Matur Suksma

Rizkika Mahzura Aurora
Karya Rizkika Mahzura Aurora Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 November 2016
Novel

Novel


Kategori Fiksi Remaja

489 Hak Cipta Terlindungi
Matur Suksma

Sebelumnya > Carstenzs

***

Keberadaanku, di pantai favoritku.

Empat tahun adalah rentang waktu yang lama untuk sekedar menelusuri pantai-pantai sunset sepanjang teluk Jimbaran. Saat awal-awal belajar fotografi, aku bertemu dengan Pantai Kelan. Pertemuan itu meninggalkan kesan yang mendalam untuk karir dan renunganku. Terbentang tepat di selatan Bandara Internasional Ngurah Rai, tak ayal suasana di sini bising oleh aktivitas penerbangan. Pesawat datang dan pergi seperti harapan untuk kembali ke tanah lahirku, menyua orang-orang yang kuanggap keluarga. Kubayangkan diriku sedang duduk di pesawat yang baru lepas landas itu, terbang lurus ke arah matahari merah dengan jantung berdebar. Aku pulang, ya, akhirnya aku pulang. Dan ketika pesawat itu meliuk di rutenya, khayalku sirna, kesadaran mendorong naluriku untuk tidak melewatkan sebuah pose di langit yang sangat estetis.

 “Oke, ini lumayan,” aku bergumam pada foto pesawat yang barusaja kuambil.

“Hey, tukang foto! Bisa kau foto aku di sini?” sebuah teriakan terdengar samar di kejauhan.

Kelan tidak pernah terlalu ramai bagi siapapun yang tidak menyia-nyiakan momen delapan menitnya. Air laut yang surut, kapal-kapal nelayan yang berlabuh di tepi, dan awan-awan lembayung mengambang, membuat denyut di hati dan kepala. Keadaan ini serupa dengan yang kurasakan saat berada di Love Hill minggu lalu – saat aku direcoki Johnson si pemuda Dani, sedangkan sekarang aku merasa seperti tahanan yang sedang diawasi. Dewa Surya yang sedang melukis senja pasti sedang tertawa. Pantai dan momen ini terlalu menyedihkan untuk dihabiskan bersama seorang polisi.

“Lihat dong hasilnya, Bray.”

“Nggak usahlah. Biasa aja muka lo!”

“Ya, setidaknya, walaupun biasa aja, gue nggak jomblo.”

“Who cares?!”

“You! Nobody cares about you, right?”

Dia adalah Bara, teman dan musuh lama yang ditakdirkan bertemu lagi denganku di pesawat minggu lalu. Dan sungguh ini adalah sebuah takdir yang menjengkelkan karena dia tidak berubah – masih gemar membanggakan status hubungan asmaranya, seakan-akan itu adalah prestasi di ajang olimpiade. Kami berhenti di sebuah kafe dan memesan seafood. Tempatnya di luar kafe yang beralas pasir. Bara sudah reservasi untuk tiga orang – dia, aku dan Tariyem, tunangannya. Gadis itu belum juga datang sejak satu jam lalu mengatakan sudah on the way.

"Panggil dia Tari aja. Oke?" Bara mengingatkanku dengan tegas.

“Iyem juga bagus, kali.”

“No way!”

Kami baru bisa bertemu setelah berdebat panjang mencocokkan skedul. Bara dan Tariyem sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, tour keliling Bali untuk prawed ala artis. Bara menjadi gila saat mengetahui aku seorang tukang foto. Andai aku tidak membantah keinginannya, mungkin akan ada prawed sesi kedua. Dan sebenarnnya aku masih tak habis pikir, apakah dia benar-benar akan menikah di usia dua puluh tiga tahun?

Seorang waiter datang membawa dua gelas air kelapa muda dan makanan pembuka.

"Jadi lo tinggal sama siapa di sini?" Tanya Bara selepas menenggak air kelapa mudanya.

Aku masih bergeming pada foto-foto di kamera.

“Sama Aunt Clare. Tapi lebih tepatnya aku tinggal sendiri di rumahnya. Dia masih keliling dunia mencari artefak.”

