Kisah tak bernyawa yang tak akan dikubur.

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 September 2017
Kisah tak bernyawa yang tak akan dikubur.

11:48, 03 September 2017.

Seperti yang sudah sejak dahulu kala aku pahami, melukis lagi kisah-kisah lama menjadi candu yang kerap kali meremas-remas, menimbulkan seperti perasan kain basah–menimbulkan basah di sela jemari yang memeras lalu airnya aku kumpulkan dalam sebuah wadah emas. Berharga.

Lelaki itu mengajarkanku–meski tak disadarinya, dari percakapan ibu dengannya, ajaran yang membuatku sejenak meninggalkan igauanku tentang gilang gemilang hari depan. Terlampau sulit untuk meninggalkannya di tepi jalan. Sebab iba menjadi pandangan utuh pada kedua mataku. Lalu tanpa banyak kritikus batin yang membubuhkan komentarnya, ia ku angkut kembali dalam bayangku.

Lelaki itu memegang gelas yang berisi segelas air putih dan mengatakan pada ibu–yang percakapan itu didengar makhluk kerdil yaitu diriku;
Kisah-kisah lama yang usang, yang telah ditelan debu, menua digerogoti zaman dan manusia-manusia yang berlalu, harus selalu ditempatkan untuk mengisi kekosongan khayali pada hari depan. Sebagai tangga kesatu untuk memijak yang kedua. Agar angan tak sekadar ingin.

Meski terengah untuk sampai, untuk menemui hari-hari yang terimpikan namun tak berhasil seperti megahnya mimpi yang kubangun dalam malam-malam sunyi sendirian. Setitik cahaya datang membawa kepulan harapan, menjemput malam untuk berganti terang. Aku menunggu kapan berakhirnya kesunyian. Kemudian kupahami bahwa kesunyian adalah tubuhku, jiwa dan ragaku.

Kisah-kisah itu meskipun mati sebagai yang tak pernah kurasai seperti dahulu lagi, adanya tak pernah kukubur. Kubiarkan dia tetap ada meski nyawanya telah tercabut.

  • view 65