Terhempas

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Oktober 2016
Terhempas

Kubaca lagi tulisanmu, Rania. Yang sengaja kau tulis di selembar kertas dan kau letakkan di hatiku secara cuma-cuma. Kau menginginkan sebuah keabadian nama di hatimu.

Sejak mengetahui daun gugur di hatiku, perlahan aku jatuh setengah lunglai. Aku harus pergi menghabiskan sisa hari. Waktu terasa begitu linu. Berat ku tahu, berat kupahami, berat kumengerti. Memang kamu sangat tidak terjangkau oleh tanganku. Sebab aku terlalu kaku oleh norma - norma yang kau jaga selalu dalam hidupmu. Kamu terlalu terjaga, sedang aku sibuk sehingga sukar memberi diriku sedikit nutrisi atas keterlambatan diriku mengetahui.

Aku tahu kau malu mengakui perasaanmu, Ra. Malu pada dirimu sendiri bahwa kau terikat rasa kepada seseorang yang entah kau yakini cukup pandai mendefinisikan cinta atau tidak. Menjadikanmu terjaga adalah cita - citamu, dan itulah yang diingini siapapun lelakimu. Tapi kamu sama seperti dulu, selalu malu-malu untuk sekadar menerima bahwa kamu sedang tersesat oleh rasa. Hingga kau sebegini tidak kubayangkan.

Dari surat itu aku tahu, mengapa kamu sedemikian tidak peduli tentang kebodohan dirimu saat ini. Lalu kau membuat rasa bersalahku semakin melebar. Aku tertarik dengan kata - katamu, yang kembali kutelan bahwa aku tidak pernah menemuimu sebegini jujur,

"Aku jauh terhempas, aku terhempas, lalu jatuh. Padamu. Pada ila. Maafkan Ra, ya, La."

Setelah surat itu kau luncurkan, dengan sedemikian deras anak - anak air mata yang jatuh pada gundukan pipimu, kau diam. Bersiap mengambil langkah dan berlari. aku tetap dengan kakuku tidak mengetahui mengapa kau jadi seperti ini, Ra. Antara bohong atau kamu sedang tidak waras. Hanya kernyitku di dahi yang menjawab setiap langkah kepergianmu. Lalu beberapa detik mengular baru aku tahu apa yang seharusnya kulangkahkan. Aku mengejarmu.

Aku mengejarmu dengan segenap pertanyaan, mengapa? Mengapa aku bersedia terengah-engah mengejarmu dengan semua maksudmu yang juga tak kutahu. Tidak ada sepatahmu nada - nada dengan untai kata seperti biasa kau bercanda padaku. Hanya surat ini dan air matamu. namun ternyata sulit untuk menafsirkannya sehingga aku tak paham aku harus bertindak sejantan apa.

---

"La, hei, ketiduran! ini laptopnya passwordnya apa ya? mau ngerjain tugas, batere habis, pinjem ya?"

---

Ra? Hanya mimpi.

  • view 212