Cerita-cerita yang Runtuh

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Oktober 2016
Cerita-cerita yang Runtuh

Dalam sebuah cerita, yang aku saja sebagai pengarangnya tidak terlalu yakin apakah yang sudah terlanjur kutulis adalah kisah rekaan atau nyata. Aku membuat sekat antara kebenaran dan ketidakbenaran menjadi tidak benar-benar diadili sesuai yang seharusnya. Terdengar debat panjang antara anggota dan alat-alat dalam tubuhku yang kugunakan untuk hidup, yang satu menghadirkan sosok yang berusaha kusamarkan nama dan mungkin kisahnya menjadi lebih bijaksana, dan satu sudut lain, jantungku terlalu sakit untuk menganggung detak-detak kasar. 

Lalu apa yang lebih baik untuk kulakukan?

Sudah biasa, kan, mendengar ceritaku yang runtuh dan hancur sebelum kuperkuat dengan simbol-simbol bunyi yang kuabadikan dalam puluhan-puluhan kalimat, dalam buku catatanku sendiri. Diam yang kubahasakan menjadi anggukan paling cepat dan mantap saat diriku sendiri bertanya, “Apakah aku merindukanmu?” 

Pipiku mendanau dan cerita itu habis tanpa titik, atau tanda baca lain. Atau kalaupun telah bertitik, cerita itu hanya diisi penuh dengan luka-luka yang belum kering. Juga tak pernah bermaksud untuk mengusahakan sembuh secepatnya. Hal semacam ini, kusebut menikmati atau ketidaksanggupan? 

Kamu mengenalku sebagai seorang yang lemah dengan dosa membukit. Hanya itu saja. Dan apa yang patut kubanggakan? mungkin, yang patut kupamerkan adalah kesanggupanku menertawai diriku sendiri ketika mendapatimu berlari semakin jauh, terbang semakin tinggi, dan menghilang. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Akhir yang berisi senggukan-senggukan untuk segera tegap, tetapi sedetik tertunduk kembali.

Aku tunduk pada kesadaranku bahwa aku bodoh atau sangat bodoh. Cerita-cerita ini menyembuhkan namun cukup melukai. Bagaimana? Sekali lagi tidak perlu kau jawab segala ucap tanya dalam diriku. Cerita ini hanya niatan halus untuk mengingatkanku bahwa aku salah. Menyalahkan dengan kesalahan? Kebodohanku cukup akut, sepertinya, kenyataannya pun demikian.

Madiun, 20 Oktober 2016. Pagi hari. | M

  • view 217