Carstenzs

Rizkika Mahzura Aurora
Karya Rizkika Mahzura Aurora Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Oktober 2016
Novel

Novel


Kategori Fiksi Remaja

415 Hak Cipta Terlindungi
Carstenzs

 2014

 

Akhir bulan Agustus, menjadi kali pertama aku mendaratkan kaki di pedalaman timur Indonesia. Bersama empat karibku, di sini, di Papua, di tengah pesona dan keterbatasannya, aku benar-benar ditantang untuk bertahan. Namaku Fatahillah Valter, fotografer amatir yang lahir di pulau besar terbarat negeri ini – di sana orang-orang tidak pernah berburu dengan busur dan panah untuk perihal makan. Hanya di sini aku bisa melihat sendiri peradaban yang telah menjadi sejarah di barat – masih hidup dan lestari, dan saat ini, aku sedang dituntut untuk menghasilkan foto-foto bagus. Daratnya, pantainya, pulaunya, puncaknya, penghuni-penghuni eksotisnya, dan berbagai pengalamannya harus termanifestasikan dalam sebuah bingkai foto.

 

Oh, Papua, rumah burung Cendrawasih

Dua hari lagi aku angkat kaki

Aku akan pulang, tetapi bukan ke rumahku

Oh, andai aku punya rumah

Andai aku masih punya rumah seperti burung Cendrawasih

 

Rumah – saat sendirian seperti ini aku sering merindukan rumah dan keluargaku. Kupandang lamat-lamat ke arah barat dari atas bukit tempatku berdiri. Matahari terbit di balik punggungku, namun panasnya tak mampu membakar rindu di jiwa raga. Betapa aku – ingin pulang. Andai aku bisa memesan tiket dan terbang ke sana, aku akan melakukannya sekarang juga, aku tidak akan menulis puisi bodoh ini di telapak tanganku, kemudian memotretnya.

Kukepal tanganku beserta puisi itu untuk menguatkan diri, mengenyahkan harapan semu untuk pulang. Lembah Baliem, Wamena. Di sinilah aku sekarang. Sebuah padang yang indah sepanjang mata memandang, hijau, terisolir dan membuatku sulit mengungkap kesan dan rasa. Langit sedang bagus, kubelokkan arah pandangku ke hamparan Pegunungan Jayawijaya di barat daya. Lalu memotretnya sekali. Tak dapat kutebak mana Trikora, Mandala ataupun Yamin, apalagi jika Carstensz juga menyembul di antara puncak-puncak itu.

Hening.

Sekarang, datang inginku melihat foto-foto itu lagi. Foto-foto Carstenzs.

Zooming.

Tampak Brian tersenyum menunjukkan gigi keringnya. Dengan bangga memegang sebatang kayu tiang sambil menatap merah putih berkibar di atas kepalanya. Permukaan tempat kami berpijak berlapis es. Saat itu aku merasa sesak nafas karena tipisnya oksigen. Petualangan ke puncak Carstenzs mampu kulalui dengan baik dan selamat, untungnya.

"Perfect, Valter!"  Komentar Brian pada foto dirinya itu terdengar seperti sampah. Demi foto itu aku hampir meninggalkan dunia ini. “Apalagi yang kau tunggu? Karyamu sudah menjuarai lomba foto di Turki dan Malaysia. Kau juga peserta aktif di pameran se-Indonesia. Jam terbangmu sudah banyak. Let's rock, Valter. Kau sudah punya popularitas. Jangan sia-siakan umurmu”.

Dia Brian. Ini bukan pertama kali dia merayuku untuk mengadakan pameran. Terakhir kali dia melakukannya ketika kami berada di perjalanan menuju Wamena. Lelaki asal Australia itu sudah tinggal di Bali sejak ingusan. Bahasa Indonesia-nya sangat bagus untuk menjadi seorang penjilat.

Aku belum menjawabnya tawarannya. Aku masih terjebak dalam keadaan stagnan. Potret impian masih belum kudapat. Menurutku dunia harus menunggu sampai aku mendapatkannya.

