Sandersons

Rizkika Mahzura Aurora
Karya Rizkika Mahzura Aurora Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 November 2016
Sandersons

Sebelumnya > Matur Suksma

***

Sanderstrom. Souvenirs, Café, and Gallery.

"Kata nenek buyutku, Gus, sudah waktunya kau memperjuangkan apapun yang menurutmu berharga. Kau harus berikhtiar lebih keras lagi. Kalau kau tidak melakukannya sekarang, kau akan semakin jauh dari arah pencarianmu."

Lagu dubstep electro menyeruak dari penguat suara bersama kata-kata Bli Yoga tadi pagi, bersatu, dan berputar-putar dalam kepalaku. Hari ini pengunjung meledak, turis asing maupun lokal hilir mudik keluar masuk toko. Sesekali aku membantu pekerjaan para pramuniaga yang kewalahan melayani pembeli. Biasanya setelah berbelanja dan menitipkan barang ke tempat penitipan di dekat pintu masuk, para pengunjung naik ke lantai atas untuk makan siang. Bli Yoga adalah menejer kafe-nya. Sedangkan si pemilik –  Brian Sanderson sekarang hanya mengenakan singlet putih dengan jeans belel selutut – sedang berbaur dengan turis asing di dekat pintu masuk. Aku yakin dia jauh lebih capek dari kami semua. Dia bolak-balik dari toko souvenir di lantai satu, ke kafe-nya di lantai dua, dan ke galeri foto di lantai tiga untuk memastikan semua pekerjaan ditangani dengan baik. Ada semacam bar beserta sepasang meja biliar di dalam galeri dan Bli Rama adalah bartender di sana. Jadi pengunjung juga bisa bersantai menikmati minuman, main biliar, atau menjelajahi galeri yang terpajang koleksi fotoku dan foto Bli Yoga.

Musik terus mengalir, arus pengunjung pun masih deras membanjir.

"Awas saja dia! Kalau besok belum muncul juga, aku cari orang lain!"

Brian mengomel ketika menerima telepon dari lantai tiga yang pasti sedang collapse. Semua ini gara-gara David yang belum juga kembali dari Jogja. Sudah seminggu Alicia menjadi relawan menggantikan pekerjaan David di galeri dan tiba-tiba saja perempuan itu ditimpa urusan penting yang harus ia kejar di Auckland. Alicia berangkat beberapa jam lalu meninggalkan Bli Rama yang akhirnya harus bekerja sendirian di lantai tiga. Kurator pengganti yang dijanjikan David sama sekali tidak datang sesuai janji. Tentu saja semua itu menjadi perkara yang mengecewakan.

Semua orang lelah, semua orang bekerja seperti robot. Waktu seakan berjalan lambat dan kepalaku terus saja memikirkan kata-kata Bli Yoga. Dia benar bahwa selama ini aku abai pada waktu yang terus menarik jarakku dengan seseorang yang sekarang membenciku. Aku telah menukar masa remajaku dengan rasa sepi untuk sebuah kemandirian. Aku meletakkannya sebagai prioritas, sebuah tujuan, dan aku sisihkan cinta perempuan itu. Dua tahun lalu aku kembali mencarinya di media sosial, kusapa dengan harap berdebar, namun dia mengambil tindakan blokade. Saat itu aku sadar, aku adalah musuhnya.

Musuh.

"Valter, kau belum makan siang, kan?"

Brian meneriakiku dari tangga. Aku meliriknya sekilas tanpa semangat. Sekarang pukul empat dan sudah tak bisa lagi dikatakan siang. Dia berubah emosi dengan reaksiku.

"Hei, aku bukan bos kejam yang menyuruhmu kerja rodi. Ayo, Valter! Atau kupecat kau sama anak sialan itu!"

Setelah mengultimatum, Brian naik ke atas sembari membuka singlet putihnya yang lembab oleh keringat, lantas bersungut dan menggumpalkan singlet itu dengan gemas. Aku baru ingin menyusulnya saat kulihat bayangan David memasuki toko. Senyum santai tak berdosa terpampang di wajahnya. Brian mungkin takkan berpikir dua kali untuk menendang bocah itu – jika dia melihat senyumnya itu.

