#KurinduITD - Harapan Lengsernya Intoleransi itu Masih Ada

Mahmudin adot
Karya Mahmudin adot Kategori Agama
dipublikasikan 22 Maret 2017
#KurinduITD - Harapan Lengsernya Intoleransi itu Masih Ada

Apakah diskriminasi atas perbedaan akan benar-benar pupus di bumi ini?

Bila melihat eskalasinya, diskriminasi yang berujung tindakan anarki masih sering kita jumpai. Dalam laporan tahunan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 2016, Komnas HAM mencatat setidaknya ada 97 pengaduan kebebasan beragama dan berkeyakinan berdasarkan isu. Isu/permasalahan yang paling sering dilaporkan adalah masalah pembatasan/pelarangan/pengrusakan tempat ibadah sebanyak 44 pengaduan. Di posisi ke dua pelarangan ibadah dan kegiatan keagamaan menjadi permasalahan yang juga sering diadukan dengan total 19 pengaduan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah adanya pelaporan atas ancaman/intimidasi kelompok keagamaan dengan total 12 pengaduan, dan kasus-kasus lainnya yang juga dilaporkan.

Namun masalah diskriminasi terkait agama dan kepercayaan tidak kunjung selesai di negeri ini. Padalah instrumen HAM terkait dengan Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik telah diratifikasi menjadi Undang-undang Republik Indonesia No. 12 tahun 2005.

Dengan adanya payung hukum yang kuat seharusnya negara mampu menekan pelanggaran atas kebebasan beragama dan berkeyakinan, namun faktanya pelanggaran tersebut masih sering kita jumpai. Sebagai contoh misalnya kasus yang menimpa jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia Bekasi yang hampir 14 tahun tidak kunjung menemui jalan keluar. Hampir disetiap kebaktian jemaat HKBP di Bekasi selalu mendapatkan intimidasi. Setali tiga uang dengan kasus HKBP Filadelfia, kasus Jemaat Yasmin, Bogor juga mendapatkan perlakuan yang sama. Dalam konteks ini, negara seolah absen untuk menyelesikan masalah-masalah tersebut.

Sebagai negara hukum, idealnya negara menjadikan hukum sebagai panglima, namun praktiknya supremasi hukum itu sulit untuk ditegakan, bila negara berhadapan dengan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan mayoritas di negeri ini. Supremasi hukum seolah tumpul dan lemah dalam memberikan keadilan bagi kelompok-kelompok yang lemah.

Di sisi lain, saya masih melihat adanya kelompok-kelompok yang terus memperjuangkan penghargaan atas keberagaman di Indonesia. Masih banyak ormas keagamaan yang toleran dan mampu hidup berdampingan. Saya yakin masalah intoleransi atas dasar agama lambat laun akan semakin menurun ketika kelompok-kelompok toleran ini bersatu dan bergandengan tangan saling merangkul dan menguatkan.

Bagaimana pun manusia itu mahluk sosial yang selalu berevolusi menyesuaikan dengan kondisi dan tantangan zaman. Saya jadi teringat sebuah bait puisi dari Denny JA yang berjudul; Anak Tetangga Itu LGBT;

Segala diskriminasi
Akan hilang ditelan bumi
Diskriminasi kulit hitam
Diskriminasi wanita
Diskriminasi agama
Menghilang sudah
Diskriminasi LGBT
Akan pula bernasib sama
Ini masalah waktu sahaja

Puisi ini menyiratkan sebuah perjalanan evolusi terhadap penerimaan perbedaan. Bait itu tidak hadir di ruang hampa namun refleksi atas fakta-fakta sejarah yang mampu merayakan perbedaan dalam konteks apa pun, dan itu semua adalah fakta.
Saya yakin suatu saat nanti kita semua juga bisa merayakan perbedaan di Indonesia setelah sama-sama melalui proses pendewasaan dalam beragama.

  • view 17