Photography Exhibition. Fatahillah Valter and I Gede Yoga Pradyana. Kita harus adakan pameran! Apalagi kita sudah berpetualang sejauh ini. Bali harus melihat apa yang kita dapat.”

Baiklah, dia memang bos-nya. Tapi aku tak bisa mengadakan pameran sebelum material vitalku lengkap.

"Yaaak. . . !!!"

Sebuah suara melengking dari kejauhan, mengalihkan lamunan dan perhatianku pada foto-foto di kamera. Seorang pemuda berkoteka melambaikan tangan padaku dua ratus meter di padang rumput, berlari-lari kecil ke arahku. Kubalas lambaian pemuda Dani tersebut. Dia bebicara dengan bahasanya yang tidak kumengerti.

"Wa. Wa. Wa. Wa. . ."

Angin berhembus menerpa. Apapun yang dikatakan pemuda Dani itu pastilah pesan dari Brian. Aku mengisyaratkan kedatanganku dengan mengangkat tangan dan pemuda Dani itu tampak mengerti dan menenang. Dia berdiri menantiku di kaki bukit dengan sabar.

"Emeee! Emeee!" Serunya lagi.

Aku melompat dari batu ke batu, berhasil mencapai kaki bukit dengan bergaya. Sejenak kupandangi lagi puncak bukit tempatku berdiri memandang penjuru lembah sepanjang pagi. Pasti menyenangkan kembali ke bukit ini suatu hari, bersama seseorang yang kupikirkan setiap hari dan setiap malam. Mereka menyebutnya Bukit Cinta. Love Hill. Menurutku nama itu tidak berlebihan karena romantisme langit, bukit, lembah dan bebatuan seolah disusun untuk memikat hati orang yang memandangnya. Sebuah pohon kering berdiri tegak kesepian di atas bukit itu. Ranting-rantingnya yang gundul adalah pusat romasa yang menjadi incaran utama lensaku. Kupakai teknik inframerah dan hasilnya bagus sekali.

Pemuda Dani itu berjalan di depanku, kupotret candid dia dari belakang dan kudapatkan satu foto menarik lagi.

***

 

Hari yang terik di sebuah perkampungan adat, tetapi amat teduh oleh pepohonan hutan yang menjulang bak payung raksasa di angkasa.

Aku berjalan melintasi beberapa naosa – wanita Dani yang menggendong anak. Mereka hanya mengenakan jerami dan serat-serat kayu sebagai busana. Para naosa juga mengenakan topi yang terbuat dari bulu cendrawsih berwarna merah, ada pula memakai noken – sebuah tas tradisional yang digantung di kepala. Semuanya tampak senang saat aku memotret mereka. Sebagian ada yang melukis tubuh mereka dengan bintik-bintik putih. Aksesoris yang dikenakan masyarakat Dani bentuknya beragam. Tidak ada makna khusus dalam perbedaan kostum ataupun aksesoris. Semua itu murni hasil kreativitas.

Aku mematikan kamera dan membiarkannya tergantung di leher. Harus berhemat. Ini sudah baterai ke-enam. Tidak ada listrik di sini. Kehidupan belum terkontaminasi teknologi. Kurasa waktupun berhenti sekarang.

Mataku menangkap bayangan teman-temanku, mereka berada di antara sekelompok pria Dani. Aku berjalan mendekat. Bli Yoga berseru begitu menangkap bayanganku. Mereka sepertinya kesal karena aku menghilang sejak pagi. Tapi siapa peduli. Perhatianku mengedari sekeliling. Tersadar bahwa semua pria dan wanita Dani memakai kostum lengkap. Oh... akan ada sebuah upacara adat sebentar lagi.

Perhatianku jatuh pada rerumputan seperti alang-alang yang disusun sedemikian rupa di atas tanah. Membentuk sebuah lingkaran yang agak cekung di tengahnya. Di tempat lain beberapa pemuda Dani tampak membuat sebuah tungku besar, dan salah satu yang membuatku berhenti melangkah adalah seorang naosa yang sedang meniup jerami di tangannya, perlahan jerami itu berasap dan mulai terbakar.