"Hey, Fata.” David menyapaku ramah sekali. “Woy! Kenapa lo ngelihatin gue kayak gitu?"

***

 

Brian mengunyah kacang dan melempari kulitnya ke wajah David yang memang tebal. Aku baru saja menghabiskan dua mangkuk sup saat itu. Kurasakan udara dan nuansa senja yang tak begitu kentara menerabas panel kaca. Pasti sejuk sekali di luar sana. Kami berlima kembali berkumpul setelah seminggu lebih bergulat dengan aktivitas masing-masing. Ada banyak cerita yang mereka bagi. Para pengunjung berangsur-angsur meninggalkan toko, sekarang hanya tinggal beberapa. Tepat pukul enam nanti Sanderstrom resmi tutup dan akan buka kembali pukul sembilan esok hari.

"Kau memang tolol!" Lirih Brian setelah pidato permintaan maaf David berakhir. Beberapa saat kemudian, suaranya berubah meledak seperti petir. "PEREMPUAN ITU SEDANG BERMASALAH JIWANYA!"

"Oh, berarti Sagitta memang datang, kan? Tapi..." David menatap tak percaya. "Bos, lo kenal sama dia?"

"Harusnya itu pertanyaanku, tolol! Seberapa kenal kau sama dia?”

David menatap takut penanyanya, bibirnya mulai bergetar ragu. “Yang aku tahu semua orang dari Seminyak sampai Kuta kenal dia. Sagitta. Dia depresi karena ditinggal mati pacarnya. Dia juga sering nongkrong di bar dan keluyuran sampai pagi.”

“Ya, ya, jadi perempuan seperti itu yang kaukirim untuk bekerja di sini?”

“Maaf, Bos, maaf…”

“Dia datang hari itu. Aku sengaja menunggunya di depan pintu, berharap dia punya keberanian menemuiku. Tapi dia melarikan diri setelah melihatku dari jarak seratus meter."

"Sebenarnya apa masalah bos sama dia?"

Brian mengikik geram. Aku, Bli Yoga dan Bli Rama memilih bungkam, menyumpal mulut dengan kacang sembari mendengarkan mereka. Perempuan bernama Sagitta itu hebat juga bisa menjadi topik pembicaraan kami sore ini.

"Aku nggak punya masalah sama dia. JUSTRU, aku sangat cinta dan sayang sama dia."

Hening pecah. Penyataaan Brian itu membuat kami berempat tertegun. Aku, Bli Rama, dan Bli Yoga saling berpandangan, bergantian meliukkan alis untuk berkomunikasi. Pandanganku berhenti lama pada Bli Yoga – orang yang paling banyak memegang rahasia kami semua, dengan cepat dia mengerti dan memberiku isyarat bahwa dia tidak tahu menahu tentang masalah itu.

"Kau mau tahu siapa dia?” Brian menatap tajam David. “KALIAN MAU TAHU SIAPA PEREMPUAN GILA yang sedang kami bicarakan ini? Dia adalah Sagitta Sanderson. Sagie. Adik angkatku.”

Oh. Ini benar-benar kejutan.

Ternyata ada Sanderson yang lain.

“Adik?” David kehabisan kata-kata.

“Man, kenapa kau baru memberitahu kami?” Bli Rama menepuk punggung Brian. “Ceritakan lebih banyak tentangnya. Kami ingin tahu…”

“Dia gila. Apa lagi yang bisa kuceritakan?” Brian menenggak minumannya. Pandangannya terlempar keluar panel kaca, menerawang tidak jelas seperti lelaki yang sedang patah hati. “Baiklah, akan kuceritakan…”

Sagitta Sanderson adalah adalah anak sahabat orangtua Brian. Mama, papa dan kakaknya meninggal saat dia berusia dua tahun dalam kecelakaan mobil. Kasihan, tapi ajaibnya dia panjang umur. Keluarga ibunya tinggal di Medan dan sangat miskin, sedangkan keluarga ayahnya tidak jelas darimana. Dia diadopsi setelah keluarga ibunya memberi izin, bahkan dia mendapat nama belakang keluarga Brian setelah itu. Brian juga mengatakan bahwa Sagie mendapat  kasih sayang yang melebihi dirinya sebagai anak kandung, dan dia tidak pernah iri sekalipun mereka tidak pernah akur.