“Keren juga tante lo! Jadi kuliah lo tinggalin gitu aja?”

Aku bergumam malas. “Aku tinggalin semuanya.”

“Emang masalahnya apa? Lo kan masih bisa kuliah lagi meskipun nggak lulus akpol?”

“Masalah keluarga. Ribet. Entahlah, yang pasti kalau aku butuh mereka, aku harus ikuti kemauan mereka. Kalau aku pilih jalanku sendiri, aku harus jalan sendirian.”

Kulirik sekilas, Bara tampak melenguhkan nafas panjang. Wajahnya berubah prihatin. Benar-benar memuakkan. “So sorry to hear that, Ta.”

“I’m not that bad.” Sahutku cepat. “Aku yakin, suatu hari akan pulang dengan harga diri.”

“Ya, gue setuju. Anggap itu kebijakan sebuah keluarga supaya anak mereka mandiri, nggak manja, supaya punya fight spirit buat meraih cita-cita. Think positive aja, Ta! Ambil hikmahnya. Semangat! Goodluck juga buat karir lo!”

Senyum di wajah Bara memancing seringaiku. Huh! Enteng banget dia berkata seperti itu.

“Thank you so much for the advice, friend.”

“Anytime, my friend.”

Bara tersenyum dengan mata menerawang, seperti sedang membayangkan sesuatu yang membuatnya senang. “Betewe, gue benar-benar kangen masa-masa itu, masa kita kuliah dulu.”

“Hmm…”

“Gue hilang kontak sama mereka semua.”

 “Oh… ya…”

“Ya, apa?”

Sekarang ada gempa lokal yang menjalari urat syarafku. Jantungku berdesir. Sial! Inilah bagian paling tak kuharapkan dari pertemuan kami. Kuletakkan kamera di atas meja dan menatapnya lurus. “Ya, ya, hilang kontak. Hilang, kan? Sama.”

“No problem. Kita bisa cari sekarang. Nggak mungkin mereka nggak main Instagram, paling tidak, Facebook lah…”

Sekarang Bara dengan santai mengeluarkan ponselnya, mengotak-atik, dan mulai berselancar. Aku tahu nama siapa yang akan dicarinya pertama kali. Aku berpikir sekali lagi. Gugup. Berpikir. Menimbang. Apakah empat tahun sudah genap untuk memberitahunya? Dan apakah ini adalah tempat yang cocok untuk memberitahunya – kebenaran?

Senja menjadi hening, memudar perlahan-lahan. Angin melintas bebas seakan menghalauku untuk buka mulut. Bibirku menebal. Sejujurnya, aku benar-benar letih. Di hadapanku sekarang, terduduk Bara yang tersenyum lebar, mungkin dia sudah mendapatkan seseorang yang dicarinya.

“Oh my God, damn, I really miss her…”

Oh my God, damn, kenapa aku begitu terpojok dan ragu-ragu?!

“Bar…”

“Ya.”

“Aku mencintainya.”

“Ha?” Bara mengernyit. “Mencintai siapa?”

“Dia... Siapa lagi? Dia!” Aku tak sanggup menyebut namanya. “Dia yang paling… yang paling cantik di kelas kita.”

Bara terdiam cukup lama, sembari matanya menatap ragu, mungkin sedang menganalisa kebenaran dan kemungkinan untuk bercanda di mataku. Tapi sayang, aku tidak sedang bercanda. Aku memang mencintai, masih, dan akan selalu merindukan sosok itu. Meski harus menanggung malu yang teramat besar pada Bara dan diri sendiri untuk mengakuinya, aku akan mengakuinya sekarang. Aku mencintainya yang sudah kutinggalkan, kucampakkan, dan aku gagal melupakannya. Aku gagal menggantikan posisinya dengan siapapun yang telah kutemui setelah dirinya.

"Ayo, Fata. Sebut namanya kalau lo memang lelaki sejati."

"Maaf, Bar." Bibirku merapat, mataku kehilangan daya untuk membalas sorot intimidasinya. Dia menunggu. Demi Tuhan, aku tidak mampu menyebutkan namanya. “Oh, baiklah, mungkin kau benar. Aku bukan lelaki sejati sepertimu.”

