdiam tanpa air mata. Mengelus pelan kepala sang bocah. Mungkin karena luka itu digores berkali kali, terlalu lama dipendam akhirnya semua berujung. Sang ibu jatuh tak sadarkan diri berhari hari. Saat bangun, sang ibu tak mengenal siapapun, kecuali tatapan kosong. Hanya ada luka menganga didalamnya dalam sekali. Sejak itu si bocah harus berjuang sendirian, memaksa dirinya untuk bisa bertahan. Tak sempat mengeluh, karena memang tak ada tempat selain kepada Tuhan. Semua belum selesai. Ia nyaris diperkosa oleh laki laki yang dianggap sahabat terbaiknya. Bahkan Ia pernah dipanggil dengan sebutan lonthe alus, hanya karena mempertahankan sebuah harga diri. Meski tak kau jelaskan aku bisa meraba, cerita itu milikmu. Tak ada air mata sedikitpun menggenang bening dimata indahmu. Dan episode berikutnya, masih berlanjut. Dia nyaris bunuh diri karena mengangap apa yang dialaminya terlalu berat. Namun seiring waktu, tempaan itu, membuatnya belajar tegar dan berbesar hati menjalani semuanya. Dia mulai berteman dengan hidupnya. Termasuk menerima, apa yang dilakukan ayahnya adalah sebuah pilihan, pilihan yang menyakitkan untuk dia dan perempuan yang dipanggilnya ibu. Ah seandainya saja aku boleh memelukmu untuk sekedar menenangkan dirimu. Tapi aku tahu itu justru akan melukaimu. Tiba tiba aku semakin takut, kamu seperti sedang menyindirku dengan ceritamu.

         Aku tidak mungkin bicara jujur, meski kebersamaan kita sudah sangat lama. Aku hanya bisa berhayal, andai waktu bisa terulang kembali dan semua bisa dipilih. Pertemuan kita terjadi beberapa tahun yang lalu bukan sekarang. Aku pernah mencandaimu dengan kata kata itu. Jawabmu sederhana, semua yang kita lihat indah tak selamanya indah. Bisa jadi ketika kita mencobanya justru kita tidak pernah merasakan keindahan seperti dalam bayangan sebelum mendapatkannya. Lagi lagi aku terdiam, aku tahu hatiku tak bisa menerima. Lalu semua berakhir, dan pertemuan kita selalu menyisakan penyesalan untuk aku. Penyesalan yang entah kapan akan terurai. Kalau saja kamu tahu semua, apakah kau masih akan tetap menjadi sahabatku. Atau sebaliknya, kau akan marah menganggapku sebagai laki laki yang sama dengan suami temanmu itu. Lalu kamu akan mencaci maki dengan sumpah serapahmu. Ah aku tidak ingin kehilangamu, gadis biarlah begitu aku menamaimu. Dan gerimis sebulan lalu, ternyata menjadi pertemuan terakhir. Di cafe pojok, kamu duduk tepat di hadapanku. Tak seperti biasanya, kali ini kamu hanya menatapku. Ada sesuatu yang ingin kau ungkapkan, tapi tak juga ada. Kamu lebih banyak diam, sambil sesekali menimpali percakapan kita. Bahkan sampai kita berpisah, tak ada pesan apapun yang terucap padaku. Meski ada beribu pertanyaan, tak satupun berani kuucapkan, hingga aku baru sadar, setelah semua menghilang. Tak ada lagi cerita tentang Gadis, kecuali impian. Ditengah gerimis, ini untuk kesekian kalinya aku berusaha menghubungimu. Beberapa kali kucoba menghubungi nomor HPmu, tak ada nada. Aku  sangat resah. Kamu menghilang bagai ditelan bumi. Tanpa pamit ataupun sekedar mengirim pesan pendek. Ketika kutanyakan pada sejumlah temanmu yang kukenal, jawabnya sama.

           Tak ada pesan apapun. Cuma ada versi tambahan. Ada yang bilang, kamu menikah kemudian ikut suamimu ke luar negeri. Lalu kamu menyusul ibumu yang sekarang menetap di Bandung, kamu punya usaha baru di Jakarta dan banyak lagi. Entah jawaban mana yang mendekati kebenaran, dan kamu benar benar menghilang seperti ditelan bumi. “Mas, kita makan malam dulu, anak anak sudah menunggu, “suara lembut Kirana istriku, membuyarkan semua lamunanku. Aku tercengang. Mungkin ini saatnya hatiku harus kembali ke istana yang sejak 10 tahun lalu kubangun dengan tawa dan air mata. Aku berharap suatu saat kamu akan datang lagi menyapa dengan senyuman, atau sekedar mengirim sms pada nomor HPku untuk bercerita kenapa kau menghilang. Gerimis diluar makin deras, ah tiba tiba aku membencinya, aku jadi membenci gerimis. Aku patah hati karena kehilanganmu dan patah hati, karena diam diam sudah menghianati perempuan yang begitu luar biasa menjaga keluarga kami.

    Di sebuah tempat di sudut kota, seorang gadis berdiri dipinggir jendela, memandangi gerimis. Ada gelisah, merambah hatinya. Gerimis selalu mengingatkan pertemuan itu, pertemuan yang menyisakan kerinduan panjang. Ia sadar semua bukan pada tempatnya, meski cinta tak pernah bisa dipimpin kemana ia harus berlabuh. Cinta akan memilih sendiri tempat yang harus dipilihnya. Dan kini ia yang merasakannya. Ia begitu mencintainya, karena laki laki itu nyaris sempurna. Tapi ia tahu, melihat perempuan cantik dan 2 bocah kecil saat dipusat perbelanjaan, rasanya ia tak sanggup mengakui semuanya. Bahkan untuk sekedar jujur pada hatinya. Ia tak ingin membalas apa yang pernah dirasakannya pada orang lain, dan tak akan pernah. Biarlah kini ia menghindar agar semuanya bisa menjadi reda. Suatu hari nanti ketika semua sudah tenang ia akan kembali dan menemui laki laki itu. Ia akan kembali datang benar benar sebagai sahabat bukan selingkuhan atau istri kedua. (author :malida/pic by vrian wara wiri)

  • view 255