“Dia adalah sumber kebahagiaan di keluargaku. Mama dan papaku tidak pernah menyembunyikan identitasnya darinya. Kami berdua dididik dengan kejujuran. Hingga ketika dia berusia lima belas tahun, untuk pertama kalinya dia membuat mamaku sampai menangis berhari-hari. Sagie ingin mencari keluarganya, neneknya, dan berniat bersekolah di sana. Dengan berat hati mama dan papaku melepasnya pergi. Dia pergi dan tidak pernah kembali, sampai sekarang…”

“Aku tahu apa yang terjadi…” David menimpali. Keberaniannya kembali. “Dia jatuh cinta dan kehilangan orang itu. Ya, dia pernah cerita tentang itu…”

“Dia menyalahkan dirinya atas kematian lelaki itu," Brian melanjutkan penjelasannya. “Sama seperti kedua orangtua dan kakaknya, lelaki itu juga meninggal karena kecelakaan. Dia merasa terkutuk dan sial. Kami semua menyesal telah membiarkannya pergi ke Medan.”

"Medan?" Jantungku berhenti berdetak sesaat. Suaraku menginterupsi spontan, namun Brian menyadari keterkejutanku. Sekarang matanya melirikku.

“Ya, Fata. Kota sialan itu telah merenggut adikku dalam setahun. Keadaannya hancur dan sekarang dia menjadi sumber kemurungan di keluargaku.”   

Kulepaskan tarikan nafas panjang. “Aku doakan suatu hari adikmu kembali, Brian.”

“Very very thank you, Fata.”

“Anytime, Brian.” 

"Jadi sekarang kau dekat dengannya?" Brian kembali menanyai David dengan sinis. Terkesan tidak suka. "Huh, kuharap kau berhasil mengembalikannya. Tapi ingat ya, dia itu adikku. INGAT! Aku membayar orang untuk menjaganya, mengangkutnya setiap kali dia teler. Jangan sampai aku tahu kau berniat mengangkutnya ke rumahmu."

“Tenang, Brian. Mulai sekarang kami pun akan membantu kamu menjanganya.” Bli Yoga berusaha menenangkan.

“Ya. Itu pasti.” Timpal Bli Rama.

David menggeleng kesal atas intimidasi dan ancaman Brian. "Sumpah! Gue sama sekali nggak ada niat seperti yang lo pikir."

"Terus kenapa kau beri pekejaanmu padanya?"

David terdiam sesaat. Pandangannya menajam, mencoba meyakinkan. "Kami pernah ngobrol panjang tentang seni dan budaya. Dia banyak tahu tentang semua itu dan – ya, gue minta bantuan dia dan dia mau. Tapi aneh, kenapa dia sampai nggak tahu kalau Sanderstrom ini punya kakaknya sendiri?"

“Karena Sanderstrom, bukan Sanderson. Dan karena dia memang nggak pernah tertarik untuk mengetahui apapun tentangku, tentang apa yang kulakukan…”

David tak menyahut, pertanda dengan damai dia menerima semua masukan Brian. Terlebih ingin menutup pembahasan tentang Sagitta Sanderson – perempuan yang bahkan aku belum pernah kutemui. Keluarga dan kekasihnya mati, dan sekarang dia menjadi gila. Malang sekali gadis itu.

Oh Tuhan.