"Dia primadonaku?” Tanya Bara lirih.

“Ya.”

“Bajingan, kau, Fatahillah Valter!”

“Kami saling mencintai waktu itu!”

“Kalau lo emang laki-laki, harusnya lo bersaing sama gue. Bukan main belakang!”

“Bersaing, bersaing! Aku nggak perlu bersaing untuk mendapatkannya. Dia datang sendiri ke pelukanku, dan aku hanya mengikuti keinginannya.”

Bara memandangku tak habis pikir.

Aku menurunkan volume suaraku. “Di sisi lain aku nggak mau mematahkan hatimu, Bar. Yang terpenting, aku bisa bercinta dengannya dan kami bahagia. Aku mungkin nggak bermoral, dan aku nggak peduli dengan apapun – waktu itu.”  

“Lo emang sampah! Pengkhianat! Dan perempuan itu – perempuan jalang ini, kan?” Bara menunjukkan sebuah foto di ponselnya yang membuat mataku panas. “Kalian memang manusia tolol!”

Kurampas ponsel Bara, kupandangi lekat-lekat wajah itu. Oh. Jantungku kembali berdenyar. “Hey, dia lebih cantik sekarang dari yang dulu, kan?”

“Persetan!”

Bara merampas kembali ponselnya dengan kesal.

Akhirnya aku mengakuinya, sulit, namun kurasakan semak liar tak terlihat yang erat melilitku perlahan berputusan. Setiap kata yang kuucap, kebenaran busuk, menjadi gunting yang memangkas semak itu. Bara terlihat kehilangan kata-kata. Seperti senja yang mengelabu, seperti itulah wajahnya. Tetapi aku sama sekali tidak peduli dengan Bara, biarkan dia tenggelam dalam kemarahannya. Sebentar lagi dia akan sadar kalau emosinya itu membuatnya terlihat konyol.

"Lihat hasilnya, Valter.” Ujarnya sinis. “Hubungan yang kalian mulai dengan kebohongan, akhirnya seperti apa? Hancur, kan?”

“Ya, hancur…”

“Apa lo pikir gue bukan manusia waktu itu? Apa lo pikir gue nggak punya hati? Asal lo tahu, gue, benar-benar cinta sama dia. Bahkan sampai sekarang, dia masih punya tempat yang khusus di hati gue."

“Aku sudah dapat karmanya. Mungkin dia juga. Dan kuharap sekarang kau bisa memaafkan yang telah terjadi.” Aku masih mampu bersikap tenang, dan mungkin itulah yang membuat Bara meledak-ledak. “Kau sudah menggantikannya, kan? Tariyem calon isterimu itu! Terus kenapa masih marah?”

Aku dan Bara terdiam lagi untuk beberapa saat. Kami sama-sama menarik nafas panjang, bersiap melanjutkan argumen.

"Dia block semua akun sosmed-ku.”

“Mampus!”

“Aku udah berusaha menghubunginya dua tahun belakangan ini, tapi… mungkin dia udah nggak mau kenal sama aku.”

“Dua tahun? Terus sebelum-sebelumnya lo kemana?”

Aku menggeleng lunglai. “Belum main sosmed.”

“Parah!”

 “Waktu kalian putus, kami juga berakhir. Kita berdua sama-sama pergi untuk tes akpol. Lo di Jakarta dan gue di Padang. Kita meninggalkannya di waktu yang sama."

"Dan lo yang paling ditangisinya, kambing!" Bara berteriak lagi, ekspresinya seperti ingin meludahiku. Kekecewaan tak bisa ia kendalikan. Posisi duduknya menegak, matanya menyorotku setajam jarum. "Gue udah curiga sebenarnya sama kalian. Tapi gue yakin, lo, Fatahillah, lo teman baik gue dan nggak mungkin menikung gue dari belakang.”

“Udahlah, Bar. Elo mau gue sujud di kaki lo, hah?”

