Kalau Kau Matahari

Kalau Kau Matahari

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juni 2018
Kalau Kau Matahari

Kalau kau matahari, maka kau adalah matahari pagi. Sinar yang tak terlalu diteriaki setiap pandang, pancaran yang tidak mengucurkan peluh dan keluh. Memberi aroma baru, kehidupan yang harus dimulai meski tak pernah satupun makhluk yang tahu akan akhir dari berjalanannya. Tetapi, selagi udaranya masih terhirup, harapan telah susun menyusun membelah langit dan membawa kita terbang. Aku ingin setiap harinya seperti itu: bertemu matahari pagi dan mendulang harapan. Terbawa cahayanya menyusuri lorong-lorong gelap menuju masa depan. Seperti tanpa ada kegelapan yang melambai ingin kembali direngkuh, hingga tubuh tak lagi utuh.

Barangkali, aku memang sudah tak tumbuh dengan hati sendiri. Yang sekarang kupegangi adalah hati tiruan yang sengaja ditanam menggantikan hati yang sudah porak poranda bentuknya. Kubiarkan dia terpekur sejenak di antara puing-puing yang membuatnya tak kunjung sembuh. Mungkin, kecintaanya pada dunia dengan pernak perniknya menuntunnya pada kehancuran abadi.

Lalu bagaimana aku? Kehidupan dengan hati tiruan, akarnya tak tajam menembus bumi dalam diri sehingga terembus angin sedikit robohlah singgasananya.

Lalu bagaimana aku? Bersikeras berhenti ketika matahari sudah siap membawa terik. Aku takut dari kedua muara di wajahku, leleh karena teriknya. Segala gelap himpun menghimpun menujuku kemudian menikamku hingga tak sadar beratus-ratus hari. Kalaupun aku siuman, aku bangun dengan segenap ketakutan.

"Mendekatlah," kata Pemberi Kehidupan. "Aku lebih dekat daripada aliran darahmu sendiri." Sang Pemberi Kehidupan yang tak pernah lekang waktunya membersamai meski kesadaranku untuk menemui-Nya perlu beratus-ratus kali dipertanyakan.

Kalau kau matahari, sinar yang kau bawa tidak pernah ada yang mampu mencurangi. Entah fajar atau terik, jarak antara keduanya diletakkan ladang yang ditanami tetumbuhan yang dapat dipanen di hari-hari keabadian. Begitupun jarak antara terik dan senja, tidak pernah ada waktu-waktu yang menguap begitu saja jika benar-benar dirakit untuk meneguk untaian kasih-Nya. Dan pada saat kau: matahariku, harus bergantian dengan bulan dalam menjaga langit. Pelukan-Nya semakin halus, suaranya lirih dalam sunyi yang memekikkan hampa menjadi rintih-rintih tangis yang terjawabi.

  • view 56