Terima kasih, nasibku lebih baik dari dirinya. Keluargaku masih hidup dan kuharap mereka semua sehat tanpa kekurangan apapun. Perempuan yang kucintai juga masih hidup meski sekarang dia membenciku. Aku harus bersyukur mereka semua masih hidup. Sekali lagi aku teringat kata-kata Bli Yoga tadi pagi. Aku harus segera menuntaskan masalah yang belum selesai, yang selalu menghantui langkahku. Aku tidak bisa hidup tenang dengan bayangan seseorang yang menyimpan kebencian besar padaku. Setidaknya aku harus bertemu, minta maaf, dan jika beruntung aku ingin membangun kembali hubunganku dengannya.

"Kata nenek buyutku, Gus, sudah waktunya kau memperjuangkan apapun yang menurutmu berharga. Kau harus berikhtiar lebih keras lagi. Kalau kau tidak melakukannya sekarang, kau akan semakin jauh dari arah pencarianmu."

Sekarang.

Tak ada waktu lagi.

Aku harus mengatakannya sekarang.

"Vid, gimana skripsi lo?" Aku bertanya, menyela keheningan di meja bundar ini. Senyum lega David terbentuk.

"Alhamdulillah, judul gue udah acc."

"Kabar bagus itu..." Seru Bli Rama. Ia tergelak, membantu usahaku memecahkan dingin.

“Iya, Bli. Semua itu berkat support dari kalian semua.”

Suasana kembali berbinar seperti segelintir bintang malam yang baru saja terbit. Kami semua memberi selamat dan semangat untuk David. Brian bahkan menuangkan wine ke gelasnya dan kami bersulang untuk progres proposalnya. Beberapa saat kami mendiskusikan tema penelitiannya yang membahas kearifan lokal masyarakat suku Dani, rasanya seperti kembali ke Papua dan bercengkrama dengan kealamiannya. Hingga percakapan sampai pada jeda yang lain.

Sekaranglah waktunya.

"Brian, aku mau cuti."

Bisa kulihat kepala mereka terangkat serentak, dari David ke arahku. Ekspresi terkejut itu membuatku muak. Tentu saja.

***

 

Aku beranjak dari Bali setelah dua hari cutiku diterima Brian. Bli Yoga yang baik hati membantu semua persiapanku. Ini nyata. Akhirnya aku duduk di salah satu kursi pesawat yang membawaku ke ibu kota negeri di barat. Sejuk udara di Ubud berubah menjadi terik yang menyengat. Dari bandara kami berhenti di sebuah warung pecel lele untuk menghindari arus kendaraan pada jam pulang kerja. Sembari menunggu, Bara mulai bercerita tentang Asyakina Maria yang baru kemarin ia temui. Dari ceritanya, perempuan itu sangat senang bisa bertemu lagi dengannya. Sekarang dia sedang menjalani program magister ilmu linguistik di UI.  Kina – seperti sahabatnya yang memusuhiku itu – juga melakukan blokade akun media sosial padaku. Namun tidak bisa kupungkiri, dia adalah satu-satunya yang bisa membantu. Maaf darinya adalah hal pertama yang harus kudapatkan.

“Kita harus pakai trik. Perempuan-perempuan tangguh dan keras kepala ini nggak bisa diajak kompromi – jangankan kompromi, dengar nama lo aja mereka sudah siaga tiga.”

“Aku ngerti. Ini adalah cara mereka membalas perbuatanku yang menghilang tanpa kabar selama dua tahun. Wajar. Itu hak mereka. Aku dengan usahaku dan mereka dengan usaha mereka.”

“Hey Fata, tolong jangan drama! Lo belum mengusahakan apa-apa, kan? Lo tahu, gue rasa sikap mereka itu bukan balas dendam. Mereka cuma mau menantang lo, seberapa jauh lo mau berjuang untuk mendapatkan maaf. Lo pergi seenaknya, tapi jangan pikir lo bisa kembali dengan cara yang sama. Gue yakin, kalau lo mau bersabar, lo bakal berhasil.”

Aku menggeleng. “Entahlah.”

