Gadis Penjual Gelang yang Terbunuh

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 14 September 2017
Gadis Penjual Gelang yang Terbunuh

Aku ini malam, Narindra. Coba dengar suaraku, sejauh mana nada heningku mendekap telinga yang ada di hatimu. Mungkin kau akan bertanya dari mana aku mengetahui bahwa hatimu memiliki telinga? Cukup aku katakan bahwa hatimu tak bermata saja, hatimu dapat mendengar, ‘kan Narindra?

Narindra, Senja selalu tergopoh-gopoh berlarian kepadaku hanya untuk mengabarkan bahwa kau butuh aku. Karena bagimu aku ini berarti sepi. Mulut yang bisu, tidak menghasilkan nyaring suara yang mengganggumu. Dan yang bisu juga tuli. Telinga di kepalaku hanya hiasan, aku pura-pura mendengar sebagai kata-kata kiasan bahwa meskipun manusia mempunyai dua telinga ia masih terlalu menginginkan berbicara lebih banyak dan mengabaikan pendengaran meraba-raba pesan yang disampaikan seberang.

Selama ini, aku sama dengan kau. Mendengar menggunakan hati. Berbicara padamu pun dengan kata-kata hati. Juga dengan kehati-hatian sebab aku tahu kau tak cukup perlu emosi, yang kau butuhkan selain ekspresi yang tumpang tindih tanpa serat-serat saringan, kau sangat butuh solusi.

Aku dengar dari Senja, kau — seorang Narindra, manusia dengan dua sisi di jiwanya, telah membunuh gadis kecil yang menjajakan gelang. Gelang yang bisa membawamu terbang menyusuri hari-hari kelammu dan mengantarmu ke masa seperti yang tertuang dalam khayalanmu.

Narindra, aku tahu kau butuh nada heningku. Pertalian benang dalam telinga dan mulutmu cukup membesi, kokoh, dan terpilin teratur, sistematis. Dengan nada heningku, kau kecap nada-nada itu dengan sepi yang meraung-raung menuju gelap yang pekat saat bulan tengah bekerja menyinari.

Narindra, seharusnya kau mau bersabar dulu. Gadis kecil itu adalah dirimu sendiri, di sisi lain. Beralaskan agar kau hanya berjuang untuk hidup di hari ini tanpa utak atik masa lalu dan hari depan, kau menghalalkan darahnya untuk kau nikmati dalam secangkir minuman.

Kau lupa bahwa kau akan mati, Na?

Mati itu masa depanmu meski ia akan berjalan satu atau dua menit dari sekarang. Dan kau butuh segala-gala hidupmu, yang pernah kau mintakan pada-Nya untuk dimaafkan agar kau bisa hidup dalam lingkup bahagia selamanya.

Maafkan aku, Narindra, nada hening membuatmu tergenang air mata.

  • view 69