Bara tak menyahut. Aku memberinya kesempatan untuk menyelesaikan air kelapa mudanya hingga kandas. Ya, semoga saja minuman itu bisa menetralkan racun dan emosi dalam tubuhnya. Tak sadar hari telah gelap dan lampu-lampu pantai pendar-pendar telah dinyalakan. Harum aroma ikan bakar membuat mood-ku membaik.

"Sorry, Bar. Ini cuma pengakuan dariku, secara langsung, sejujur-jujurnya."

"Fine, lupain aja." Sahutnya tak bersemangat.

Aku diam, perlahan dan pasti akhirnya Bara juga mendingin. "Oke. Lupakan saja. Semua itu sudah berlalu, kan? Sekarang dia hanyalah masa lalu gue."

Kuusap wajah dan kuhembus nafas lega. Walaupun dia sudah sepakat untuk melupakan hal-hal rancu di masa itu, namun aku tidak bisa melupakannya seperti membalikkan telapak tangan. Bara lah yang harus melupakan, bukan aku. Aku tidak bisa.

"Bagiku semua itu belum berakhir, Bar. Aku masih cinta. Kedengarannya picisan sih, tapi…"

Suara Bara meninggi lagi, nadanya kesal dan tak percaya. "Tapi apa? Sekarang lo maunya apa?!"

“Bantu aku. Sekali ini saja. Aku mau memperbaiki salahku. Semuanya.”

Aku mengangguk meyakinkan dan Bara bergeming, ia lalu menjambak rambut pendeknya dengan kedua tangan. Matanya menatap jijik padaku. Satu tangannya kini singgah di dagu untuk menopang berat kepalanya. Dalam beberapa saat dunia telah memutar-mutar kami. Seperti ikan dalam akuarium yang diobok-obok. 

"Lo emang nggak tahu diri!" Lirihnya.

Sebuah pesawat yang baru mendarat, berdesing keras dan membuat kami terdiam. Kulirik jam tangan, pesawat yang ditumpangi Brian dari Jakarta masih akan mendarat dua jam lagi. Setengah menit menjadi jeda yang cukup untukku dan Bara, mengembalikan keadaan yang sempat sentimental menjadi lebih rileks. Pesanan kami datang, perut lapar, namun Tariyem belum juga muncul.

***

 

"Kalau aku mati sekarang, tidak apa-apa, aku sudah bahagia..." Brian membanting diri di kursi belakang, terlihat lelah dan girang. “Tancap, Yoga!”

“Oke, Boss!”

Pukul sepuluh tiga puluh, Bli Yoga langsung melarikan kami dari bandara menuju vila Brian di Ubud. Perjalanan kali ini benar-benar luar biasa. Wajahku barangkali sudah sepucat mayat, jantungku terduduk lemas seperti ketika sedang naik wahana gila di theme park. Jarak yang biasa ditempuh kurang lebih satu jam, bersamanya dibantai setengah jam saja. Yoga puas tertawa, berhasil membuat isi perutku naik dan turun. Hanya karena – katanya dia iri dengan ikan bakar yang kusantap dengan Bara dan Tariyem. Sementara di jok belakang, Brian pulas tak bergerak.

Dia benar-benar mati bahagia.

Akhirnya, aku tak jadi mati ataupun muntah. Supir setan itu menghentikan mobilnya di Spaccanapoli tepat pukul sebelas malam. Kami habiskan waktu jelang restoran tutup, menunggu chef menyiapkan tiga porsi pizza yang berbeda, juga untuk menghabiskan sebotol martini. Kami duduk di bagian teras berplafon anyaman bambu, di bawah lampu-lampu hias gantung – sebuah perpaduan nuansa Eropa dan pedesaan tradisional Indonesia, lumayan memberi kesan homey, menurutku. Ada beberapa pengunjung lain di bagian dalam restoran. Para waiter tampak berkemas, mengabaikan keberadaan kami. Kulihat seorang waitress bertubuh mungil berjaga di konter, matanya menerawang sayu, kepalanya layu dan sesekali menguap.

"Alicia. Apa dia betah jadi kurator di galeriku?" Brian menyeringai.                   

“Ya, dia sangat menikmati pekerjaannya.” Bli Yoga menjawab.