“Ayolah, Fata…”

Tidak ada yang ingin kukatakan lagi padanya. Tiba-tiba saja aku merasa kelelahan pada sekujur tubuh ini. Pembicaraan singkat tentang Kina telah menyedot tenaga dan pikiranku. Melihatku bungkam saja, polisi itu pun memaparkan rencananya yang ingin menjebak Kina agar bisa bertemu denganku. Idenya itu terdengar pengecut dan murahan, tetapi dia benar, tidak ada cara lain untukku. Aku harus muncul tiba-tiba di tempat Bara membuat janji dengan Kina. Kedatanganku akan mengejutkan dirinya dan aku harus memanfaatkan momen itu untuk mendapatkan maaf. Apapun reaksinya.

Seperti itulah rencananya.

“Gue janji bakal bantu lo ngomong sama dia!”

“Terima kasih…”

Pada jam sembilan malam arus kendaraan sudah kembali normal. Perjalanan barusan kami lalui dengan nyaman tanpa hambatan. Apartemen Bara berada di daerah Menteng, berukuran standar, terdiri dari dua kamar, ruang tamu, salon, kamar mandi, dan gudang kecil. Apartemen yang berada di lantai delapan ini sudah dimilikinya sejak zaman kuliah dulu. Tak jauh berbeda dari Brian, sampai sekarang pun dia tetap Bara yang terlahir untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya.

Tak sadar kutinggalkan koper ransel di dekat sofa ruang tamu. Aku masuk ke kamar tamu dan langsung rebah ke ranjang, meluruskan tulang belakang yang kaku setelah duduk berjam-jam. Di tengah kantuk yang sedang membuatku melayang, senyumku terkembang mengingat Bli Yoga mengiringi kepergianku dengan persembahan khusus untuk nenek buyutnya.

Biar selamat di perjalanan dan tercapai hajat dan ikhtiarmu, Gus,” kata Bli Yoga dengan mata berbinar, “restu Mbah dan keluarga menyertaimu,” lanjutnya.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku memeluk Bli Yoga. Meski kepercayaan dan cara berdoa kami berbeda, aku sangat berterimakasih atas dukungan moral yang ia berikan selama ini. Bli Yoga adalah keluarga yang merangkulku saat gagal, ketika keluargaku sendiri bahkan mencampakkanku. Dia adalah tetangga yang membuatku lebih betah tinggal di rumahnya daripada di rumah Aunt Clara yang hanya kuhuni sendiri. Dia adalah teman yang tak banyak bicara, tapi memahamiku dengan benar.

Dan Brian – sahabat bermata biru sekaligus penyokong amunisi finansialku –dia sempat ingin merobek tiketku.

“Bersumpahlah, kau akan kembali, bertemu atau tidak dengan jegeg-mu,” pintanya bersungguh-sungguh.

Iya, sumpah. Aku bukan mau melarikan diri. Aku terinspirasi sama perjuanganmu, Brian. Aku nggak akan kalah dari bule dungu.

Kulihat wajahnya merengut tak senang. O tidak! Dia benar-benar ingin merobek tiketku.

Kau bilang aku apa? Bule dungu?” Sungutnya seperti keledai marah.

Aku mengangguk tenang. “Mudah emosi adalah salah satu ciri kedunguan, sahutku.

Brian lantas merapikan tiketku dengan telapak tangannya. Dengan senyum palsu yang dimanis-maniskan dia mengembalikan tiket itu kepadaku.

Aku cuma bercanda, sweetheart. See you, aku pasti merindukanmu, Valter.”

Aku mengangguk, lalu terbahak. Kau harus kembali ke toko, Brian. Sampaikan salamku sama Bli Yoga, David dan Bli Rama. Aku juga pasti rindu kalian, terutama kau, dungu.”

Setelah itu Brian yang tertawa, kami benar-benar menikmati perpisahan di bandara siang tadi.

Fata, kalau saja kau wanita, sudah kujadikan kau  jegeg-ku. Aku mencintaimu. Peluk aku sayang.”

