Kau yang Ku Sayang, yang Ku Pertahanakan

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Kau yang Ku Sayang, yang Ku Pertahanakan

Di salah satu bangunan pembentuk jiwaku memang ada kau. Terdapat kau yang berdiam di sana. Selama tahun-tahun usiaku berjalan, kau ku kurung dan menunggu waktu untuk kulepaskan.

Setiap saat, tanpa aku mau kau suka berontak. Menyalakan api dan ingin membakar setiap kubus-kubus ruang, bukan ruangmu. Tapi ruang lain. Kau ingin tetap hidup dalam tubuhku. Menginginkan sejauh dan selama mungkin menemaniku. Mengisi hari-hariku.

Aku tak pernah punya kuasa (atau mungkin tidak berani?) untuk membunuhmu, melihatmu mati dengan darah bercecer dan darah yang jantung malas memompanya. Lalu kuseret kau menuju pemakaman dan tak kukubur, dan tak berharap ada orang yang mau mengubur. Biar kau kubur tubuhmu sendiri. Bentuk kekesalanku padamu. 

Tapi tak kulakukan itu, senyummu selalu mengalahkanku. Merangkulku dengan kata-kata bahwa kita bisa berdamai satu sama lain. Menyusun hari-hari tenang. Menikmati pagi dan malam dengan menyadari pergantiannya adalah tanda kebesaran-Nya.

Kau selalu bisa mengajakku untuk menyusuri pedalamanmu yang lain. Sesuatu yang akan membuatku merasa bahwa kau satu-satunya ‘teman’ yang dapat kuandalkan untuk mendapatkan diriku sendiri. Kau temani aku dalam setiap waktu yang ingin kubekukan seketika dan kucairkan di saat-saat yang kusenangi saja. Kau ada, sebagai teman dan terkadang musuh sekaligus.

Kubangunkan sebuah bangunan agar kau tetap hidup di tubuhku. Memang kau menyakitiku, membakarku hidup-hidup–kadang. Menyerangku tanpa ampun, tak peduli bagaimana persahabatan kita dahulu. Namun kau tetap dapat menjadi sesuatu yang tak layak aku musnahkan, karena kau bagian dari diriku yang dapat memberiku gambaran dan ancang-ancang hari esok.

Kau merubah mataku dengan cara kau memandang setiap keinginanmu, kau juga menjaga aku agar tetap tinggal menjadi makhluk bumi berhati bumi dan berharap satu-satunya cita-cita adalah dikenal oleh-Nya sebagai manusia yang tahu diri, manusia baik-baik. 

Kau lukaku yang kusayang, yang kupertahankan.

  • view 237

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang sungguh dalam tentang perjalanan anak manusia yang sedang mencoba berdamai dengan luka, duka atau kecewa. Sebab menggunakan sudut pandang orang pertama maka karya ini bisa lebih terbaca personal dan mewakilkan perasaan banyak orang.

    Kunci bagusnya karya ini terletak pada pemilihan kata yang tepat yang mampu berbicara secara pas sesuai yang dialami oleh si narator. Plus lainnya si narator mencoba tetap sabar dan menganggap luka bagian penting dari hidupnya yang tetap ia hormati betapa pun tersiksanya ia saat ini. Bijak dan realistis, tulisan ini oke banget.