Aku terlambat melihat cara mereka membuat api. Tapi kuharap Bli Yoga sempat merekamnya. Aku kembali bergerak, menembus lalu lalang manusia yang lebih layak dikatakan telanjang. Beberapa naosa lain tampak berdiri di dekat pintu rumah mereka (Hanoi) sedang menanti pertunjukan. Noken mereka berisi umbi-umbian dan ada juga yang berisi rerumputan. Telingaku penuh dengan seruan yang tak kumengerti, sepertinya itu bukan sekedar seruan, menurutku mereka sedang bernyanyi sekarang.

"Are you okay, Valter?" Brian bertanya dengan logat baratnya. Mengejek. "Udah sampai mana jalan-jalannya, Valter? Johnson bilang dia nemuin kamu di Looove Hill..."

"Namanya Johnson?" Aku tak dapat menahan cengiran. Kuabaikan dia dan segera menghidupkan kamera. Aku harus dapatkan momen dua orang pemuda Dani yang membawa paksa seekor babi dari Wamai.

"Hey, whatca got in Love Hill?" Brian tak ada puasnya mengejekku.

"...a peace." Jawabku.

Bli Rama yang berdiri di samping Brian mengekeh. Brian menambahi lagi agar pendengarnya makin terhibur. "Aku pikir kamu diam-diam kencan dengan mama."

David tertular tawa mereka.

"Upacara apa ini?" Tanyaku menghampiri Bli Yoga yang sedang merekam dengan kameranya. Aku tidak bermaksud untuk mengganggu konsentrasinya.

"Panggang batu," jawabnya singkat dan berlalu mencari tempat yang sempurna untuk mengambil rekaman.

Aku menoleh ke kiri, menemukan David menelan ludah dengan wajah tidak tertarik. Dia lalu melirikku seperti ingin mengatakan sesuatu, kemudian dia juga melirik Brian dan Bli Rama di belakang kami. "Persediaan mie instant kita masih ada, kan?” David membisik. "Matilah kita kalau tidak ada."

"Emang kenapa?"

"Gue nggak makan babi. Tapi gue harus makan siang."

Aku menyeringai. "Ada banyak ubi rambat dalam noken mama."

Sorak menyentak, menarik mata kami terfokus pada babi yang menggelinjang di lengan-lengan yang ingin melumpuhkannya.

"Gue nggak bisa makan ubi rambat. Ya, semoga aja mie instant belum habis, atau kita harus berurusan sama ayam hutan kepala suku."

Tawaku tenggelam dalam orkestra pesta panggang batu ini. David menatapku jengkel, namun kami belum beranjak pergi. Masih menikmati detail pekerjaan yang dilakukan seluruh anggota masyarakat suku Dani. Ini adalah pertunjukan gotong royong yang memukau. Ada yang memanaskan batu di tungku. Ada yang menyiapkan tempat memasak dari rumput. Ada yang bernyanyi, memberi semangat bagi yang sedang bekerja. Anak-anak bermain dan menari-nari. Ada yang mengumpulkan umbi-umbian. Namun, bagian pengeksekusian sang babi tangguh itu adalah yang paling ditunggu.

"Wa. Wa. Wa. Wa. Wa. . ." Brian dan Bli Rama mencoba mengikuti senandung itu dengan suara pelan. Lalu mereka tertawa konyol.

Seorang kepala suku di kampung adat ini berjalan gagah menuju ke tengah kerumunan warganya. Disusul seluruh warga yang serentak merapat ke jalan. Kami berlima berdiri berjarak. Brian dengan Bli Rama, aku bersama David, dan Bli Yoga berdiri menyendiri, merekam layaknya seorang kameramen handal. Kepala suku bertubuh kurus dan pendek itu memakai topi bulu cendrawasih kuning, koteka yang dipakainya memanjang dan sedikit mencuat bak kail pancing. David menjelaskan padaku, koteka tersebut adalah koteka khusus yang hanya dipakai dalam upacara adat.  