“Bagus kalau begitu! Aku yakin dia pasti betah.” Tampak berseri-seri bahagia, Brian seakan terlahir untuk mendapatkan apapun yang diinginkankannya. "Setidaknya aku punya calon istri yang rajin dan bisa diandalkan,"

Terdengar kikikan geli dari Brian, ia bertingkah seperti baru saja mengucapkan sesuatu yang sangat jenaka. Bli Yoga menghisap rokoknya pelan. Ikut tersenyum seperti seorang tua yang ringkih.

Aku mencoba mencerna kata-kata enigmatik yang Brian ucapkam. Kudapati sebuah kesimpulan yang berbahaya. “Apa kau sudah gila?"

“Ya, Fata. Aku sudah gila sepertinya.”

Bli Yoga melirik jamnya, bangkit dari tempatnya, "kita ketemu di mobil lima belas menit lagi."

"Mau ke mana?" Brian berseru heboh. “Kenapa pergi, Yoga? Hey! Look! Adik kita Valter mulai penasaran.”

Tanpa menghiraukan Brian, Bli Yoga berlalu meninggalkan kami, keluar restoran dan menghilang dalam bayangan malam. Brian senyam-senyum menghiraukan kepergiannya.

"Bagaimana dengan cintamu, Fata? Sudah ada penampakannya?"

"Kalau ini tentang pameran, aku belum bisa memastikan."

"Sialan kau, Valter!” umpatnya keras sembari memukul meja. “Ini bukan masalah pameran! Aku nanya karena benar-benar pengen tahu."

Brian menenggak segelas penuh Martini lagi. Dalam keadaan normal, dia memanggilku Fata. Dalam keadaan ingin meyakinkanku, dia memanggilku Fatahillah. Kalau sedang mengejek atau kesal, dia akan memanggilku Valter.

Aku menelan ludah yang telah bercampur minuman. Kucoba menghadapi sepasang mata biru berbinar itu. "Belum ada kabar. Dia memutuskan semua koneksi dan kemungkinan untukku menjangkaunya. Perempuan itu membenciku, Brian. Tapi temanku, Bara – yang tadi sore kutemui di pantai, dia janji mau bantu. Dulu kami semua teman satu kelas."

Tentu aku tidak menceritakan kalau gadis itu dulunya adalah pacar Bara yang berselingkuh denganku. Selamanya Brian akan memanggilku Valter.

 "Apa temanmu itu lebih baik dariku? Aku juga mau bantu kamu."

Aku tertawa kecut, "kau yang terbaik, Brian. But, no, thank you..."

"Go to the hell, Valter!" Brian mengumpat lagi. “Kalau boleh tahu, kenapa dia sampai membencimu? Apa yang kaulakukan padanya?”

“Aku meninggalkannya untuk melanjutkan hidup di pulau ini, untuk bertemu orang bejat sepertimu.”

“Oh, Fata. Kalau benar-benar sangat mencintainya, aku akan membantumu untuk bertemu dan bersatu lagi dengannya. Bagaimana ini? Aku jadi emosional sekarang. Please, count on me!”

“Always, Brian.”

Aku tertawa muak, ingin beranjak dari percakapan tentang drama pahitku. Untuk sebentar saja otakku butuh istirahat dari mengingat elegi di masa lalu. Menurutku ini sudah saatnya membuka percakapan tentang drama manis Brian, mungkin dia bisa menginspirasiku suatu hari. Setidaknya, memberi aura positif untukku.

"Jadi, ceritakan tentang cintamu, Brian! Kalau dia bukan Alice, pasti dia perempuan bodoh yang lain."

"Analisis yang bagus, Fata. Aku memang mau menceritakannya ke kamu.”

“Go on!”

“Aku bersamanya di Jakarta. Dan saat bersamanya, aku seperti tidak ingin kembali ke sini atau pergi kemanapun itu, tanpa dirinya. Enam hari ini terasa seperti enam menit saja. Ya, aku senang akhirnya dia mengatakan ‘yes’ untuk cintaku. Tetapi, sebenarnya aku tidak sesenang yang terlihat. Aku sudah merindukannya sekarang. Benar-benar rindu. Perasaan ini menyiksa.”