Aku memeluknya dan setelah itu dia pergi, kembali ke toko. Brian harus banyak dihibur sebelum kembali bersitegang menghadapi David yang harus meng-cover pekerjaanku selama cuti. Bocah yang malang.

“Vid, maaf, Bro. Kau harus menggantikan tugasku di lantai dasar, sementara kau juga harus bertanggungjawab sama pekerjaanmu di lantai tiga.”

“Yayaya. Sialan kau, Fata!”

Bayangan teman-teman Bali-ku masih mengikuti hingga tanpa sadar kesadaranku hilang. Dalam tidur aku bermimpi samar. Aku melihat gadis itu berjalan di lorong sepi kampus, melintas begitu saja. Tak mengenali ataupun mempedulikanku. Aku mengikutinya sampai ke pantai dan untuk sesaat aku kehilangan jejaknya. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru pantai, matahari baru akan terbit, dan kulihat sesosok tubuh perempuan di tepi pantai. Dia memeluk sebuah foto berbingkai besar di dadanya, perlahan-lahan dia berjalan melawan ombak. Aku merasa dia adalah seseorang yang kucari. Perasaan itu sangat kuat hingga kakiku kembali mengejar. Perempuan itu menenggelamkan dirinya beserta bingkai yang dibawanya. Dia tenggelam jauh ke dalam dan aku menyelam hanya untuk meraih satu tangannya, aku berhasil menariknya kembali bangkit ke permukaan. Aku berhasil dan aku tersentak sebelum sempat melihat wajahnya.

Mimpi apa itu? Rasa asing, pengejaran, pantai, foto, bingkai, lautan, tenggelam, dan sunrise…?  

Perlahan dan pasti kubuka mata. Matahari terbit di mimpiku tak lain adalah cahaya lampu gantung di kamar ini. Bulu mataku yang panjang tampak bagai garis-garis yang menghalau pandangan. Aku menduga kalau ini sudah pagi. Aku benar-benar bangun ketika seseorang masuk sambil menggeret-geret koperku.

“Tari?”

“Eh, Mas Fata, maaf kalau saya sudah membangunkan mas…”

“Nggak usah repot-repot, Tari. Biarin aja di situ.”

“Nggak papa, Mas…”

Aku berangsur bangkit, duduk di sisi tempat tidur dan menerima koper ranselku. Tariyem tersenyum padaku yang masih setengah sadar untuk menganggap senyumnya itu manis. Jujur saja dia memang manis dan lemah lembut. Sangat berbeda dengan perempuan-perempuan yang berurursan denganku. Dia berkulit putih bersih walaupun tinggi badannya hanya 150 cm, Tariyem memiliki bodi yang bagus untuk menutupi kekurangannya itu. Sebagai laki-laki aku memasukkannya dalam kategori perempuan cantik. Jujur saja.

“Terima kasih ya, Tari.”

“Iya, Mas… Mas kalau masih ngantuk tidur lagi saja mas. Ini masih jam empat pagi. Biar saya bantu pindahin baju-baju mas ke lemari.”

“Nggak usah, Tari. Biar saya urus sendiri saja. Oh ya, saya bawa oleh-oleh buat kamu dan Bara. Baju couple. Kalian pasti suka.”

“Wah, Mas Fata baik banget. Apapun hadiah yang mas bawa kami pasti suka.”  

Aku tersenyum membalas keantusiasan tunangan Bara. Kukeluarkan oleh-oleh yang kubawa dari dalam koper dan kuberikan padanya. Tariyem berbinar-binar, berkali-kali dia memuji dan berterimakasih atas baju yang kubeli dari toko Brian itu.

“Ngomong-ngomong semalam kamu nginap di sini?”

“Iya, Mas. Waktu saya datang mas sudah tidur.”

“Bara sudah bangun?”

