Retrospeksi

Rizkika Mahzura Aurora
Karya Rizkika Mahzura Aurora Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Oktober 2016
Retrospeksi

 
Ini adalah tulisan yang kutulis dalam bahasa ibuku. Tapi aku berharap ibuku tidak sampai membaca omong kosong ini. Ibuku tidak perlu tahu dan menjadi bingung memikirkannya, memikirkanku yang selalu memikirkan....
Entahlah.
Entah siapa aku, kau, dan mereka dalam periode ini. Aku bukanlah satu dari miliaran kosakata yang pernah singgah dalam inkarnasi yang dapat terverbal, bukan juga bagian dari segelintir morfem dalam kajian ketat linguistik. Namun sudah jelas aku adalah retorika yang tak ada habisnya. Siapa aku dan apa tujuan penciptaanku? Jawaban yang paling meyakinkan hanya ada dalam kitab suci. Aku bukanlah seorang pemikir serius, aku hanya sering duduk merenungi pengetahuanku yang belum sampai setetes dan luasnya samudera pengetahuan-Nya.
Mungkin aku harus berhenti memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tak tersedia di dimensi fana ini. Mungkin aku hanya harus menjalaninya seperti yang diutarakan Shakespeare "dunia adalah panggung sandiwara" di mana aku harus mengikuti skenario-Nya. Seperti itukah? Apakah skenario kehidupan ini mutlak? Jawabannya adalah ya dan tidak. Ada dua jenis skenario. Takdir yang merupakan kontrak yang tak bisa diubah dan nasib yang bisa diubah. Aktor hanya bisa mengubah nasibnya, bukan takdirnya. Jelas di sini aku harus memenuhi ekspektasi-Nya yang telah terfirman, jika ingin tetap berada di jalan yang tidak menentang. Baik buruknya skenario nasibku, itu semua berasal dari diriku sendiri, usahaku, permohonanku, dan sedikit campur tangan-Nya yang ingin menguji kesetiaanku. Itulah yang kini kupercaya dan kupahami dari pengetahuanku yang belum sampai setetes.
Rasanya tidak ada alasan untuk menjadi sombong atas semua yang serba cacat. Semesta ini adalah pemberian, apa yang dimiliki manusia hanyalah pinjaman. Lalu apa yang  kumiliki yang benar-benar milikku saja? Hanya ada satu yang benar-benar kumiliki, yaitu Penciptaku. Dia memberi jiwaku tubuh untuk merasai kehidupan di Bumi. Kemudian di tubuh itu Dia meletakkan akal untuk berpikir di tempat tertinggi. Dia juga memberiku ruang emosi di dalam dada di mana nurani berdomisili. Terakhir Dia memberiku rasa lapar di perut dan kemaluan. Jadi urutannya sudah jelas! Hiduplah dengan menjaga urutannya dan tempatkanlah pada tempat yang seharusnya. Gunakanlah bagian-bagian itu dengan baik, pantas, dan  seimbang. Semoga Dia memberiku pencerahan dan menjauhkanku dari kesesatan lakon di panggung dunia ini.
Siapakah aku? Siapakah kau? Apakah ada yang lebih spesifik dari hanya menjadi seorang manusia di antara para manusia? Apakah dunia ini hanya terdiri dari Tuhan dan Hamba? Apakah hidup ini hanyalah kajian tentang kebaikan dan keburukan? Dan perlukah aku memaksa Tuhan untuk memberitahuku jawabannya? Atau haruskah aku menyerah dan berhenti mencari dengan bantuan sebongkah otak kecil? Mungkin jalan filsuf bukanlan jalanku, tetapi yang benar-benar milikku tidak akan meninggalkanku dalam kegelapan ataupun mencampakkanku dalam ketidakberdayaan.
Dengan mempelajari sifat-sifat-Nya, sekarang aku mengerti mengapa tidak bisa menggantungkan asa selain pada-Nya. Inteligensi manusia dan kesombongannya akan binasa dengan satu kata saja. Cinta yang berlebihan pada selain dari pada-Nya akan merusak dan berakhir tragis. Ketidakmampuan mengendalikan rasa lapar juga akan berakhir dengan kehinaan. Lalu siapa yang akan selamat pada akhirnya?
Aku bahkan tidak benar-benar kenal siapa diriku, masih mencari dan mencari. 
 
 

  • view 150