Kepala suku menghimpun warga dengan bahasa mereka, kami mendengarkan pidatonya seolah-olah mengerti. Lalu David yang berada di kananku berbisik.

"Yang mereka bawa itu..." David menunjuk malas dengan muncungnya pada seekor babi hitam yang sejak tadi menjadi pusat perhatian. "Itu babi si Brian."

Aku melirik Brian, wajahnya sangat antusias. Kini aku tahu maksud pemuda Dani dan yang berseru-seru wa-wa-wa padaku. Dia memberitahuku akan makan besar ini. Sama halnya dengan yang diserukan Brian, Bli Rama dan seluruh anggota masyarakat sekarang.

“Wamai?"

“Kandang babi.”

“Wam?”

“Babi.”

“Wamena?”

“Babi jinak.”

"Wa. Wa. Wa. Wa. Wa. . .?"

"Selamat berpesta..." David berbisik dengan senyum geli di wajahnya. Kemudian matanya teralih ke kameraku. Ia men-display foto-foto yang baru kuambil. Membesarkan gambar para naosa yang menggendong putri-putri mereka. Senyum David berubah miring. "Ah, andai cewek-cewek di kampus sepurba mama-mama ini." David terkekeh. "Nanti lo ikutan makan nggak?"

"Ikutlah!" Kurampas kameraku dari David. Beranjak lebih dekat ke prosesi, mencari angle terbaik untuk momen tersebut.

Dua pemuda itu masih berdiri di tengah kerumunan, masing-masing memegangi kaki depan dan belakang babi yang sudah takluk. Kepala suku bersiap dengan busur dan anak panahnya, berdiri dengan jarak dua meter dari babi. Anak-anak yang tadi bermain kini hening merapat di dekat rok jerami ibu-ibu mereka. Kepala suku dengan percaya diri menarik busur, lantas melepaskannya di tengah sorak. Anak panahnya tepat mengenai perut samping babi yang seketika dilepaskan dan dibiarkan menggelepar di tanah.

Sorak masih memekaki telingaku. Pesta dimulai. Brian tampak bahagia sekali. Aku langsung menarik diri, mundur dari kerumunan dan memperhatikan semua hasil jepretanku. Ah! Missed di mana-mana!

***

 

Aku tidak ingin menghitung berapa uang yang dia habiskannya selama kami berada di sini, karena selanjutnya Brian mendapat kesempatan menggunakan busur dan panah untuk mengeksekusi babi kedua. Dia menuntut kesempurnaan dari momen penting itu. Sebagai bawahan yang baik, kewajibanku bekerja keras untuk memenuhi ekspektasi bos. Dia berdiri dengan busur dan anak panah, sengaja berpose seperti patung Hercules si Pemanah karya Antoine Bourdelle. Setelah itu baterai ke-enamku habis total. Aku tak dapat momen lagi, ditambah David lemas dan mual melihat proses kreatif masyarakat suku Dani dalam memasak babi. Jadi aku harus menemaninya menjauh dari kerumunan. Memastikan dia pingsan di tempat yang tepat agar tidak terinjak-injak selebrasi massa. Sayang sekali, kulewatkan acara itu. Tetapi Bli Yoga pasti bekerja keras merekam semuanya untukku.

Sementara mereka semua sedang makan siang dengan meriah, aku dan David hanya makan mie cup dan duduk menyudut di bawah sebuah pohon rindang. Kami berdua muslim, jadi kami tinggalkan pesta adat itu. Tepat setelah kami selesai makan, Bli Yoga datang dan melemparkan kameranya padaku. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya telah selesai dan sekarang dia ingin makan.

"Lo nggak mau nyoba?" Tanya David, wajah pasinya memudar.

"Coba apa?"

"Wam..."

Sengaja tidak kujawab agar dia terhibur. Aku mengambil kamera Bli Yoga dan memutar rekamannya. David tidak sudi ikut menonton rekaman itu. Kurasa perutnya masih bergejolak.

