Sarkasme Dan Hatespeech

Mahendra Gunawan
Karya Mahendra Gunawan Kategori Renungan
dipublikasikan 30 November 2017
Sarkasme Dan Hatespeech

Sarkasme adalah salah satu Majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan Marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang. Dalam Bahasa Indonesia, arti sarkasme berbeda dari kepercayaan banyak orang bahwa sarkasme berarti penyindiran yang menggunakan kata yang terbalik dari maksudnya, seperti Ironi.
Bahkan Banyak Orang Mengkritik Dengan Unsur Majas Sarkasme.
 
Menarik Ketika Sarkasme ini Di Kaitkan Dengan UU Ujaran Kebencian (HateSpeech). Beberapa Poin Di Sini adalah Marah,Sedih Dan Benci atau Kebencian.
Bunyinya ialah Kebencian itu Selalu Berunsur Marah. Ya, Dalam Logika Benci Itu Terunsur Manis Dengan Marah Dan Sedih.
Lalu Apakah Sarkasme ini Selalu Harus Di Kategorikan Sebagai HateSpeech ?
 
Sesuai Penjelasan Di Atas,Sarkasme atau Sarkastik itu Berbait Sindirian Namun Dengan Bahasa Yang Kasar Dan Menyakiti.
contoh :
1.Jadi koruptor banyak hartanya, kasian hidupnya lebih banyak di penjara.
2.Siapapun Yang Membela Koruptor, Mereka Adalah Saudara Terbaik Tikus
 
Tentang Hatespeech, Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,Pasal 28 ayat (2) dan Jo Pasal 45 merupakan ketentuan yang mulai digunakan dalam kasus-kasus penyebaran kebencian berbasis SARA. Walaupun ada ketentuan pidana dalam KUHP dan UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (UU Diskriminasi Rasial), namun pasal-pasal dalam UU ITE jauh lebih mudah digunakan terkait Penyebar kebencian berbasis SARA di dunia maya. 
 
Bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut:
 
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
 
Noted : Jika Pembaca Belum Paham, Scrooll lagi Ke atas.
 
Sudah Paham ?Apakah Pembaca Paham Dan Bisa Menemukan Unsur Suku, Ras atau Sara dalam Ucapan Sarkasme ?
Jika Logika Dan Nalarmu Terbuka, Tidak ada Sama Sekali dalam Sarkastik Unsur-Unsur yang Memenuhi UU ITE tentang Ujaran kebencian tersebut.
pada Dasarnya, Sarkasme ini Adalah Masalah Nurani,Mentalitas Serta Cara Berfikir.
Objektifitas Sangat Penting Dalam Memaknai Dan melawan Sarkasme.
Tiap Masing-masing Orang Berbeda-Beda dalam Menghadapi Sarkasme, tentu kebanyakannya adalah Marah.
Tapi Jika Ujaran Sarkasme itu Harus Di Jerat Dengan UU ITE/KUHP, itu Ibarat Anak TK yang Berebut Mainan dan Lapor Pada Orang tuanya, Padahal Anak TK Tersebut Tidak Melakukan Kontak Fisik.
 
Coba bayangkan jika Sarkasme ada Dalam UU, Sudah Berapa Juta Orang yang seharusnya Sudah Di tangkap ?Mungkin Pembaca juga Pernah bahkan Sering Berujar Sarkasme Padahal Kalimat yang Di ucapkan atau Di tulis itu adalah Sindiran.
Maka Dengan ini Sarkasme Tidak Pernah ada Dalam UU tentang Ujaran Kebencian. Namun Bukan Berarti Pembaca Bebas Berujar. Gunakan Majas Tersebut Dengan Kata-Kata yang Lebih Dapat Membuat Orang yang Anda Sindir itu Merenung Dan Berfikir. Jika Orang Tersebut Tetap Marah dengan Satire yang Anda buat, maka Orang itu Tidak Paham Sarkasme Dan Tidak Pernah Mau Menjadi Orang Yang Belajar.
 
"Katakanlah Sejujur-jujurnya Walaupun itu Menyakitkan"
 
Semoga Bermanfaat

  • view 316