 Aku teringat percakapan kami di Hanoi malam hujan badai itu. Ketika itu Brian sangat frustasi, namun kini keadaannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Euforia cinta melayang-layang dalam matanya. Apapun yang terjadi dalam seminggu ini adalah bagian dari perjuangan cintanya. Brian sudah memenangkan hati perempuan yang dicintainya. Lalu bagaimana denganku? Akankah giliranku tiba?

"Sebenarnya aku pengen banget ajak dia ke sini. Kenalan sama kalian semua, terutama sama kamu. Tapi dia nggak bisa, dia terlalu sibuk dengan dunianya yang sederhana. Dunia yang membuatku terpesona."

"Jadi cuma Bli Yoga… yang kenal sama dia?"

Brian terdiam, melirikku, dan mengangguk. "Ya, Yoga kenal dia, lalu mengenalkannya padaku. Begitulah awal mulanya. Hari itu dia ke Goa Gajah bawa turis dari Jawa, Yoga adalah guide rombongannya. Takdir yang membawaku ke sana dan kami berkenalan. Dia sangat cantik. Apalagi kalau senyum. Aku, Brian Sanderson – jadi maniak yang mengekori rombongannya ke mana-mana, kurekomendasikan vilaku selama mereka di Ubud, kuganggu waktu santainya di Seminyak, dan kuikuti dia sampai ke Lereng Batur."

Kurasa berikut ini adalah pertanyaan terbagus yang bisa kuberikan. "Kapan semua itu terjadi?"

"Tahun lalu."

"Kira-kira di mana aku waktu itu?"

"Jaga toko lah. Kalau tidak salah waktu itu kau baru jadi menejer."

Goa Gajah tidak jauh dari Sanderstrom Souvenir Store – tempatku bekerja. Sudah setahun Brian dan Bli Yoga merahasiakan hubungan yang bermula di tempat itu, termasuk dariku. Sesuatu yang menjadi rahasia pastilah sangat penting. Aku mulai mengaitkan rahasia ini dengan pertunangannya dengan Alicia yang sangat terbuka dan tersiar. Pertunangan itu bahkan baru berusia tiga bulan.

“Lalu, Alicia?”

"Hubunganku dan Alice tak lebih dari pemersatu kerjasama bisnis orang tua kami. Alice sendiri sudah punya kekasih. Jadi kami sepakat untuk menikah dengan perjanjian hitam di atas putih. Setelah semua urusan bisnis lancar, selesai, kamipun berpisah."

"Kekasih kalian tau? Setuju?"

Brian mengangguk santai. “Aku sudah menjelaskannya. Dia bilang tidak masalah.”

Kini aku mengerti kenapa Brian begitu bahagia. Juga kenapa Brian  menyembunyikan hubungan seriusnya. Bisnis dan cinta adalah hal yang sangat sensitif dalam hidup ini, dan mereka semua bermain cantik untuk melancarkan keduanya.

Baiklah. Aku tidak akan mengorek masalah itu lebih dalam. Masalahku saja belum selesai –  untuk apa mengurusi hubungan Brian, Alicia dan kekasih rahasianya itu. Walaupun warna dan motif ‘hubungan rahasia’ yang sedang mereka jalani mengingatkanku pada masa lalu –  saat aku, Bara, dan dia masih kuliah di kelas yang sama. Jangan! Jangan sampai hal itu terulang.

“Are you ok, Valter?”

“Nice.”

Semakin malam wajah Brian kian berseri. Bagai bulan yang sedang purnama. "Cintaku berbalas, Fata. Aku mendapat pernyataan itu tepat setelah kita sampai di Bali. Demi dia aku langsung terbang ke Jakarta. Hanya untuk memastikannya."

“Good, Brian. You’re the hero.”

“Kau juga, Fata. Kau harus memperjuangkan cintamu.”

Kami tertawa kecil.

"Kau teman terbaikku, Fata. Kita harus berbagi cerita mulai sekarang."

"Jadi kebodohan apa saja yang sudah kaulakukan untuknya?"

