Berharap

Maharlika Igarani
Karya Maharlika Igarani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 03 Agustus 2016
Berharap

20:57. 18 Juli 2016.

Cepat atau lambat, rasa kehilangan itu akan datang. Bisa saja menghujaniku deras bersama guntur dan petir, bisa juga hanya seperti gerimis kecil. Setelah aku tahu dan sadar betapa aku (pernah) berharap. Meskipun harapan itu tipis, dan meskipun seperti tidak mungkin, bukankah berharap itu menyenangkan? Seperti tidak peduli bahwa kapanpun, jika harapan itu tidak pada tempatnya dan tidak seharusnya, kebahagiaan yang aku cari akan terenggut dari hati.

Kau tahu, butuh banyak waktu dan jarak untuk pergi dari masa lalu. Dari harapan-harapanku yang buruk. Bersusah payah hengkang dari apapun yang mengantarkanku padanya. Melupakan setiap kejadian yang selalu berpura-pura terbengkalai, terlupakan, kenyataannya dia asik menari-nari di depan mata. Tetapi, hanya butuh beberapa detik untuk membuka tabir penghalang, hanya butuh sekedipan mata saja untuk kembali padanya.

Sekian belas hari, puluhan, ratusan, mungkin ribuan, menuju bulan dan tahun berganti, kau tahu, harapan itu semakin menipis. Bahkan lebih tipis dari benang sarang laba-laba. Lebih kecil dari lubang jarum atau pori-pori kulit. Tetapi entah mengapa setelah aku menyadari ketidak berdayaanku dan ke-Maha Kuasaan-Nya, mau tidak mau harapan itu tetap ada. Aku berharap, harapan itu tidak jauh-jauh dari-Nya.

Ada yang berkata, berharap kepada selain-Nya akan menimbulkan malapetaka. Kepedihan itu malapetaka, bukan? Kuanggap, aku sudah cukup umur untuk mengerti-Nya, ya, meskipun sepertinya sudah terlanjur terlambat. Bahkan Dia tak butuh untuk dimengerti. Hanya aku harus mengerti, ke mana arah hatiku kuhadapkan?

Dan, akupun tak mengerti arah masa depan ini.

  • view 220