CAFE TERAPUNG DAN YANG ITU

Moh Mahfud
Karya Moh Mahfud Kategori Puisi
dipublikasikan 24 November 2016
CAFE TERAPUNG DAN YANG ITU

 

- Amah

 

Hampir sore, kita duduk berhadap-hadapan, memesan dua gelas kopi hangat

Memandangi hamparan sungai dengan jembatan yang mulai ngantuk warnanya

Lalu, lampu-lampu serasa menyala disela kedip matamu

Anak kecil yang biasa bermain petak umpet dibangku-bangku cafe tertidur,

Menyelipkan mimpinya disela-sela bantal mungil milik kakaknya.

Padahal sore masih muda, jalan-jalan sekitar Kapuas masih ramai

Berpasang kekasih masih bertukar kado memperingati hari jadian mereka

Tapi camar telah tidur, semut merah telah tidur

Singa yang biasa menggaung menghibur para pengunjung juga telah tidur

Tapi matamu serupa pasar malam yang tabah menghiburku sepanjang malam

 

 

Dan di cafe terapung itu, sayang

Sungai-sungai serasa kering. Anak-anak ikan yang memandangi kita sejak tadi

Melompat 1000 kaki, berkumpul dilangit dan membikin hujan dari bening sisiknya.

Perahu-perahu juga telah kehilangan ayunan ombak dan dermaga begitu hambar

Seorang anak muda yang biasa menjual pentol juga telah mematikan kompornya

Sedangkan kau dan aku yang sejak tadi duduk berhadap-hadapan

Seperti kekasih paling romantis sejagat

Orang menatap kita tanpa apa

Sementara dimatamu, bagiku, banyak harapan soal hari depan

Mungkin, jika kelak kita punya rumah di lereng gunung

Kupasangi ayunan serupa alismu

Halaman ditanami lentik bulu matamu

Juga dinding warna putih serupa kulitmu, duh, gadisku.

 

 

Pada jam 19 Wita, kita sama-sama bersepakat melanjutkan perjalanan

Yang entah kapan sampai kepelaminan. Duh, gusti.

 

 

Balangan 2016

  • view 141