Dalam rekaman itu terlihat pria dan wanita yang bahu membahu memanaskan dan mengasap bongkahan-bongkahan batu di atas tungku. Batu-batu panas dari tungku lantas diserakkan di tengah-tengah lingkaran rumput alang-alang. Batu-batu tersebut kemudian ditutupi lagi oleh rumput, di atas rumput itu para naosa kemudian meletakkan umbi-umbian mereka.

"Jadi cara memasaknya... mereka buat selang-seling. Batu panas, rumput, umbi,, rumput, batu panas, rumput,, daging babi, rumput,, batu panas, rumput, dan... alang-alang yang jadi alasnya ditarik ke atas membungkus semua tumpukan itu. Terakhir ujung alang-alangnya mereka ikat dengan serat kayu."

"Gue udah tahu, thanks and enough." David menyahut sarkas.

"Sori gue lupa kalo lo mahasiswa antropologi UGM."

David menarik nafas panjang. "Sebentar lagi gue bakal jadi alumni. Sepulang dari sini gue bakal balik ke Jogja buat nyelesain semuanya."

"Berapa lama?"

"Ya. Bentar aja. Bedewe, jangan bilang ke Brian sebelum gue yang bilang sendiri, soalnya gue juga nggak mau dia nyari kurator lain. Yang pasti gue bakal cari orang buat gantikan kerjaan gue, sementara."

"Siapa yang bakal lo rekomendasikan ke dia?"

Dia berdecak. "Ada temen gue. Namanya Sagitta."

***

 

Malam terakhir di Wamena terasa dingin menusuk. Setelah seharian terik hingga selepas senja yang indah, awan kelabu menutup bintang di langit, digiring angin kencang yang menghempas alam liar di balik atap jerami di atas kepalaku. Kami berlima terpaksa meninggalkan tenda dan bermalam di salah satu Hanoi milik kepala suku.

Hanoi adalah rumah yang sangat sederhana, baik arsiterktur, maupun material bangunannya. Dindingnya terbuat dari kayu besi yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Atapnya tidak terlalu tinggi, melengkung bagai kubah dan terbuat dari jerami dan rumbia. Hanoi ini jika dilihat dari luar akan tampak seperti rumah jamur, tidak memiliki jendela sama sekali karena fungsi utamanya adalah tameng udara dingin.

Pria Dani yang menemani kami mengusulkan untuk menyalakan perapian, tapi kami semua menolak serentak. Aku punya masalah serius dengan saluran pernafasan. Jelas saja seisi Hanoi ini akan hangat dan penuh asap jika perapian dinyalakan, tak ada jendela untuk sirkulasi udara, aku pun tewas dalam lima belas menit.

 Kami tidur beralas tikar, sementara dua pemuda Dani yang cukup mengerti bahasa Indonesia - yang menjadi pemandu kami - mereka tidur di atas jerami-jerami kering. Kuberikan selimutku pada mereka sebagai rasa terimakasih karena tidak menyalakan perapian, mereka menerimanya dengan senang dan segera membalut tubuh telanjang mereka dalam satu selimut.

"Nggak lucu melihat mereka bergelung dalam satu selimut," Brian memberikan selimutnya juga. Jadi dua pria Dani itu mendapat masing-masing satu selimut. "Hari ini aku senang. Tempat ini telah mencerahkan hati dan pikiranku."

Brian benar. Empat hari berada di sini bagaikan sedang melakukan meditasi rohani. Di sini aku merasa benar-benar merindukan rumah, mendapatkan foto-foto dan petualangan yang luar biasa. Brian mendapatkan pengalaman pertamanya memanah babi dan mengajari para naosa menari salsa. Bli Yoga mendapat film dokumenter petualangan impiannya. Bli Rama mendapat banyak daging babi siang tadi, sementara David nyenyak bersama materi penelitian skripsinya yang sudah lengkap.

