Tumbuh

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Tumbuh

Kamu tahu bagaimana dikhianati perasaanmu sendiri? Kamu biarkan sebuah rasa dalam ruang - ruang hatimu tumbuh, mengakar, menguncup daun, dan berbunga. Tetapi buahnya ketika kau gigit kulit gadingnya, pahit itu masuk langsung melesap hingga tak juga terlepas dari pangkal lidah. Rasa bersalah lama - lama berubah menjadi jamur. Tumbuh dan berkembang sejalan sesuai waktu. Untuk memanen tiada daya untukmu mengambil kesempatan, juga katamu--dalam napasmu yang tersengal karena perasaan yang kau tulis begitu berlebihan-- tiada terampil tanganmu memanennya hingga kau yang terakhir kali memakannya, saat sedang matang-matangnya.

Lalu, di detik yang kunamai harus ada jarak antara harapan dan merelakan, ku tahu tentang betapa tidak mudahnya melupakan. Tidak sama dengan terlupa, tidak sama dengan pura-pura lupa. Sebab melupakan ialah usaha untuk menghapus apa yang sebenarnya tidak ingin dilupakan. Bukan begitu? Justru, obatnya adalah melepaskan.

Bagiku, melupakanmu adalah mengulang kembali kenangan meskipun berulangkali meniadakanmu dalam suatu usaha. Dan melepaskan sama saja dengan tancapan belati yang tercerabut dari dalam hati.

Jika kamu punya waktu, mungkin kamu punya niat untuk sebentar melihat bagaimana caramu menanam rasa dalam hati seseorang. Yang bukan di tubuhmu sendiri, yang rasamu teramat sulit dikenali, yang abu-abu, yang ragu-ragu. Aku ingatkan padamu bahwa kamu pernah merepotkan orang lain. Dan sayangnya, yang kau repotkan adalah aku. Tubuhku yang kau tanami sepenggal rasamu. Yang dingin. Yang berusaha kucairkan. Namun semakin beku, dan embunnya sampai pelupuk mataku.

Kemarilah, ku bukakan pintu agar kau bisa mengistilahkan jalan-jalan ini sebagai tafakur, meski yang akan terhampar di matamu adalah puing-puing yang berserakan. Karena baru saja terguyur ketidak berdayaan. Dan satu kali lagi, selain puing itu mungkin kau akan temui imanku yang koyak. Aku lemah dalam masalah ini.

Ada yang harus kutuntaskan sebelum tanaman ini kian merambat. Adalah perasaanku sendiri. Sebab memilikimu sepertinya bukan hakku dan mencarikan hatimu penyenang dan pendamai adalah kewajiban ragamu. Kurasa, aku tak cukup yakin berarti bagi hidupmu. Ke depan, jika kau benar bersama aku dalam satu ikatan, hidupmu akan semakin repot. Entah bagaimana nanti, ku yakin kau tidak akan betah dengan perempuan super perasa yang terus menangis ketika hatinya sedikit teriris. Aku tidak selapang yang kamu duga, lebih-lebih yang kamu inginkan.

Kuceritakan padamu lagi, hari ini hujan dan aku ingin menikmatinya. Dengan cara yang seperti anak kecil lakukan namun dengan tujuan seorang berpenyakit jiwa pikirkan. Berdiri atau duduk di bawah rintiknya. Terus berdamai dengan air dan gemuruh. Dinginnya menyuruhku menekuk lutu dan berharap kau datang meneduhiku dengan sebuah payung berwarna hitam tanpa corak. Kecuali isyarat untuk pergi dari situ sebab beku dalam beberapa menit bisa membunuhku. Aku sudah terlanjur basah yang ku tidak tahu basahnya dari hujan atau dari jatuhnya air mataku.

Payung hitam yang kau lingkar pada kelima jarimu, aku ingin itulah pertanda matinya perasaanku terutama pada yang kau bawa. Sebab terlalu sulit untuk terus hidup, untuk terus mengingat, dan untuk terus berusaha meniadakan. Aku ingin rasa itu mati saja, karena yang lupa bisa teringat kembali. Yang mati akan tetap mati.
Ini salahku, maka akulah yang seharusnya memelas belas kasihan agar kau memaafkanku. Namun seberapa hatimu ringan menerima segala maafku, aku tetap sulit menerima maaf untuk diriku sendiri.


---

Maafkan aku, pada momen terutama saat aku memaksamu untuk memahamiku. Karena kamu bukan aku, dan aku cukup tidak sanggup semenerima kamu. Dengan hangat mengatakan ini dan itu, menerima ini dan itu.

Madiun di suatu waktu dalam beberapa jeda. | M

  • view 175