“Sudah, Mas. Mas Bara lagi mandi. Mungkin sudah selesai. Dia harus ikut apel pagi. Kalau gitu saya mau tunjukkan baju ini dulu ya mas…”

“Iya, Tari. Silahkan…”

Seperginya Tariyem, kuambil handuk dan bergegas keluar kamar. Bara dan Tari sedang di kamar, mungkin sedang mencoba baju yang kuberi. Kulirik jam di dinding atas pintu masuk. Benar, ini masih pukul empat pagi. Aku tidak pernah bangun sepagi ini selama di Bali, tetapi hari ini aku akan mandi dan beribadah. Setidaknya aku belum lupa bacaan shalat.

Pukul enam, hari sudah terang. Saat itu aku sudah selesai memindahkan baju-baju dari koper ransel ke lemari dan menata tempat tidur serapi mungkin. Tari sudah selesai memasak sarapan kecil – nasi goreng, telur matasapi, ayam goreng, sosis, nugget, jus jeruk dan teh. Bara sudah siap dengan seragam lengkapnya. Dia terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Aku tidak bisa menahan seringai jika mengingat bagaimana dirinya empat tahun lalu. Dia sangat berbeda. Sekarang aku bisa tersenyum, merasa senang dengan kaus putih tipis yang melekat di tubuhku ini. Aku adalah seorang tukang foto yang merangkap kerja sebagai menejer di sebuah toko souvenir. Mungkin inilah yang dinamakan garis hidup. Rezeki dan jodoh setiap orang tidak akan tertukar.

Kami sarapan bertiga. Setengah jam kemudian Bara dan Tariyem meninggalkan apartemen bersama. Aku terdiam, mematung, menggigit bagian dalam daging pipiku. Tebak! Seperti apa wajahku sekarang? Aku tidak tahu harus melakukan apa sendirian dalam apartemen ini. Rasanya seperti tahanan rumah. Sial! Apa aku harus memandangi kota dari panel kaca kamarku? Sambil menyeduh secangkir teh lagi? Sayang, itu bukan caraku.

Aku memutuskan untuk menelepon ke nomor kantor Brian Sanderson. Terdengar suara David menjawab dengan nada lemas tak bersemangat. "Sanderson Souvenir Store, Café, and Gallery..."

"Hey, Vid, apa kabar? Ini gue."

"Oh ternyata lo, Bangsat. Bahagia kan lo gue jadi romusha di sini?!" Suara David berubah tinggi, memakiku sekilas sebelum suara Brian merebut telepon itu darinya, menyuruh David kembali bekerja.

"Hey, Valter! Bagaimana keadaanmu? Apa sudah bertemu?”

Kukatakan keadaanku apa adanya. Aku berganti-gantian berbicara dengan mereka berempat. Hari sudah siang saat aku memutuskan keluar dari apartemen. Ada kolam renang di lantai dasar. Mungkin aku bisa memutari kolam lima atau enam kali sambil memikirkan kelanjutan aktivitas yang bisa mengisi hari libur ini. Tidak ada pantai di mana aku bisa melarikan diri bersama kamera atau papan surfing ke tengah gelungan ombak. Sekarang aku harus memikirkan sesuatu yang lebih pada kegiatan indoor, mengingat ini adalah Jakarta.

Saat aku melompat ke kolam renang, banyangan mimpiku semalam sontak kembali. Seperti halusinasi aku melihat sosok perempuan yang sama di dalam kolam. Dia tenggelam pasrah ke dasar. Sebuah foto berbingkai terlepas dari tangannya. Aku melihat diriku sendiri menarik tangan perempuan itu. Aku menariknya dengan susah payah ke permukaan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Aku tidak bisa memastikannya. Begitu mataku berkedip, semua penampakan itu sirna.

Sekarang aku duduk di tepi kolam dengan rasa penasaran.

“Apa aku harus buka primbon untuk menafsirkan mimpi itu? Sial! Yang benar saja!”

Dalam perjalanan kembali ke apatemen, aku bertemu Bara di elevator. Dia sengaja pulang cepat untuk main PS denganku. Masih sama seperti dulu, dia menantangku dengan wajah congkak. Aku tak percaya kini bisa mengulangi masa-masa sombong itu, ketika kami masih belasan.

            ***     

Bersambung...

  • view 175