Siang tadi setelah pesta panggang batu, kami bergerak ke kampung sebelah, masih di Distrik Kurulu. Kampung Aikima adalah destinasi wajib yang harus kami kunjungi sebelum pulang ke Bali. Kami menyebrangi Sungai Baliem melalui jembatan Aikima untuk mendapatkan jalan menuju rumah mumi Aikima. Jalan-jalannya begitu indah membelah hutan dengan bunga-bunga liar berwarna kuning tumbuh di sepanjang tepinya. Di sana kami melihat mumi kepala suku besar yang pernah menguasai Lembah Baliem. Mumi tersebut hitam legam dan memakai kostum sukunya. Dengan kamera Bli Yoga, aku mendapat foto bagus tokoh besar Wamena tersebut. Werupak Elosak, namanya.

 "Harusnya kau bawa banyak baterai cadangan," katanya, mengambil kamera Bli Yoga. Brian lalu menyalakan dan memotret dua pemandu kami yang mulai terlelap dalam hangat selimut. Hujan dan angin masih ricuh di luar. "Jelek..." Gumamnya pada hasil fotonya. Dia mengembalikan Canon EOS 1D X itu padaku. Giliranku menekan shutter button.

"Aku selalu suka sudut-sudut tajam di fotomu." Komentarnya pada foto yang baru kuambil. "Papa sudah lama setuju dengan proposal acara pameran fotomu. Mau itu di hotel ataupun galeri. Karya-karya ini punya potensi yang bisa memberimu status profesional."

Sekejap aku teringat bagaimana sekelompok orang Dani menari di padang rumput sekembalinya kami dari kampung Aikima tadi sore. Mereka menyambut kami dengan tarian perang yang dipicu oleh drama penculikan isteri seorang Dani oleh suku Yali. Mereka menari dengan tombak dan busur. Ada juga yang membawa benda seperti kemoceng yang terbuat dari bulu-bulu burung. Mereka menari memecahkan diri menjadi dua kelompok yang berganti-gantian menyerang. Sama halnya dengan kata-kata Brian yang kini menari-nari di kepalaku. Menyerangku. Membuat pikiranku terpecah-pecah.

Sekarang rasanya aku menginginkan hujan menyiram kepalaku. "Brian. Aku belum mendapatkan masterpiece-ku."

"Masterpiece seperti apa?" Brian tersenyum mengejek. "Who's that bitch?"

Aku menggeleng. “No. She’s a princess.”

Brian terdiam sejenak. "Tell me whenever you will. I understand how it feels." Brian meremas rambutnya dan memaki dalam bahasa ibunya. Ia mengerang kesal. "So I, same with you. I'm fallin' love with... Well. I hope, not with a same princess. Anyway where is she?"

"I don't know."

Wajah Brian seperti membayangkan seseorang dalam pikirannya. Mungkin kekasihnya. Entah siapa. Dia pun tak pernah menceritakannya padaku. Saat hujan mereda, kantukku pun datang.

***

 

"Wa. Wa. Wa. Wa. Wa. Wa. . ."

Mungkin itu adalah seruan terakhir yang kudengar dari sekelompok Suku Dani yang menampung kami selama lima hari di kampung kecil nan indah ini. Seruan itu diawali dari kepala suku, lantas diikuti oleh yang lainnnya. Mereka berseru sebagai ungkapan terima kasih atas tanda mata dan kenang-kenangan dari Brian. Sekotak rokok. Penduduk kampung ini sangat suka rokok dan tentu saja, babi.

"Ini bagus..." Pujiku pada seorang naosa yang berhasil membuatku terpikat pada kalung buatannya. Aku dan mama muda itu bertatapan dan saling tersenyum sejenak.

Penduduk kampung biasanya menggelar stan untuk menjual aksesoris buatan mereka sendiri sebelum turis bergegas pulang. Aku membeli sebuah kalung yang terbuat dari serat kayu, berwarna coklat dan merah. Mainan kalung itu adalah sebuah blackjade--batu hitam tak tembus cahaya yang melekat dalam anyaman simpul yang rumit. Unik dari yang lain. Aku juga membeli beberapa gelang.