“Hhhh!" Brian menggeram. "Aku butuh waktu sebulan untuk dapat balasan whatsapp pertama, sebulan lagi untuk mendengar dia tertawa sinis, dan sebulan lagi untuk mendengarnya berbicara sepanjang sepuluh kata. Dia sama sekali tidak mudah dipikat."

"Pasti itu perjuangan yang dan melelahkan..."

Seorang waiter datang mengantarkan pesanan Brian yang dibungkus rapi. Setelah Brian menyimpan kembali kartu debitnya, kami pun bergerak ke vila milik Brian. Di sana dia menceritakan padaku dan Bli Yoga secara lengkap tanpa sensor, tentang betapa hebat kekasihnya itu.

Brian sama sekali tidak merasa lelah.

***

 

Bli Yoga melintasiku yang berbaring malas di sofa ruang tengah rumahnya, membawa persembahan dalam nampan ke sebuah kamar. Aku menguap, masih berbaring di tempatku, menantinya keluar dari kamar misterius itu. Dia tak pernah mengizinkanku masuk ke sana untuk mengambil handuk atau apa. Dia mengancam, kalau aku berani masuk ke sana, arwah leluhurnya akan merasuk dan merusak jiwaku.

Aku menguap lagi, mencoba mengenyahkan sepintas pikiran horor di pagi baik ini. Sejujurnya aku pun tidak ingin melanggar ultimatum Bli Yoga, itu adalah kepercayaan sakralnya. Hanya saja bukan cuma aku yang merasa penasaran, Brian bahkan pernah menawariku dan David hadiah yang membuat siapa saja gelap mata – andai kami berani mengambil risiko menumpas rasa ingin tahunya yang kadang melampaui batas – tentang kamar itu.

Ponselku berbunyi. Nama Barata muncul.

"Ya, Bara…" jawabku.

"Gue ada sedikit informasi buat lo. Cuti udah habis dan hari ini kami harus balik ke Jakarta. Jadi terpaksa gue nelpon lo pagi ini."

Jantung pemalasku mendadak berdegup kencang. Tubuhku refleks duduk. "Info apaan?"

"Tadi malam gue dapat pesan balasan dari Kina. Gue udah simpan kontaknya."

"Kina? Asyakina Maria?"

"Ya, Kina. Dia sekarang tinggal di Jakarta. Gue bakal meet up sama dia begitu sampai nanti. Kina pasti tahu di mana sahabatnya berada. Pelan-pelan gue bakal cari tahu tentangnya."

"Thanks banget, Barata…"

"Bersyukurlah, Fata, lo punya teman yang sangat baik hati dan pemaaf."

"Safe flight buat lo dan Tariyem. Oke."

Panggilan terputus bersamaan dengan Bli Yoga yang keluar dari kamar mistisnya. Melempar handuk ke wajahku dan duduk di salah satu sofa. Matanya lekat memperhatikan, sementara aku hanya sekilas melirik udeng hitam putih yang terikat kepalanya. Huh, apasih yang sedang dilihatinya?

"Kata nenek buyutku, Gus, sudah waktunya kau memperjuangkan apapun yang menurutmu berharga. Kau harus berikhtiar lebih keras lagi. Kalau tidak sekarang, kau akan semakin jauh dari arah pencarianmu."

Aku terdiam lagi. Kurasakan bulu kudukku meremang menerima petuah itu. "Nenek buyut Bli tahu darimana kalau…"

"Di sini kamu sudah seperti keluarga, Gus. Mbah sudah kenal kamu."

Aku mengangguk cepat. Meremas handuk yang tadi dilemparnya. Apapun yang masih ingin disampaikan Bli Yoga, kurasa tak perlu disampaikannya lagi. Aku sudah cukup mengerti. "Iya Bli. Matur suksma."

Bli Yoga mengangguk, kami sama-sama bergerak ke dapur. Dia mulai membuat kopi selagi menungguku mandi. Seperti biasa kami akan sarapan dan ngopi sebelum pergi ke Sanderstrom.

***

Selanjutnya > Sandersons

  • view 222