Gila Hormat!

Mohammad Syukron Ramdhani
Karya Mohammad Syukron Ramdhani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Juni 2016
Gila Hormat!

Beberapa hari ini, masyarakat Indonesia dibuat geram oleh Satpol PP Kota Serang  Banten yang secara paksa merazia tempat makan yang tetap buka di siang hari dan merampas semua makanan yang sudah berjejer rapi di etalase. Salah satu korbannya adalah ibu Saeni, yang seiring peredaran berita ini juga mendadak tenar karena foto dan video dirinya yang tengah merengek meminta petugas tidak merampas masakannya menjadi perbincangan banyak orang. Aliran simpati masyarakat terus mengalir deras kepada ibu Saeni, mulai dari warga media sosial hingga orang nomer wahid di negeri ini yang kabarnya telah meneleponnya.

Fenomena tetap beroperasinya tempat makan selama bulan puasa memang bukan merupakan hal baru. Sejak dulu, memang banyak tempat makan mulai dari warteg hingga restoran elit yang tetap melayani pelanggannya di siang hari selama bulan Ramadan namun mereka menutup tempat mereka denga tirai sehingga orang yang sedang makan tidak terlihat wajahnya. Kita sering menyebutnya setan gentayangan, karena kita hanya dapat melihat separuh badannya saja, bahkan di warteg, kita hanya melihat kaki mereka yang tidak menapak tanah, persis setan. Juga aksi razia baik oleh aparat pemerintah maupun ormas bukan merupakan barang baru. Namun rasanya baru kali ini benar-benar terkespos oleh media. Kejadian di Kota Serang ini memang bukan sembarang razia. Aparat Satpol PP tidak akan begitu saja melakukan operasi tanpa ada perintah dari atasannya. Bisa dibilang mereka hanya eksekutor lapangan. Pemerintah Kota Serang memang telah mengeluarkan larangan resmi terhadap tempat makan untuk tidak buka pada siang hari selama bulan Ramadan. Tujuannya menjaga kekhusyukan bulan suci, dan juga menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa. Warteg ibu Saeni pun sudah ditempeli peraturan tersebut di kaca depannya. Namun sayang, ibu Saeni tidak bisa membaca, lulus SD pun tidak. Perdebatan kemudian muncul. Siapa yang sebenarnya harus dihormati? Orang yang berpuasa atau yang tidak berpuasa?

Pertama, mari kita telaah lebih lanjut apa makna dari puasa. Seperti dalam tulisan bang Fahd beberapa hari lalu, puasa pada dasarnya adalah perisai untuk menahan diri, bukan pedang untuk menyerang. Seyogyanya puasa dapat menjadikan orang yang sedang berpuasa lebih menahan diri terhadap godaan-godaan yang ada. Godaan makanan dan minuman? Ya tentu saja. Namun jika puasa hanya terbatas pada menahan lapar dan haus, itu kelas puasa anak usia 6 tahun yang baru belajar berpuasa. Untuk orang dewasa atau sudah baligh, seharusnya puasa memiliki makna lebih jauh dari itu. Menunaikan ibadah puasa seyogyanya menjadikan seorang muslim lebih mendekati fitrahnya, untuk itu di akhir puasa kita akan menemui idul fitri. Dengan melaksanakan puasa, seorang muslim seharusnya  secara rohani lebih jauh dari setan, lebih dekat ke Tuhannya, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Secara sosial, puasa juga meningkatkan rasa solidaritas dan empati kita terhadap saurada-saudara kita yang mengalami kesulitan terutama fakir miskin.

Apakah harus menghormati orang yang berpuasa? Tentu. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim dan mayoritas dari muslim menunaikan ibadah puasa, sudah menjadi hal yang wajar jika orang yang berpuasa layak mendapat penghormatan. Namun, apakah perlu sampai menutup semua tempat makan di siang hari? Jika melihat definisi puasa di atas, pada dasarnya kaum muslimin tidak memiliki masalah dengan tetap beroperasinya tempat makan di siang hari pada bulan puasa. Mereka yang berpuasa sudah memiliki perisai sendiri untuk menahan godaan. Pelarangan tempat makan untuk tetap buka di siang hari memang akan ‘mengurangi’ tantangan orang yang berpuasa, namun apakah kita benar-benar membutuhkannya? toh jika hanya perkara makanan dan minuman sudah bukan ‘kelasnya’ orang dewasa. Jika nanti di hari idul fitri kita merayakan kemenangan sedangkan semua godaan sudah diantisipasi dengan kita menuntut untuk orang yang tidak berpuasa untuk menghormati yang berpuasa dengan menutup tempat makan di siang hari, lalu orang-orang berpakaian lebih tertutup, apa yang sebenarnya akan kita rayakan?

Kita semua paham bahwa meskipun mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, negara ini bukan merupakan negara Islam. Untuk itu tidak semua aturan dan nilai-nilai Islam dapat dipukul rata diaplikasikan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Lalu dari semua orang Islam yang ada di Indonesia, tidak semua pula melaksanakan ibadah ini baik yang memiliki udzur syar’i maupun tidak. Islam dengan segala kemudahannya memperbolehkan beberapa golongan orang untuk tidak berpuasa yaitu orang sakit, orang dalam perjalanan, orang tua, dan wanita hamil dan menyusui. Bahkan Islam mengharamkan puasa bagi wanita yang sedang haid dan orang yang nyawanya terancam jika tetap berpuasa. Dari dua penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa banyak orang yang tidak berpuasa di Indonesia, baik muslim maupun bukan muslim. Orang-orang yang tidak berpuasa ini tentu membutuhkan tempat-tempat makan tetap buka meski di siang hari, sehingga jika semua tempat makan dilarang beroperasi akan menyulitkan orang-orang tersebut.

Dengan segala kemuliaan puasa Ramadan, seharusnya orang yang berpuasa menjadi lebih sabar dan bijak dalam menghadapi persoalan seperti ini. Tidak selayaknya orang yang menunaikan ibadah puasa menuntut orang lain untuk menghormati dan mendukung terlaksananya ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan ibadah individual yang hubungannya vertikal, langsung antara manusia dengan Allah, namun efek dari ibadah ini mencapai lapisan horizontal yaitu lapisan sosial masyarakat. Sangat eksklusifnya ibadah ini hingga Allah sendiri yang akan membalasnya.

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berkata: Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku.” (H.R. Muslim).

Masalah hormat-menghormati merupakan urusan pribadi, tidak ada paksaan di dalamnya. Sehingga tidak sepatutnya siapapun menuntut untuk menghormati atau dihormati, baik yang berpuasa maupun tidak. Akan tetapi, hormat-menghormati juga bersifat mutual. Jika kita menghormati orang lain, tentu orang lain juga akan menghormati kita. Seperti sebuah peribahasa, lu sopan, kami segan. Sebagai manusia dewasa, seharusnya pula kita memiliki kesadaran akan situasi di sekitar, sehingga kita tahu kapan dan di mana kita harus menghormati orang lain. Dan dengan menghormati orang lain, secara otomatis kita akan dihormati.

Dilihat 88