"Siapa nama kamu? Nama?" Tanyaku pada naosa itu.

Ternyata dia mengerti Bahasa Indonesia. "Ayesa. Saya Ayesa."

"Fata." Aku menjulurkan tanganku dan kami berjabat tangan. "Ini kalung yang cantik."

Naosa itu tersenyum. "Terima kasih, Fata. . ."

Kami meninggalkan Lembah Baliem dan berkendara dengan jip menuju bandara Wamena, sampai di sana kami naik pesawat kecil dan transit di bandara Jayapura. Matahari siang itu terik dan langit biru sebiru-birunya. Langkah terakhirku di tanah Papua ini sudah putus begitu aku menjejakkan kaki dalam pesawat.

Begitu mendapatkan tempat duduk, letih selama dua minggu mendaki dan bertamasya di Raja Ampat, dan Wamena seakan keluar seluruhnya dan menekan kepalaku. Mataku berangsur berat secara konstan. Aku sendiri di sini, di dekat jendela yang menampakkan sebagian kehijauan di tanah ini. Tempat duduk kami berlima terpencar-pencar. Aku tertidur... entah berapa lama aku tertidur. Saat aku bangun, kulirik laki-laki di sampingku, dia menatapku.

"Hey." Sapanya.

Aku terdiam. Mata laki-laki itu menatapku begitu serius. Rasanya tidak asing. Wajah laki-laki itu tidak asing.

"Wajah lo nggak asing. Mirip teman lama gue." Katanya lagi, mencetuskan dugaan yang sama denganku.

Aku masih diam. Memperhatikan balik wajahnya sementara otakku bekerja keras, berusaha mendeteksi wajahnya dengan jutaan wajah yang pernah kutemui. "Ya, lo juga kelihatan nggak asing." Kataku setelah sekian lama berpikir.

"Fatahillah?!" Suara laki-laki itu meninggi. Ini bukan pertama kali aku terkejut mendengar namaku sendiri keluar dari mulut orang asing. "Fata?"

"Ya." Jawabku ketus. "Lo?"

Laki-laki itu tertawa amat kencang dan kampungan hingga menyita perhatian penumpang lain. "Masa lo nggak ngenali gue sih?" Tanyanya. Ia membuka sedikit jaket parasut hitamnya. Tampak sebuah seragam polisi dengan pangkat Perwira IPDA.

"Sial!" Gerutunya. "Lo benar-benar ngelupain gue, Fata."

Polisi? Kubaca tulisan yang tertera di bagde namanya. Benar. Dia orang yang sama dengan yang muncul dalam ingatanku. Tapi masa? Seingatku dia dulu berkulit putih, sering facial dan perawatan, agak melambai, bukan coklat terbakar dan sangar begini.

***

Selanjutnya > Matur Suksma


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Walau minim konflik serius, tulisan ini sangat apik berkat beberapa aspek. Tulisan milik Rizkika Mahzura Aurora ini menggambarkan setiap lokasi yang menjadi latar tempat secara detil sehingga pembaca mendapat suguhan imajinasi yang cukup nyata. Kita bisa membayangkan eksotisme tanah Papua, terutama puncak Carstenz, dalam karya ini.

    Penulis juga cakap menjelajahi budaya setempat, interaksi dengan warga Papua dimunculkan secara pas. Ini semua menjadikan karya ini kaya. Membutuhkan pembelajaran yang dalam guna mendukung fiksi sehingga menjadi karya oke seperti ini. Dialog yang renyah, bersahaja dan kadang kocak membuat karya ini sangat asyik dibaca.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    9 bulan yang lalu.
    Suka baca cerpen ini ....
    Gaya penuturannya asyik dan deskriptif, membuat saya merasa seolah-olah ada di sana ....

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    9 bulan yang lalu.
    Hai, kak. Saran aja mending font tulisanya jangan di bold. Dibuat normal aja biar enak dibaca pas di gadget