Demam Berasmara

Majreeha
Karya Majreeha  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2017
Demam Berasmara

"Langit terlelap oleh gelap
bulan melingkar bersinar
angin berdesir memeluk kalbu
mengingatkan sosok seorang insan
Tuhan. . . .
sang pencipta bara kerinduan
yang menyusuri dinding perasaan"

***
Sedari tadi ku berbincang dengan pak Yanto. Laki - laki beruban yang lanjut usia,bertubuh ringkih,dan berpeci miring ini rupanya semakin penasaran tentang kehidupan pesantren. Basa-basi sedikit ku perkenalkan untuknya sesekali dua kali ku kelupas dan ku makan kacang yang dihidangkan didepan ku.

"Menginjak acara selanjutnya,yakni pembacaan ayat-ayat suci Al-qur'an yang akan dibacakan oleh saudari. . . . ." tutur Master of Ceremony yang tanpa permisi menghancurkan percakapanku dengan pak Yanto. Kini mata kami fokus kedepan.

Perlahan gadis berkerudung semu abu-abu itu naik podium. Lalu dengan hati-hati mengambil duduk iftirasy. Gadis itu wajahnya memukau bersinar anggun,pipinya lesung,kelopak matanya coklat kopi susu,dan bulu matanya melengkung menawan cantik. SubhanAllah. Dalam jeda yang tak lama setelah mengucapkan salam,ia sempat melemparkan sesunggingan senyuman. Aku merunduk tersaput malu. Ia pejamkan mata,menarik nafas dalam-dalam.

"Bismillahirrohmaaniirrohiim.... Ar-Rahmaan... Allamal qur'aan.."

Ia mulai bergema merapal makhorijul huruf kalamullah dengan sifatul huruf yang fasih,mengatur ritme hembusan nafas disetiap perpindahan satu ayat ke ayat lain tanpa tergesa-gesa. Dengungan suaranya menyusun prosa-prosa suci di hati yang leluasa menyegerakan mulut memuji ILLAHI. Ku termangu syahdu,amat begitu merdu. Pak Junaidi yang menjual pentol dan Bu Asri si penjual tahu solet pun yang ramai mempromosikan produk dagangan masing-masing diluar seketika diam dalam kekhusyukan.

"Fabiayyi aalaa i Robbikumaa tukaddzibaan"

Matanya sayu meneteskan air mata cinta. Semua terpukau oleh bacaannya,terharu oleh suaranya. Hatiku luluh,lumpuh dengan berbagai tanda tanya. Adakah aku dihatimu? pantaskah aku yang hanya bisa menggerilya tangan ku untuk menuah titah-titah rindu?

***
"Hei ada nyamuk yang menggigitmu" tegur Pak Yanto sambil mengepakkan tangannya di pundakku.
"Hati-hati sekarang musimnya penyakit DB" lanjutnya.
"Nyamuk Demam Berdarah kerjanya siang hari" Aku mengelak.
"Bukan Demam Berdarah"
"Lalu?"
"Demam Berasmara" jawabnya sambil cengengesan.

"Ah dasar. . . . .sudah tua masih saja mengenal asmara" gerutuku dalam hati.

***

#Mjr_09

*Mungkin udara malam ini sangat dingin dan nyamuk semakin liar berterbangan yang membuatku menghayal tak karuan :p :D

  • view 99